Peringati Hari Alzheimer Sedunia, Kenali Gejala Awalnya Sebelum Mengalami Kepikunan

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 21 September 2017 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 21 481 1780422 peringati-hari-alzheimer-sedunia-kenali-gejala-awalnya-sebelum-mengalami-kepikunan-ahHg1ABLkY.jpg Ilustrasi (Foto: Thesun)

WORLD Alzheimer Day atau Hari Alzheimer Sedunia diperingati setiap tanggal 21 September. Tidak hanya sebagai sebuah perayaan, tapi juga perlu meningkatkan kesadaran akan penyakit ini.

Ya, banyak orang tidak begitu tahu apa itu penyakit Alzheimer. Karena itu, gejala awal penyakit Alzheimer pun jarang disadari oleh orang-orang.

Penyakit alzheimer adalah hilangnya intelektual dan kemampuan bersosialisasi yang cukup parah untuk mempengaruhi aktivitas harian. Depresi dan perubahan perilaku adalah, gejala awal alzheimer, sebelum penderita mengalami masalah hilang ingatan atau kepikunan.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal medis American Academy of Neurology.

"Studi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dan psikologis dimulai sebelum penderita Alzheimer didiagnosis dengan demensia (kepikunan) yang dialami," kata penulis studi Catherine M. Roe, PhD., dari Washington University School of Medicine di St Louis, Mo.

Penelitian ini mengamati 2.416 orang berusia lebih dari 50 tahun yang tidak memiliki masalah kognitif pada kunjungan pertama mereka, ke salah satu dari 34 pusat penyakit alzheimer di Amerika Serikat. Para peserta mengikuti sampai tujuh tahun.

Kemampuan kognitif 1.198 penderita alzheimer yang diuji tetap normal, tanpa masalah ingatan memori atau berpikir selama penelitian. Mereka dibandingkan dengan 1.218 orang yang mengembangkan demensia, yang diteliti selama jangka waktu yang sama.

Orang-orang yang mengalami demensia selama penelitian juga mengembangkan gejala perubahan perilaku dan suasana hati seperti apatis, perubahan nafsu makan, mudah marah, dan depresi lebih cepat dari orang-orang yang tidak mengembangkan demensia.

Sebagai contoh dari penelitian tersebut, 30 persen mereka yang mengembangkan demensia mengalami depresi setelah empat tahun. Mereka yang mengembangkan demensia lebih dari dua kali lebih mungkin mengembangkan depresi, lebih cepat daripada mereka yang tidak menderita gejala demensia.

Mereka juga lebih dari 12 kali lebih mungkin untuk mengembangkan delusi daripada mereka yang tidak mengalami demensia. Roe mengatakan studi ini menambah bukti yang bertentangan mengenai depresi dan demensia pada penderita alzheimer.

"Kami masih belum tahu apakah depresi merupakan respon terhadap proses psikologis penyakit alzheimer atau hasil dari perubahan mendasar yang sama di otak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua kondisi tersebut," katanya seperti dilansir dari Medindia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini