nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal PCC, Obat Kejang Otot yang Bisa Membuat Fly hingga Disorientasi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 15 September 2017 09:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 15 481 1776394 mengenal-pcc-obat-kejang-otot-yang-bisa-membuat-fly-hingga-disorientasi-2EFMANigyA.jpg Ilustrasi

KASUS penyalahgunaan obat PCC harusnya mendapat perhatian khusus banyak pihak. Bukan hanya penegak hukum atau sektor kesehatan. Keluarga juga seharusnya menjadi benteng pertama sehingga kejadian seperti ini tidak lagi terjadi.

Perlu Anda ketahui bahwa keberadaan obat tersebut dianggap "bobol" di mana sebelumnya obat ini pernah ditarik dari pasaran. Alasannya adalah penyalahgunaan obat. Ketetapan itu sesuai dengan keputusan Kepala BPOM Nomor HK. 04.1.35.06.13.3535 tahun 2013 tentang pembatalan izin edar obat yang mengandung carisoprodol.

Menanggapi masalah ini, Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K) menjelaskan, kasus penyalahgunaan obat PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol) di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, obat tersebut dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan yang serius.

Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara mengatakan saat ini sudah teradapat 60 korban penyalahgunaan obat PCC yang dirawat di tiga RS. Kadinkes Sulawesi Tenggara, dr Asrum Tombili, mengatakan bahwa korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang).

(Baca Juga: Pil PCC, Obat Sakit Jantung yang Bisa Bikin Kejang-Kejang Jika Dikonsumsi Sembarangan)

Sebanyak 32 korban mendapat perawatan rawat jalan, dengan 25 korban rawat inap dan 3 orang lainnya dirujuk ke RS Jiwa Kendari.

Salah seorang siswa kelas 6 Sekolah Dasar dilaporkan meninggal usai mengalami halusinasi. Dikabarkan pula Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kendari paling banyak menangani korban.

"Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun. Mereka mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi. Kemudian, sebagian datang dalam kondisi delirium atau setengah sadar setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan PCC dengan kandungan obat belum diketahui itu," terang Menkes dalam siaran pers, Jumat (15/9/2017).

Lebih lanjut, Menkes berharap agar Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengidentifikasi kandungan obat tersebut. Dia juga berharap agar BNN menetapkan status zat yang terkandung dalam kelompok adiktif secepatnya.

"Obat-obatan terlarang dan zat adiktif sangat berbahaya dan merugikan remaja sebagai aset masa depan bangsa. Maka, jika ini terbukti zat psikotropika, Kemenkes mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap NAPZA yang mengganggu kesehatan. Kami juga berharap agar BNN menginvestigasi secepatnya," tegas Menkes.

(Baca Juga: Korban Pil PCC di Kendari Jadi 68 Orang, 2 di Antaranya Meninggal)

Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi. Regulasi yang mengatur antara lain Undang-Undang No. 35/2009 tentang Narkotika, Undang-Undang No. 44/2009 tentang Rumah Sakit, Undang-Undang No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa, dan Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Perlu Anda ketahui juga bahwa obat PCC sendiri merupakan obat sakit pinggang, kejang otot, dan nyeri terutama. Nah, karena cara kerjanya itu melemaskan otot yang tegang, makanya jika dikonsumsi berlebihan akan membuat pemakainya merasa ringan atau istilah lainnya "nge-fly".

Yang namanya berlebihan itu tidak baik! Begitu juga dengan penggunaan obat PCC ini secara berlebihan. Diketahui, jika mengonsumsi obat ini dalam dosis yang tinggi, maka akan menyebabkan kerusakan hati, gangguan saluran pencernaan, hingga munculnya ruam di kulit.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini