Image

Mewaspadai Merebaknya Virus Flu Burung, Kemenkes Gelar Simulasi Penanggulangan Pandemi Influenza

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 13 September 2017, 17:57 WIB
https img o.okeinfo.net content 2017 09 13 481 1775220 mewaspadai merebaknya virus flu burung kemenkes gelar simulasi penanggulangan pandemi influenza cmxl2F5dLL.jpg Ilustrasi (Foto: Timeslive)

PENYEBARAN virus penyakit bisa terjadi kapan saja. Terlebih dengan situasi perubahan cuaca saat ini memungkinkan virus untuk bermutasi dan menciptakan virus baru. Maka dari itu, diperlukan upaya tanggap darurat terhadap masalah kesehatan. Salah satu masalah yang harus mendapat perhatian lebih adalah pandemi influenza.

Pandemi tersebut berpotensi untuk menyebabkan kematian. Sebab saja influenza Spanyol H1N1 tahun 1918 yang menyebabkan kematian hingga 40-50 juta orang, influenza Asia tahun 1957 dan influenza Hongkong H3N2 tahun 1968, serta influenza pandemi H1N1 tahun 2009 yang menyebabkan kematian 100.000-400.000 orang. Hingga saat ini, influenza yang masih menjadi perhatian dunia dan menimbulkan kekhawatiran adalah flu burung. Data menunjukkan kematian akibat flu burung cukup tinggi.

BACA JUGA:

Ya Ampun Ada Pasta Panjangnya 9 Meter, kalau Mau Makan Harus Pakai Gunting

Keliling Dunia untuk Icip Minuman Whisky, Dibayar Pula! Mau?

Dalam mempersiapkan kemungkinan terjadinya pandemi tersebut, Kementerian Kesehatan akan kembali menggelar simulasi penanggulangan Episenter Pandemi Influenza. “Untuk pandemi, diperlukan kesiapsiagaan dan respon. Hal inilah yang membuat adanya simulasi,” tutur Dr Wiendra Woworuntu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kementerian Kesehatan saat ditemui Rabu (13/9/2017) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Simulasi merupakan alat efektif untuk menguji dan melakukan evaluasi kapasitas mengenai pengembangan dan penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi. Sebelumnya simulasi serupa telah dilaksanakan tahun 2008 di Desa Dangin Tukadaya Bali dan 2009 di Kelurahan Kassi-kassi dan Bontomakio. Pada simulasi terdahulu, ada beberapa aspek pengendalian yaitu respon medis, surveilans, intervensi farmasi, komunikasi risiko, dan intervensi non-farmasi lainnya.

“Dengan adanya simulasi terus menerus, maka tentunya kapasitas orang yang terlibat dalam pandemi seperti rumah sakit, puskesmas, dan masyarakat akan mengetahui bagaimana respon yang harus dilakukan bila terjadi pandemi,” ungkap Dr Wiendra.

BACA JUGA

Koki Kerajaan Bocorkan Pola Makan Mendiang Putri Diana, Ini Sederet Menu Favoritnya

Gagal saat Drug Test, Atlet Tenis Dunia Ini Salahkan Hidangan Pasta, Kok Bisa?

Tahun ini, simulasi rencananya akan diadakan 19-20 September 2017 di Tangerang Selatan (Tangsel). Beberapa yang terlibat dalam simulasi ini di antaranya rumah sakit, puskesmas, masyarakat, bandara, dan pelabuhan. Ada pula beberapa kementerian terkait, perangkat pemerintah daerah, TNI dan Polri, serta BNPB. Simulasi kali ini berfokus pada respon cepat, penanggulangan, dan pengakhiran penanggulangan episenter pandemi influenza.

Seperti yang kita tahu, di tahun 2005 pertama kali ditemukan pandemi influenza yaitu flu burung di Tangsel. Guna mengatasi hal tersebut, di tahun 2007-2010, Tangsel adalah pilot project untuk melatih kesiapsiagaan terhadap flu burung. Kemudian di tahun 2009 dilihat kembali perkembangan kesiapsiagaannya. Lalu di tahun 2015, pemerintah melihat perkembangannya.

Di tahun 2016, pemerintah merevisi status kesiapsiagaan pandemi influenza. Dengan adanya simulasi ini, diharapkan di tahun 2017 tidak ada lagi kasus flu burung yang menyebabkan kematian.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini