nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TAHUN BARU ISLAM: Mengapa Bulan Muharam Begitu Istimewa bagi Yahudi, Qurayish Jahiliyah, dan Muslim?

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 21 September 2017 06:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 20 196 1779911 tahun-baru-islam-mengapa-bulan-muharam-begitu-istimewa-bagi-yahudi-qurayish-jahiliyah-dan-muslim-oljx6MjDgk.jpg Ilustrasi (Foto: Officeholidays)

MEMASUKI Bulan Muharam 1438 hijriah dalam hitungan kalender Islam berarti kaum muslim memasuki bulan yang penuh faedah. Bulan Muharram adalah bulan yang diistimewakan, sehingga bulan ini disebut juga bulan Allah "Syahrullah".

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS. At-Taubah: 36)

Penjelasan rinci dari ayat ini terkandung dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta RajabMudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.“ (HR. Al-Bukhari : 3197 dan Muslim : 1679/4383).

Bulan Muharam bukan cuma istimewa bagi umat Islam tetapi juga istimewa bagi kaum Yahudi. Sebelum datang zaman Rasulullah SAW, kaum Yahudi menamakan bulan ini adalah bula Asyura’. Hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

"Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, 'Hari apa ini?' Mereka menjawab, 'Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah'. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari).

Selain kaum Yahudi, orang-orang Arab Qurayish Jahiliyah juga mengistimewakan bulan Muaharram. Bahkan puasa Asyura' adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. ‘Aisyahradhiallahu ‘anha berkata,

"Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.” (HR Al-Bukhari no. 2002.)

Namun untuk menyelisih Yahudi dan Qurayish, Rasulullah SAW menjadikan puasa Muharam menjadi puasa sunnah. Ketetapan itu dibuat setelah datangnya bulan Ramadan yang menjadi waktu berpuasa wajib umat Islam. Demikian dilansir dari berbagai sumber.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini