nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TAHUN BARU ISLAM: Beberapa Peristiwa Seputar Hijrah, Hingga Rute Hijrah Rasulullah yang Kini Jadi Destinasi Wisata

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 22 September 2017 14:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 21 406 1780113 tahun-baru-islam-beberapa-peristiwa-seputar-hijrah-hingga-rute-hijrah-rasulullah-yang-kini-jadi-destinasi-wisata-56WaEKYEF6.jpg

DALAM beberapa referensi dijelaskan bahwa penentuan tanah Yatsrib sebagai tujuan hijrah sudah diketahui jauh-jauh hari oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti yang diijelaskan dalam buku berjudul “Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik” karya Martin Lings, yang mengungkapkan, Nabi SAW sudah mengetahui bahwa Yastrib adalah lahan subur di antara dua jalur batu-batu hitam yang beliau lihat dalam mimpinya. Beliau juga tahu bahwa tibalah waktunya untuk hijrah.

Sementara itu, Dr Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya mengenai “Hijrah dalam Pandangan Alquran” menuliskan, Imam Muslim mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, Aku melihat dalam tidur bahwa aku berhijrah dari Makkah menuju suatu tempat yang banyak terdapat pohon kurma. Aku mencoba menebak apakah itu Yamamah atau Hajar? Namun, ternyata, itulah Kota Yatsrib.” (Shahih Muslim: 2272).

Setelah meyakini mimpi tersebut, Rasul pun memerintahkan para sahabatnya untuk segera hijrah, baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Adapun Rasul SAW rencananya akan menyusul setelah semua umat Islam berhijrah ke Madinah. Sebab, Rasul mengetahui, yang dimusuhi kaum kafir Quraisy adalah diri beliau dan bukan kaum Muslimin.

Terkait dengan strategi kaum Quraisy dalam upaya penangkapan terhadap Rasul SAW, ternyata rencana tersebut diketahui Muhammad SAW. Saat itu, Rasulullah sendiri memang masih tinggal di Makkah dan kaum Muslim sudah tidak ada lagi yang tinggal, kecuali sebagian kecil. Sambil menunggu perintah Allah SWT untuk berhijrah, Nabi SAW menemui Abu Bakar dan memberitahukannya untuk bersiap hijrah ke Madinah.

“Dan, katakanlah, Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Al-Isra [17]: 80).

Di sinilah, sebagaimana dipaparkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Hayatu Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad), dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya demi kebenaran, keyakinan, dan keimanan.

Untuk mengelabui kaum Quraisy, Rasulullah memutuskan akan menempuh jalan lain (rute yang berbeda-Red) dari jalur yang biasa digunakan penduduk Makkah untuk menuju Madinah.

Rasulullah SAW memutuskan akan berangkat bukan pada waktu yang biasa. Padahal, Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor unta sebagai kendaraan yang akan dipergunakan Nabi SAW pada saat berhijrah. Hijrah ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan dakwah dan akidah Islam serta kaum Muslimin.

BACA JUGA


Rute yang ditempuh Rasul setelah keluar dari rumah beliau adalah Gua Tsur. Di mana gua tersebut berjarak sekitar 6-7 kilometer di selatan Makkah. Sedangkan Madinah berada di sebelah utara Makkah. Langkah ini diambil untuk mengelabui kafir Quraisy. Di Gua Tsur ini, Rasulullah dan Abu Bakar tinggal selama kurang lebih tiga hari.

Selanjutnya, beliau mengambil jalur ke arah barat menuju Hudaibiyah, arah sebelah timur desa Sarat. Kemudian, menuju arah Madinah dan berhenti di sebuah kawasan di al-Jumum dekat wilayah Usfan. Lalu, bergerak ke arah barat dan memutar ke perkampungan Ummul Ma’bad dan berhenti di wilayah Al-Juhfah.

Kemudian beliau menuju Thanniyat al-Murrah, Mulijah Laqaf, Muwijaj Hujaj, Bath Dzi Katsir, hingga tiba di Dzu Salam. Di sini, beliau memutar ke arah barat sebelum meneruskan ke arah Madinah dan berhenti di daerah Quba. Di sinilah beliau mendirikan Masjid Quba, yaitu Masjid pertama yang didirikan Rasul SAW.

Setelah dari Quba, atau sekitar satu kilometer dari Quba, beliau bersama umat Islam lainnya, melaksanakan shalat Jumat. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah masjid di lokasi ini dengan nama Masjid Jumat. Setelah itu, barulah Rasul SAW menuju Madinah.

Sementara itu, perlu Anda ketahui bahwa tujuan berhijrah dalam konteks hijrah Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah umat Islam dari gangguan dan ancaman kafir Quraisy yang semakin besar terhadap umat Islam.

Namun, sebagaimana dijelaskan Ahzami Samiun Jazuli dalam Hijrah dalam Pandangan Al-Quran, secara global, tujuan hijrah adalah senantiasa meninggalkan segala yang dilarang Allah dengan berpindah untuk melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya menuju jalan kebajikan dan kemaslahatan. Seorang muhajir (yang berhijrah) adalah siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Shahih Bukhari 1: 53).

Adapun hijrah secara maknawi, seperti dikatakan Ahzami, adalah sebagaimana firman Allah dalam surah Adz-Dzaariyat [51]: 50-51. Segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Janganlah kamu mengadakan tuhan selain Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”

Sementara itu, makna hijrah secara hakiki adalah hijrah atau pindah dengan sepenuh hati semata-mata untuk Allah dan Rasul-Nya. Yakni, meninggalkan segala kemaksiatan menuju jalan kemaslahatan.

Rute Hijrah Jadi Destinasi Wisata

Terkait dengan jalur hijrah sendiri, pemerintah Arab Saudi ternyata merencanakan restorasi terhadap situs bersejarah umat Islam tersebut. Tidak hanya jalur hijab Rasul SAW, ternyata ada lokasi sejarah lainnya yang bakal direstorasi seperti di Jabal Nur yang di dalamnya terdapat Gua Hira, Jabal Thawr yang di dalamnya terdapat Gua Tsur, Hudaibiyah dan termasuk jalur hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Restorasi yang dilakukan bertujuan agar peziarah tertarik untuk berkunjung ke museum, resor mewah, dan tempat-tempat bersejarah. Dengan adanya perbaikan tersebut, peziarah diharapkan banyak yang datang ke Arab Saudi.

"Semua hotel dan bangunan di sekitar masjid ini akan membawa lebih banyak keuntungan, khususnya dibidang ekonomi, Insya Allah," kata Awad al-Arshani, Komisi Pariwisata Arab Saudi, memberi isyarat kepada pelanggannya di dalam katalognya. 

Lebih jauh lagi, ternyata ada beberapa peristiwa lain yang terjadi dalam hijrah ini. Dijelaskan beberapa referensi, ada empat hal yang berkaitan dengan hijrah.

Ali di tempat tidur Muhammad SAW

 

Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad menuturkan, pemuda-pemuda yang sudah disiapkan kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah pada malam itu telah mengepung rumah Nabi SAW. Pada saat bersamaan, Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk memakai mantelnya yang berwarna hijau dan tidur di kasur Rasulullah SAW. Nabi SAW meminta Ali supaya ia tinggal dulu di Makkah untuk menyelesaikan berbagai keperluan dan amanah umat, sebelum melaksanakan hijrah.

Sementara itu, para pemuda yang sudah disiapkan Quraisy, dari sebuah celah, mengintip ke tempat tidur Nabi SAW. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka pun puas bahwa orang yang mereka incar belum lari.

Menurut Martin Lings dalam Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, para pemuda Quraisy yang dipilih untuk membunuh Nabi SAW itu telah sepakat untuk bertemu di luar gerbang rumah Nabi SAW saat malam tiba.

Menjelang larut malam, Rasulullah keluar rumah menuju kediaman Abu Bakar setelah beliau membacakan surah yang diberi nama dengan kalimat pembukanya, Yasiin. Ketika sampai pada kalimat, Dan, Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding pula dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS Yasin [36]: 9).

Lalu, Nabi SAW dan Abu Bakar keluar melalui jendela pintu belakang dan terus bertolak ke arah selatan, ke arah Yaman, menuju Gua Tsur. Hal itu dilakukan untuk mengelabui para pemuda Quraisy tersebut. Mereka menutup semua jalur menuju Madinah. Para pemuda ini berencana akan menyergap Nabi SAW saat itu.

Dan, ketika memasuki rumah Nabi SAW, mereka kaget karena Rasulullah sudah tidak ada. Mereka hanya menemukan Ali sedang tidur di kasur Rasul SAW. Kafir Quraisy merasa kecolongan karena tak menemukan Nabi Muhammad SAW.

Gua Tsur

Tiada seorang pun yang mengetahui tempat persembunyian Nabi SAW dan Abu Bakar, selain Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah, dan Asma' serta pembantu mereka Amir bin Fuhaira. Abdullah diperintahkan untuk mengawasi gerak-gerik Quraisy pada siang hari dan memberitahukan keadaan di sekitar gua pada malam hari. Amir bin Fuhaira bertugas menyiapkan kendaraan untuk Nabi SAW dan Abu Bakar, sedangkan Asma bertugas mengantarkan makanan ke gua.

Sementara itu, pihak Quraisy terus berusaha mencari keberadaan Rasulullah tanpa mengenal lelah. Selain mencari ke tempat lain, sebagian di antara mereka ada yang mendatangi Gua Tsur. Tidak jauh dari Gua Tsur itu, mereka bertemu seorang gembala (menurut sebagian riwayat, penggembala itu adalah Amir bin Fuhaira), yang lalu ditanya. Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang ke sana.”

Lalu, orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu. Tapi, kemudian, ada yang turun lagi. Mengapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. Ada sarang laba-laba di tempat itu yang memang sudah ada sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi, saya mengetahui tak ada orang di sana,” seru yang lainnya.

Sementara itu, Abu Bakar merasa khawatir jika keberadaan mereka akan diketahui pihak Quraisy. Rasulullah mengatakan, Jangan takut, Allah bersama kita.” (QS Al-Anfal [9]: 40).

Mukjizat gua

Di depan mulut Gua Tsur, terdapat sarang laba-laba, sarang burung dara, dan cabang pohon akasia yang menjuntai ke arah gua. Pohon akasia ini digambarkan oleh Martin Lings memiliki ketinggian kira-kira setengah tinggi manusia. Kemudian, mereka pun pergi meninggalkan gua. 

Masih menurut Lings, di celah antara pohon dan dinding gua terdapat seekor laba-laba yang telah membuat sarangnya. Kemudian, di lubang gua—tempat seseorang mungkin akan melangkah jika ingin memasuki gua—ada seekor burung dara telah bersarang dan sedang duduk seakan-akan mengerami telur-telurnya. Sementara itu, pasangannya yang jantan sedang menjaga si betina mengerami telur-telurnya di dekat pohon yang mengarah ke gua.

Sarang laba-laba, dua ekor burung dara, dan pohon akasia inilah mukjizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Muhammad SAW mengenai masalah persembunyian dalam Gua Tsur itu. Melihat kondisi ini, orang-orang Quraisy ini berpindah dan mencari Nabi SAW ke tempat lain.

Sehubungan dengan mukjizat ini, penulis Prancis Emile Dermenghem dalam karyanya yang bertajuk La Vie de Mahomet mengatakan, Tiga peristiwa itu sajalah mukjizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara, dan tumbuhnya pohon-pohonan. Ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi.”

Kisah Suraqah


Adapun peristiwa lainnya yang juga memberi arti penting dalam hijrah Rasulullah SAW, yakni pengejaran yang dilakukan oleh Suraqah bin Malik bin Ja'syam. Ia bermaksud menangkap Rasulullah SAW dan Abu Bakar, lalu menyerahkannya kepada Quraisy karena tergiur dengan iming-iming yang diberikan bila dapat menangkap Rasul SAW.

Namun, belum sempat mendekati Rasul, kudanya terperosok dan ia pun terjungkal. Hal itu berulang-ulang terjadi hingga akhirnya ia memohon maaf dan mengaku terus terang perbuatannya untuk menangkap Rasulullah SAW karena tergoda oleh imbalan besar yang dijanjikan orang-orang kafir Quraisy. Rasul kemudian memaafkannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini