nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hati-Hati! Kekerasan Seksual Bisa Berawal Kenalan di Medsos, Remaja Perempuan Sering Jadi Korban

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 10 Oktober 2017 13:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 10 481 1792497 hati-hati-kekerasan-seksual-berawal-dari-berkenalan-di-media-sosial-remaja-perempuan-sering-menjadi-korban-RHKt6FJxfw.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

KEKERASAN seksual hingga kini masih terjadi di negara ASEAN, termasuk Indonesia. Studi mengungkapkan, kejadian tersebut banyak dipengaruhi oleh media sosial.

Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh sebuah LSM anak dan perempuan, sejak lama maraknya kasus kekerasan seksual terjadi di kalangan remaja. Kasus ini masih sangat sulit diberantas, sebab kekerasan seksual rata-rata terjadi atas unsur kesengajaan.

Peneliti ini mengembangkan hak dan keadilan anak dan perempuan dalam konteks mendapatkan perlindungan akibat kekerasan seksual. Karena sebenarnya korban seharusnya dilindungi, terutama oleh pemerintah.

Sayangnya, tak heran jika kita mendapatkan informasi terjadinya pelecehan seksual di kalangan remaja. Sepatutnya masalah tersebut tidak terjadi, sebab dapat merusak masa depan bangsa.

Wakil Ketua Bidang Program Kalyanamitra Rena Herdiyani mengungkapkan, kekerasan seksual banyak terjadi di dunia maya. Umumnya, pelaku dan korban saling tidak mengenal sebelumnya, tetapi mereka malah terjerumus dalam hal keji ini.

"Dari beragam contoh kasus kekerasan seksual, paling banyak terjadi di media sosial. Paling banyak tipenya yaitu pemerkosaan," kata Rena saat Diskusi Isu Kekerasan Seksual di AONE Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).

Ditambahkan Rena, pelaku dan korban sebelumnya sama-sama tidak mengenal. Namun, berawal dari media sosial mereka berkenalan dan bertemu. Sampai akhirnya mereka menjalin hubungan kasih, kemudian terjadilah pemerkosaan pada suatu momen.

Studi kasus ini dilakukan di kawasan Cikarang, Jawa Barat dengan responden lebih dari 50 anak dan perempuan. Para responden menjadi korban kekerasan seksual sejak lama, dengan golongan perempuan LBT, anak-anak dan perempuan disabilitas, dan kalangan lainnya.

"Kita wawancara dengan orangtua korban dan yang menangani kasusnya. Rata-rata korban usianya di bawah 18 tahu. Penelitian ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di 6 negara ASEAN," tambahnya.

Adapun 6 negara yang dimaksud yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Filipina, Thailand dan Myanmar. Menariknya, dari 6 negara tersebut ada 20 kasus kekerasan seksual lain yang kerap terjadi di media sosial.

Lima besar di antaranya yakni pemerkosaan, traficking, pelecehan seksual, pemerkosaan inses dan perkawinan paksa di bawah umur. Mirisnya, lagi terjadi di kalangan keluarga miskin.

Sisi buruknya, kekerasan seksual hingga saat ini belum memiliki regulasi yang terbuka. Padahal seharusnya, kalangan anak dan perempuan menjadi bagian tanggung jawab negara.

"Sebab tingginya kekerasan seksual tidak lain karena terbatasnya kebijakan pemerintah. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga terjadi di negara lain," bebernya.

Harapannya, dengan adanya studi ini, pemerintah harus lebih bangkit untuk melindungi anak-anak dan perempuan. Mereka adalah aset negara yang harus dilindungi dengan baik.

"Aturan hukum kita soal kekerasan seksual ini masih terbatas. Contohnya pemerkosaan saja masih dikenai sanksi kriminal, seharusnya tidak demikian," tuturnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini