nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Promosikan Wisata dan Pelestarian Alam, Tim Pendakian Ini Jelajahi 7 Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia Selama 100 Hari

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 09 Oktober 2017 16:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 09 406 1791810 promosikan-wisata-dan-pelestarian-alam-tim-pendakian-ini-jelajahi-7-puncak-gunung-tertinggi-di-indonesia-selama-100-hari-BmRzxh9LlK.jpg Mendaki gunung (Foto: Adventure Rocket)

MENDAKI gunung bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang menarik dan menantang. Maka dari itu tak jarang banyak orang yang memiliku hobi tersebut. Tujuan setiap individu untuk mendaki gunung tentunya berbeda-beda. Ada yang ingin menjawab rasa penasaran, sekadar menyalurkan hobi, atau membawa misi tertentu.

Sama halnya dengan Anton Apriyantono, Tri Hardiyanto, dan Mila Ayu Haritanti. Ketiganya membawa misi untuk mempromosikan pariwisata dan pelestarian alam Indonesia. Misi ini dikemas dalam ekspedisi pendakian yang bertajuk "7 Summits in 100 Days". Pendakian tujuh puncak tertinggi di Indonesia ini akan dimulai esok hari, Selasa, 10 Oktober 2017 hingga 31 Desember 2017.

Selain ingin mempromosikan pariwisata dan pelestarian alam, pendakian yang diketuai oleh Anton Apriyantono ini ingin memecahkan sejumlah rekor. "Melalui pendakian ini, ada 4 rekor yang ingin kami pecahkan yaitu kategori tim pendaki gunung tercepat, pria tertua pendaki gunung tercepat diwakili oleh Pak Anton yang berusia 58 tahun, pria termuda pendaki gunung yang diwakili saya sendiri, Tri Hardiyanto dengan usia 27 tahun, dan wanita pendaki gunung tercepat yang diwakili Mila Ayu Hariyanti dengan usia 28 tahun," ujar Tri Hardiyanto saat ditemui dalam jumpa pers, Senin (9/10/2017) di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ide pendakian ini bermula dari keinginan Mila untuk menjadi wanita pertama yang mendaki tujuh gunung di Indonesia dalam waktu tercepat. Keinginan tersebut kemudian didiskusikan ke Tri yang ternyata memiliki impian yang sama. Selain itu, mereka juga melihat fenomena di mana banyak pendaki gunung di Indonesia yang menjadikan tolak ukur keberhasilan padahal di Indonesia banyak gunung bagus.

 

"Banyak gunung di Indonesia yang sebenarnya lebih menarik dan memiliki semua karakteristik gunung. Saya gemas ketika banyak yang menjadikan gunung di luar negeri menjadi tolak ukur. Kenapa bukan mendaki gunung di Indonesia yang dijadikan tolak ukur? Makanya saya ingin ikut dalam ekspedisi ini untuk menunjukkan bahwa gunung di Indonesia tidak kalah menarik dengan gunung di luar," ungkap Mila saat ditemui dalam acara yang sama.

Bak gayung bersambut, Tri dan Mila dipertemukan dengan Anton yang juga mantan Menteri Pertanian Republik Indonesia tahun 2004-2009. Keduanya menyampaikan niatan mereka dan Anton sepakat untuk melakukan ekspedisi pendakian gunung bersama. Anton juga setuju bahwa gunung di Indonesia tidak kalah indah dengan gunung di luar negeri.

Menurut pria yang juga berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas swasta itu, yang kurang dari gunung Indonesia adalah pengelolaannya. "Kalau di Indonesia, siapa saja bisa naik gunung jumlahnya tidak terbatas. Kalau di luar, harus ada guide yang menemani. Selain itu masalah infrastruktur juga masih kurang. Pendaki masih kesulitan untuk akses ke kamar kecil. Maka dari itu, pendakian ini juga bentuk upaya untuk memberi saran ke pemerintah mengenai pengelolaan gunung yang baik. Tentunya mengenai pelestarian gunung juga," kata Anton.

Rencananya, tim ini akan memulai perjalanannya dengan mendaki Gunung Bukit Raya, dilanjutkan dengan Binaiya, Cartenzs, Latimojong, Kerinci, Semeru, dan berakhir di Rinjani. Sejumlah persiapan pun sudah dilakukan sejak bulan Februari lalu. Mulai dari mendaki Gunung Kinabalu, Lawu, Guntur, dan Gede Pangrango. Tak lupa juga mereka melakukan latihan fisik sebanyak tiga kali seminggu dan latihan teknik sebanyak dua kali seminggu.

Nantinya untuk memenuhi misi mereka, setelah ketujuh gunung berhasil didaki, masih ada kegiatan lain di tahun 2018. Kegiatan tersebut antara lain menjaring media internasional untuk mengenalkan gunung di Indonesia, publikasi hasil dokumentasi, dan pencatatan hal-hal yang ditemui selama di gunung.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini