nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TAHUN BARU ISLAM: Bagaimana Cara Menyambut Tahun Baru Islam? Haruskah Meriah seperti Perayaan Tahun Baru Masehi?

Annisa Amalia Ikhsania, Jurnalis · Kamis 21 September 2017 08:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 20 196 1779980 tahun-baru-islam-bagaimana-cara-menyambut-tahun-baru-islam-haruskah-meriah-seperti-perayaan-tahun-baru-masehi-YpbDZx9Fl8.jpg Ilustrasi perayaan tahun baru islam (Foto: Ibtimes)

BAGI masyarakat dunia yang mayoritas menggunakan penanggalan Masehi, Januari merupakan bulan awal tahun dan awal lembaran baru. Hampir semua negara seolah menyelenggarakan perayaan tahun baru dengan ragam acara hiburan, tak terkecuali di Indonesia.

Walaupun lebih dari 80 persen penduduk Indonesia menganut agama Islam, nyatanya hanya sebagian kecil yang tahu persis kapan tahun baru Islam. Bahkan, sebagian besar tak hafal dengan nama-nama bulan Hijriah. Hal ini karena meski penduduknya mayoritas muslim, Indonesia menggunakan tahun Masehi sebagai penanggalan sehari-hari. Inilah yang membuat perayaan tahun baru Islam seolah kalah meriah dengan perayaan tahun baru Masehi.

Padahal, sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya untuk mengacu pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Begitu pula mengenai perayaan tahun baru, lantas bagaimana Islam memandang hal ini?

Tahun baru Islam 1 Muharram Hijriyah menjadi hari penting dan bersejarah bagi umat Islam. Awal tahun baru Islam menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Kalender Hijriyah inilah yang sejatinya menjadi sistem penanggalan umat muslim dengan menjadikan hijrah sebagai awal perhitungan tahun dalam Islam. Merayakan atau memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram hakikatnya adalah mengenang kembali peristiwa hijrah sekaligus mendalami makna hijrah dan pengamalannya masa kini.

Bagi seorang Muslim sangat penting mengetahui tanggal dan bulan Hijriah lantaran berhubungan dengan pelaksanaan ibadah. Ibadah-ibadah tersebut antara lain puasa yang dilaksanakan satu bulan penuh pada bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, Wukuf di Arafah saat Ibadah Haji tanggal 9 Zulhijah, Hari Raya Idul Adha pada 10 Zulhijah, dan Hari Tasyrik pada 11, 12, dan 13 Zulhijah, serta Tahun Baru Hijriah 1 Muharam.

Penentuan tanggal 1 pada bulan Hijriah sejatinya ditandai dengan terbitnya hilal atau tampak bulan sabit pada saat terbenamnya matahari dengan derajat ketinggian tertentu. Ini sebabnya pada tanggal 1 Ramadan saat akan dimulai bulan puasa, terdapat perbedaan antara satu negara dengan negara lainnya.

Bagaimana Merayakan Tahun Baru Hijriyah?

Dalam menghadapi tahun baru Hijriah atau bulan Muharram, sebagian umat Muslim keliru dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, haruskah tahun baru Islam disambut sangat meriah?

Satu hal yang perlu diingat bahwa sudah sepatutnya seorang Muslim mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Bila mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriah maka sudah seharusnya umat Muslim mengikuti hal tersebut.

Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali mengutarakan sebuah kalimat, "Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya." Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.

Sebenarnya tak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru Hijriah. Terkadang, amalan yang justru dilakukan oleh sebagian kaum Muslim dalam menyambut tahun baru Hijriah adalah amalan yang tak ada tuntunannya karena sama sekali tak berdasarkan dalil atau bila ada dalil, dalilnya pun lemah.

Merayakan tahun baru Hijriah secara meriah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama'i, mengkhususkan salat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru Hijriah, menyalakan lilin, atau membuat pesta, jelas adalah sesuatu yang tak ada tuntunannya.

Pasalnya, penyambutan tahun Hijriah semacam itu tak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, dan para sahabat lainnya. Apalagi bagi mereka yang memeriahkan tahun baru Hijriah yang hanya ingin menandingi tahun baru Masehi, sungguh hal tersebut merupakan perbuatan yang menyerupai orang-orang kafir.

Menyambut tahun baru Hijriah bukan dengan memperingati atau memeriahkannya. Namun, yang perlu diingat adalah bertambahnya waktu atau tahun maka semakin pula dekat dengan kematian.

Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW dan para sahabat beliau serta umat terdahulu sebenarnya tidak mengharuskan umat Islam merayakan kedatangan tahun Hijriah. Namun, entah sejak kapan, sebagian umat Islam merayakannya dengan mengadakan beberapa acara yang bersifat Islami, meski terkadang ada yang kebablasan hingga keluar dari ajaran.

Ada pun beberapa adab yang sekiranya perlu dilakukan dalam menyambut kedatangan tahun Hijriah adalah: Niat yang ikhlas mengharapkan keridaan Allah SWT;

Mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya, nikmat kesehatan dan rezeki, serta bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau. Pada tahun baru ini, kita mensyukuri seluruh nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah di tahun sebelumnya agar nikmat tersebut bertambah;

Membaca doa, berharap dan memohon kepada Allah SWT agar meridai dan menerima amalan-amalan yang dilakukan sebagai ibadah yang diterima, serta tetap menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia hingga akhir hayat;

Banyak bertafakur untuk bermuhasabah dengan bertambahnya usia. Karena sesungguhnya dengan bertambahnya usia, hakikatnya berkurang kesempatan untuk hidup di dunia ini.

Oleh karena itu, mari sambut tahun baru Hijriah 1439 H sebagai cara untuk selalu mengintrospeksi diri, bersyukur, dan aktivitas hidup di dunia, bekal di akhirat, agar menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

(dno)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini