Share

BANGGA! 2 Restoran Indonesia di Amerika Serikat dapat Review dari The New York Times, Apa Istimewanya?

Muhammad Sukardi, Okezone · Senin 02 Oktober 2017 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 02 298 1786976 bangga-2-restoran-indonesia-di-amerika-serikat-dapat-review-dari-the-new-york-times-apa-istimewanya-5AyMcGfCZB.jpg Menu Indonesia di Warung Selasa Amerika Serikat (Foto:Newyorktimes)

KEISTIMEWAAN Indonesia di mata dunia memang sulit dielakkan. Mulai dari kekayaan alamnya, penduduknya yang terkenal ramah, sampai dengan makanannya yang luar biasa enak.

Belum lama ini, lidah dunia pun mengakui keistimewaan makanan Indonesia. Adalah The New York Times, salah satu media internasional yang cukup tersohor, baru-baru ini me-review dua restoran Indonesia yang ada di Amerika Serikat, khususnya di New York City.

Dua restoran itu adalah Warung Selasa yang berlokasi di 8512 Queens Boulevard (Grand Avenue), Elmhurst, dan Kopi-Kopi yang letaknya di 68 West 3rd Street (LaGuardia Place), Greenwich Village.

BACA JUGA:

OKEZONE WEEK-END: Tak Hanya Taichan, Aneka Sate Ini Juga Jadi Kuliner Kekinian...

OKEZONE WEEK-END: Cicipi Nikmatnya Soto Gading Solo, Kuliner Langganan Presiden...

Dilansir dari laman The New York Times, Senin (2/10/2017), restoran pertama yang direview adalah Warung Selasa.

Warung Selasa

Restoran ini dikenal di sana sebagai warung klontong terkecil di kota. Jika diperhatikan, warung makan ini hanya memiliki kursi lipat logam hitam dan sebuah freezer yang di dalamnya terlihat temped an mie instan kari.

Anastasia Dewi Tjahjadi, koki restoran ini, mulai membuat makanan dari jam 1 sampai 8 malam. Tidak ada tanda khusus mengenai warung makan ini, restoran klontong tersebut mendapatkan ketenarannya melalui informasi mulut ke mulut.

Pelanggannya siapa? Dijelaskan, kebanyakan imigran Indonesia yang tinggal di sekitaran Elmhurst atau penggemar lama Tjahjadi dari saat dia masih memasak di satu blok di Desa Jawa, yang mana sekarang restoran tersebut sudah tutup.

Sedikit informasi, kalau misalkan warungnya sedang penuh, Anda bisa melipir sebentar ke gang sebelah untum membeli daun sirsak atau membeli camilan seperti bika ambon atau cake mix. Nah, kalau pesanan sudah ready dan ada mejanya, ya, Anda tinggal makan.

Tjahjadi merupakan penduduk asli Surabaya, Jawa Timur. Dia meninggalkan Indonesia setelah serangan 1998 terhadap orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa dan setelah kejadian itu dia menemukan suaka di Amerika Serikat.

Dia membuka Indo Java pada 2007 dan mulai menyajikan makanan di sana tahun lalu. Biasanya, orang-orang menyebutnya restoran pop-up Warung Selasa. Dijelaskan Tjahjadi, nama itu berasal dari gubuk kecil dan kios-kios kecil yang berkembang di sepanjang pinggir jalan di Indonesia. Yang mana, warung makan itu tidak lebih dari sebuah meja tunggal di bawah terpal, di mana supir dan “abang kredit” berkumpul bersama.

Bagaimana pengalaman The New York Times menjajal Warung Selasa?

Pada Selasa belum lama ini, Tjahjadi mengeluarkan mangkuk berisi soto ayam atau sup ayam ditambah tulang lunak yang kuahnya berwarna kuning karena ditambahkan kunyit di dalamnya. Untuk dagingnya sendiri, ternyata Tjahjadi menggunakan dada ayam. Kemudian, ditambahkan sayuran seperti kubis yang masih renyah, dan nasi pun mie mung-bean menjadi satu.

Ketika makanan itu disajikan, uapnya memancarkan aroma lengkuas semilir-semilir. Tak hanya itu, aroma jeruk nipis pun tercium dan membuat perut langsung keroncongan. Tidak berhenti di situ, Tjahjadi pun menambahkan telur rebus di bagian atasnya dan tidak lupa menambahkan keripik serta perasan jeruk nipis. Sudah terbayang nikmatnya? Hehe

Disajikan secara terpisah, sambal pedas khas Indonesia. Ya, biasanya sambal memang ditambahkan sebagai peneydap rasa. Banyaknya? Sesuai selera saja. Bicara mengenai harga, Tjahjadi menghargai makanan tersebut seharga $ 10 atau sekitar Rp 130 ribu-an. Pembayaran pun hanya bisa dengan uang tunai, ya.

Diceritakan Tjahjadi, pelanggannya biasa mampir untuk makan siang atau setidaknya mereka “bungkus” untuk di makan di lain tempat.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Kopi-Kopi

Sejak Juli tahun ini, Tjahjadi juga dapat ditemukan dua kali seminggu di Kopi Kopi, sebuah kedai kopi dan bar anggur di Greenwich Village yang dibuka oleh Elizabeth Lapadula pada 2013.

Bagaimana dengan review Kopi-Kopi?

Dijelaskan bahwa ruangnya kedai ini lebih megah daripada di Indo Java. Pintu masuknya dibingkai seperti pintu masuk kuil. Beberapa aksesori tambahkan seperti bantal batik tersusun rapi di sofa satin. Untuk ruang makannya berada terselip di belakang. Hal itu diungkapkan Tjahjadi karena dulunya pemilik yang disebut ramen speakeasy, sering berada tersembunyi di balik rak buku geser.

BACA JUGA:

Rio Dewanto: Sampai Saya Punya Cucu Kopi Bakal Terus Digandrungi

Terungkap! Bill Gates Doyan Banget Santap Burger & Diet Coke

Lapadula, koki dan kepala barista Kopi-Kopi, dibesarkan di Bogor,Jawa Barat, Lapadula semasa sekolah belajar kimia dan mikrobiologi. Nah, karena background pendidikan itu, saat dia tidak berada di dapur, dia mempraktekkan hukum lingkungan dan kekayaan intelektual di kedainya sendiri.

 

Berharap bisa membawa sepenuhnya rasa masakan Indonesia, namun ternyata Lapadula harus tetap peka terhadap selera lingkungan sekitar (masyarakat New York, Red). Karena itu, akhirnya dia membatasi penggunaan pasta udang supaya makanan tetap "ringan,". "Jika kita membuatnya sangat Indonesia, pasar tidak menginginkannya. Rasa Indonesia itu terlalu pedas dan terlalu kaya akan rempah-rempah sehingga rasanya terlalu kuat," kata Lapadula.

Di Kopi-Kopi, Anda bisa memesan Rijsttafel, bahasa Belanda untuk "meja nasi". Di Indonesia, istilah itu berarti prasmanan. Makanan yang bisa dipilih antara lain kentang goreng yang empuk, tahu goreng, telur rebus yang disiram sambal, dan pilihan ayam bakar Bali, ayam bakar manis, atau rendang daging sapi rendang.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini