nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TAHUN BARU ISLAM: Kini Tak Perlu Bingung, Agamawan Tetapkan Penanggalan Islam Disamakan Sejagat Raya

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 21 September 2017 13:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 20 196 1779910 tahun-baru-islam-kini-tak-perlu-bingung-agamawan-tetapkan-penanggalan-islam-disamakan-sejagat-raya-nyFeYfr5b2.jpg Ilustrasi (Foto: Pakistantv)

DULU sistem penanggalan di seluruh dunia hampir tidak sama setiap hari. Namun, setelah ada forum untuk penyatuan penanggalan hijriah sejagat, masyarakat tidak perlu bingung menyamakan tanggal, terutama saat berkunjung ke negara lain.

Dalam pelaksanaan forum, ada lebih dari 10 konsep kalender yang dibahas. Lalu, mengerucut hingga menjadi dua model, yakni Kalender Bizonal dan Kalender Unifikasi.

Kalender Bizonal akan membagi dunia menjadi dua zona yang masing-masing zona bisa memiliki hari yang sama dalam memasuki bulan baru, tetapi juga bisa berbeda tergantung pada hilal di wilayah setempat.

Kalender Unifikasi menganggap dunia menjadi satu zona (matlak) saja yang memiliki hari yang sama dalam memasuki bulan baru meskipun di bagian dunia lain visibilitas hilalnya belum terpenuhi.

Pembahasan kalender yang mengalami perdebatan panjang ini akhirnya terpaksa berakhir dengan "voting". Kalender tunggal mencapai suara mayoritas 80 suara, termasuk suara tiga wakil dari Indonesia, sedangkan kalender bizonal 27 suara.

Saat itu, hadir Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar, Astronom dari Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Hendro Sentyanto, MSi dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyidin Djunaedi yang menjabat di tahun 2016 mewakili negara Indonesia untuk menghadiri kongres.

Kongres tersebut digagas oleh Badan Urusan Agama Turki bekerja sama dengan European Council for Fatwa and Research (ECFR), Observatorium Kandilli dan Islamic Crescents Observation Project (ICOP).

Dalam kongres prinsipnya dibahas jika setiap hari penanggalan di seluruh dunia sama. Tidak ada yang membedakan, selain waktu. Begitu juga dengan tanda awal bulan yang tiba dimulai dengan tanggal satu. Penanggalan hijriah ini berlaku di seluruh dunia untuk memudahkan seseorang beribadah.

Contohnya puasa sunat Arafah yang pelaksanaannya harus pada hari yang sama dengan pelaksanaan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

Pada kongres tersebut, Indonesia sangat mendukung adanya penanggalan dengan kalender tunggal untuk umat Islam. Diharapkan tidak akan lagi terkotak-kotak dalam perbedaan saat penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan hari wukuf pada bulan Zulhijah.

Karena contohnya saat merayakan Hari Raya Idul Fitri setiap umat Muslim mengalami perbedaan. Padahal hal ini tidak boleh terjadi, karena dampaknya akan menimbulkan banyak pertanyaan di antara semua kalangan.

Setiap menentukan Hari Raya Idul Fitri, para pakar juga menentukan posisi hilal. Padahal dulu, penentuan perayaan suka cita umat Muslim ini sudah ditetapkan berdasarkan penanggalan kalender yang sesuai.

Uniknya lagi, penanggalan ini melihat fase bulan gelap, yakni pertama dari siklus peredaran bulan dilihat dari bumi. Saat itu bulan berada pada satu garis lurus di antara bumi dan matahari.

Saat bulan menghilang, kemudian muncul kembali dalam bentuk penampakan bulan sabit pertama. Inilah yang disebut hilal berbentuk segaris cahaya tipis melengkung, sesaat sesudah matahari terbenam.

Terjadinya hilal ini menandai dimulainya bulan baru dalam sistem kalender Islam, juga suatu penanggalan yang didasarkan peredaran bulan (lunar/kamariah).

Sistem kalender yang telah digunakan oleh masyarakat tradisional sejak dahulu kala ini memang lebih bersifat lokal, tergantung pada pengamatan fenomena bulan baru di masing-masing kawasan.

Fakta inilah yang membuat kalangan agamawan muslim dari berbagai kawasan berkeinginan untuk membuat suatu kalender Islam global dengan kriteria tunggal yang akan melahirkan satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini