Apa yang Lebih Berbahaya dan Sulit Dihentikan dari Kecanduan Narkoba? Psikolog: Pornografi!

Vessy Frizona, Jurnalis · Selasa 12 September 2017 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 12 196 1774488 apa-yang-lebih-berbahaya-dan-sulit-dihentikan-dari-kecanduan-narkoba-psikolog-pornografi-2ZVZV4FsKk.jpg Foto: indiansherlock

Dampak pornografi menyebabkan kecanduan sehingga sulit berhenti. Perlu usaha berhenti, karena pornografi dapat merusak pikiran.


Pada 6 Mei 2017, Conan O'Brien, seorang pembawa acara televisi di Inggris sempat memancing kemarahan netizen, saat dia men-tweet tulisan, "Saya sedih karena anak muda tidak akan pernah merasakan keajaiban melihat pornografi di layar lebar."

Baca Juga:


Tweet tersebut menulai komentar banyak orang. Mereka meminta O'Brien tidak bersikap seperti itu. Sebab percaya atau tidak, pornografi adalah kebiasaan yang mengganggu.

Mengapa orang memandang pornografi seperti itu? Meskipun alasannya beragam, beberapa orang menyalahkan efek rasa ingin tahu, kebosanan, ketidakpuasan terhadap hubungan seksual mereka atau hanya untuk belajar lebih banyak tentang seks dari pronografi.

Masalahnya, pornografi adalah gambaran seks yang menyimpang, terputus-putus dan salah. Industri pornografi mendevaluasi hubungan seksual untuk menghasilkan uang.

Industri pornografi menginginkan pelanggannya menjadi pecandu. Sama seperti perusahaan alkohol, industri tembakau dan pengedar narkoba, mereka menghasilkan uang dengan menjual produk yang sulit dihentikan pemakaiannya. Bahkan ketika berhenti efek yang timbul malah sakit kepala, merasa mual atau mudah tersinggung.

Apakah pornografi lebih sulit dihentikan penggunaannya daripada narkoba?

Baca Juga:

"Iya. Jauh lebih sulit. Pornografi mempengaruhi otak. Otak kita melepaskan bahan kimia untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri untuk kegiatan yang mendukung kehidupan seperti berolahraga dan makan. Ini disebut jalur reward, di mana bahan kimia memberi efek ‘bahagia’ yang mengalir seperti endorfin dan dopamin,” tulis Dr. Jeffrey Satinover, seorang psikoanalis dan psikolog, seperti dilansir Familyshare, Selasa (12/9/2017).

Dalam pernyataannya di hadapan Kongres, Dr. Jeffrey Satinover memperingatkan, dengan munculnya komputer, sistem pengiriman yang menstimulus zat adiktif [pornografi] ini telah membuat seolah-olah pengguna telah menemukan sebuah bentuk heroin 100 kali lebih kuat dari sebelumnya, yang bisa digunakan di ruang privasi di rumah dan disuntikkan langsung ke otak melalui mata.  

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The Virginia Commonwealth University, Dr. Jennifer Johnson menemukan bahwa pornografi mengendalikan dan merusak hubungan seksual para peserta.

“Seks adalah ekspresi cinta. Pornografi adalah ungkapan nafsu. Diskusi kuno tentang cinta vs nafsu. Seks kurang berarti jika hanya memenuhi kebutuhan seseorang. Seks lebih memuaskan jika menjadi pengalaman bersama. Pornografi mempengaruhi lebih dari partisipannya,” jelasnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini