Kampung Batik Girilayu Saksi Panjang Perjalanan Batik Pasca-Terbelahnya Kerajaan Mataram

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 03 Oktober 2017 20:51 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 03 194 1788124 kampung-batik-girilayu-saksi-panjang-perjalanan-batik-pasca-terbelahnya-kerajaan-mataram-G3ddSckffs.jpg Batik Solo (Foto: Bramantyo)

Wahyuni mencontohkan motif kuno seperti truntum, Kencar-Kencar, Mahkota Raja, Kembang Kanthil, Wahyu Tumurun harga jualnya bisa mencapai Rp2 juta per lembarnya tergantung rumitnya motif dan lamanya pembuatan.

"Seperti batik ini, waktu pembuatannya memerlukan waktu hingga satu bulan lebih," ungkap Wahyuni.

Pemasaran batik hasil perajin batik Girilayu tidak hanya di sekitar desa sambil menunggu pembeli yang datang. Mereka juga gunakan metode jemput bola dengan mengikuti beragam pameran UKM yang diselenggarakan baik di wilayah Kabupaten Karanganyar sampai ke luar Karanganyar.

Salah satu pemerhati batik yang masih ada keturunan Pura Mangkunegaran Sri Harjanto mengatakan, kampung batik Girilayu merupakan satu-satunya kampung batik yang menandai bangkitnya batik saat jaman Kerajaan.

Pasalnya, kala dibuatnya perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 di Karanganyar saat itu, tak hanya membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Kasunanan Surakarta dan kasultanan Yogyakarta.

Namun, perjanjian yang dibuat dibawah lereng Gunung Lawu kala itupun, ungkap Sri Harjanto, juga membagi kekayaan Mataram. Salah satunya adalah kekayaan busana Kerajaan. Dimana, busana identitas Mataram saat masih masa jayannya seluruhnya diboyong oleh Pangeran Mangkubumi, termasuk batik (tulis).

"Saat itu tak hanya wilayah yang dibagi dua. Tapi juga kekayaan milik Mataram juga dibagi dua. Seperti senjata pusaka, gamelan, berikut kereta tunggangan dibagi rata. Tapi untuk busana, seluruhnya di bawa oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengku Buwono I dan menjadi Raja Yogyakarta pertama. Praktis, Kraton Kasunanan tak memiliki batik khas,"papar Sri Harjanto, saat ditemui di galeri batik miliknya di kampung Batik Laweyan, Solo.

Menyadari Kraton kasunanan tak memiliki busana khasnya dikarenakan seluruh busana kekayaan Mataram di boyong ke Yogyakarta, membuat sang Raja, Paku Buwono III berpikir keras untuk menemukan busana khas bangsawan Kraton Kasunanan. Atas dasar itulah, Paku Buwono III, membuat revolusi kebudayaan dengan mengundang para pembatik terbaik masuk keraton untuk membuat batik Gagrak Surakarta, atau batik khas khas Keraton Surakarta.

“Sinuhun Paku Buwono III membuat revolusi budaya. Karena Sinuhun menyadari Kraton Kasunanan tidak memiliki busana khas Kraton. Sehingga Sinuhun mengundang pembatik terbaik masuk keraton untuk membuat batik khas Kasunanan Surakarta, batik yang kelak menjadi ciri khas batik Surakarta,” jelasnya.

Melalui revolusi budaya yang digagas oleh Sinuhun Paku Buwono III itulah beberapa motif khas Kraton Kasunanan lahir. Diantaranya motif-motif yang berkembang saat itu, ungkap Sri Harjanto wahyu tumurun, lereng, serta bermacam motif parang dan motif sida (sida mukti, sida luhur, dan sida drajad).

"Karena adanya sebuah larangan saat itu, dimana masyarakat umum tidak boleh menggunakan batik Kraton, mendorong munculnya industri rumahan tersebar di empat wilayah Surakarta, yaitu Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, dan Wonogiri. Lewat pemikiran masyarakat itu sendirilah akhirnya muncul beragam motif batik antara lain ceplok, gringsing, tambal, kawung, wonogiren, bondet,"terangnya.

Menurut Sri, antara batik khas Solo dengan batik khas Yogyakarta memiliki latar belakang berbeda. Latar batik Solo lebih didominasi dengan warna sogan (coklat). Nama sogan ini berhubungan dengan penggunaan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga tingi.

“Sogan ini kombinasi warna coklat muda, coklat tua, coklat kekuningan, coklat kehitaman, dan coklat kemerahan. Itu ciri khas batik Surakarta dan Yogyakarta,”paparnya.

Bahkan untuk Sogan antara Solo dan Yogyakarta itu pun juga berbeda jauh. Dimana bila Sogan Yogyakarta dominan berwarna coklat tua-kehitaman dan putih, sedangkan sogan asli Solo didominasi warna coklat-oranye dan coklat.

“Ada beberapa motif batik khas Solo yang tidak dimiliki Yogyakarta, antara lain Sekar Jagat, Sidoasih, Sidoluruh, Parang Kusumo, Truntum dan Kawung. Inilah yang pada akhirnya memunculkan motif-motif batik moderen saat ini,"pungkasnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini