Image

Cerita Sumiati Menggerakkan Kampung Penas Jakarta Timur sebagai Kampung Tanpa Rokok

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 14 September 2017, 15:12 WIB
https img k.okeinfo.net content 2017 09 14 481 1775871 cerita sumiati menggerakkan kampung penas jakarta timur sebagai kampung tanpa rokok OxIXwzm6d0.jpg Kampung tanpa rokok (Foto:MuhammadSukardi)

KEBIASAAN merokok bagi beberapa pihak sepertinya sudah sulit untuk dihilangkan. Apalagi lingkungan di sekitarnya mendukung untuk tetap merokok. Mau sampai mulut berbusa memintanya berhenti, tentu akan sulit.

Salah satu kunci dari berhenti merokok adalah niat yang besar. Kalau sudah ada niat, tentu melakukan tindakannya akan menjadi lebih ringan. Seperti yang diungkapkan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) Konsultan Rumah Sakit Persahabatan Dr. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P (K), kalau niatnya sudah bulat, Anda bisa berhenti total.

’’Faktor lain dari berhasilnya seseorang bisa berhenti merokok adalah lingkungan. Cari lah kawan dari perokok yang ingin dihentikan kebiasaannya itu untuk kemudian mengajaknya menjauhi rokok. Secara psikologis, orang terdekat lah yang bisa dipercaya,’’ terang Dr Agus di Warung Daun, Jakarta Pusat, Kamis (14/9/2017).

BACA JUGA:

Waspadai Gejala Serangan Jantung yang Sering Dikira Angin Duduk, Sesak Napas dan Nyeri di Ulu Hati

Bunda! Jangan Sembarangan Pilih Alat Kontrasepsi, Tiap Individu Beda Hormonnya

Nah, terkait dengan dukungan lingkungan sebagai upaya menghentikan rokok, ternyata di Jakarta Timur ada satu kampung yang bergerak bersama-sama dalam menjadikan tempat tinggalnya bebas asap rokok. Adalah Kampung Penas Jakarta Timur. Tepatnya berada di RT 15 RW 02 Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.

Pelaksananya adalah seorang ibu muda bernama Sumiati. Alasan dia cukup sederhana untuk mengubah kampungnya itu menjadi kampung yang sehat. Dia mengaku kasihan dengan tetangganya yang sudah banyak menderita penyakit yang berhubungan dengan paru-paru.

 

’’Secara kasar, dari 120 KK yang ada di wilayah itu, 15-20 KK itu ada anggota keluarnya yang menderita masalah paru-paru. Bahkan ada satu keluarga semuanya punya masalah paru-paru,’’ terangnya pada Okezone di tempat yang sama.

Sumiati coba menjelaskan bagaimana awal tindakannya mengubah kebiasaan tersebut. Jadi, awalnya memang pasti ada penolakan sana-sini dari banyak orang. Dicap sok pahlawan, orang paling benar, sampai ngapain sih capek-capekin diri sendiri sama kegiatan begituan. Tapi tekat Sumiati bulat. ’’Saya ingin keluarga sama terutama, pun tetangga saya semuanya sehat. Ini bukan semata-mata buat saya, tapi buat banyak orang,’’ tambahnya.

Dari niat itu lah kemudian Sumiati mengajak tetangganya untuk memahami lebih jauh mengenai bahaya merokok. Sumiati sendiri sebetulnya mendapatkan keuntungan dari gelarnya sebagai “Ketua RT” setempat untuk bisa menyosialisasikan konsep kampung tanpa rokok tersebut.

Sejak April 2017 ini, kampungnya sudah bebas dari rokok. Banyak dari masyarakat setempat yang akhirnya sadar bahwa merokok itu bahaya. ’’Ya, jika diangkakan, dari yang tadinya 100% sekarang sekitar 50% sudah meninggalkan rokok,’’ ungkapnya.

BACA JUGA:

Tidak Boleh Diremehkan, Ini Jangka Waktu Bahaya Rokok Menyerang Kesehatan Perokok Pasif

Bikin Indra J Piliang 'Nagih', Sabu-Sabu hanya Memberikan Kenikmatan Semu

Suamiati tidak menampik bahwa masih ada warga di kampung tanpa rokok itu yang masih merokok. Tapi, dia punya cara yang dianggapnya cukup adil. ’’Saya meminta kepada warga yang masih merokok, kalau mau menghisap rokok jangan di rumahnya sendiri pun di lingkungan sekitar rumahnya. Mereka diperbolehkan merokok tapi di RT sebelah. Jauh dari RT 15,’’ papar dia bersemangat.

RT di sekitar RT 15 itu ada RT 09, 10, 11, dan 14. Nah, setelah diberlakukan aturan ini, banyak warga yang merokok memang di luar RT 15. Tapi, kemudian warga dari RT tetangga pun merasa risih dengan keberadaan perokok itu. Seperti salah satu komplain yang diterima Sumiati. ’’Iya, warga tetangga itu merasa kampung mereka dicemari rokok warga saya. Alhasil, kampung tetangga juga meminta saya mengajak perokok di sana untuk berhenti merokok. Hal positif bukan?” kata Suamiati.

Namun, Sumiati menambahkan, pihak pemerintah kota belum banyak terlibat langsung di dalamnya. Dia pun berharap bahwa pemerintah mau ikut campur lebih jauh terhadap Kampung Tanpa Rokok ini. Setidaknya ikut menggalakan konsep ini lebih disiplin bagi banyak wilayah lainnya. ’’Kami berharap pemerintah kota mau ikut andil dalam menyukseskan niat baik kami. Sebetulnya, tanpa bantuan pemerintah kami sudah jalan. Tapi, kami akan lebih bahagia kalau ada bantuan pemerintah,’’ tuturnya lantas tersenyum.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Berita Rekomendasi

Cari Berita Lain Di Sini