Image

Belajar dari Kasus Debora, Menkes Ingatkan Semua RS untuk Instrospeksi Diri tentang Pelayanan ke Pasien

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 13 September 2017, 14:20 WIB
https img z.okeinfo.net content 2017 09 13 481 1775008 belajar dari kasus debora menkes ingatkan semua rs untuk instrospeksi diri tentang pelayanan ke pasien B1sWpDv1SI.jpg Ilustrasi (Foto: Wisegeek)

KASUS meninggalnya bayi Tiara Debora Simanjorang akibat lambannya penanganan rumah sakit harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Tak hanya itu, pemerintah mengingatkan agar rumah sakit lain tidak melakukan hal sama, terutama saat memberi pelayanan pada pasien emergency.

Permasalahannya, bayi Debora merupakan salah satu peserta BPJS Kesehatan yang dicampakkan oleh rumah sakit yang tidak bekerja sama dengan asuransi JKN itu. Namun demikian, hal tersebut tidak terjadi dan bayi empat bulan itu nyawanya tertolong.

Berkaca dari kasus tersebut, Menteri Kesehatan Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM(K) menegaskan, kepada setiap rumah sakit wajib memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Ada satu pembelajaran, terutama dari segi komunikasi antara pasien dan pihak rumah sakit, apalagi terkait dengan kepesertaan BPJS Kesehatan.

"Kami ingatkan rumah sakit lain agar kiranya tolong diperhatikan. Ini satu pembelajaran dan semua harus instrospeksi diri," ujar Menkes Nila kepada Okezone, Rabu (13/9/2017).

Baca Juga:

Bila disimpulkan, tambah Menkes Nila, kasus kematian putri pasangan Henny Silalahi-Rudianto Simanjorang tersebut karena adanya miskomunikasi. Semua dapat dicegah, ketika saat itu pihak rumah sakit tidak menyulitkan pasien.

Tapi sayang, yang terjadi justru membuat masyarakat ikut geram dengan kasus ini. Bayi mungil Debora harus merenggut nyawa, meski telah mendapatkan tindakan life saving sebelumnya.

"Kalau masalahnya hanya komunikasi kita harus mengubah. Intinya harus instrospeksi. Tapi kita akan terus klarifikasi mana yang benar," imbuhnya.

Baca Juga:

Menkes Nila kembali menegaskan, bila rumah sakit dinyatakan bersalah, tentu ada sanksi. Mulai dari teguran lisan, teguran keras, hingga pencabutan izin rumah sakit.

"Kami sudah panggil rumah sakit. Kita bicarakan juga dengan Asosiasi Rumah Sakit Swasta, Persaturan Rumah Sakit Indonesia, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Badan Pengawas Rumah Sakit. Kalau sudah ada hasilnya langsung kita rangkum," ungkapnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini