Meski Jadi Harapan Baru di Dunia Kedokteran, Sel Punca Belum Bisa Dijadikan Standar Pelayanan

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 11 Oktober 2017 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 11 481 1793517 meski-jadi-harapan-baru-di-dunia-kedokteran-sel-punca-belum-bisa-dijadikan-standar-pelayanan-GpQ1EM62Sy.jpg Sel Punca Ilustrasi (Foto: Medicaldaily)

TENTU banyak orang yang berharap agar setiap penyakit ada obatnya, termasuk para dokter. Maka tak heran jika penelitian di bidang kedokteran terus dikembangkan agar setiap penyakit bisa disembuhkan.

Beberapa tahun terakhir, penerapan sel punca untuk pengobatan terus digaungkan. Pasalnya, sel punca digadang-gadang bisa menjadi harapan baru untuk pengobatan regeneratif yang tidak ada obatnya.

BACA  JUGA:

Sel punca atau stem cell merupakan sel induk yang menjadi asal muasal dari segala jenis sel di tubuh manusia. Sel punca memiliki tiga karakteristik yaitu mampu membelah dan memperbaharui dirinya sendiri, belum memiliki fungsi khusus, dan bisa diinduksi menjadi sel matang. Para ahli meyakini bahwa sel punca dapat digunakan untuk memperbaharui sel jaringan yang rusak akibat penyakit degeneratif.

Di Indonesia sendiri, penggunaan sel punca sudah coba diterapkan pada 214 pasien. “Sel punca pertama kali digunakan untuk pasien yang memiliki masalah dengan jantungnya. Hingga kini, sudah ada beberapa pasien osteoarthritis, diabetes, trauma tulang, patah tulang gagal sambung, gagal jantung, dan penyakit lainnya yang diobati dengan sel punca,” ungkap Dr. dr Ismail H.D, SpOT(K).

Lebih lanjut dr Ismail mengatakan, pengobatan sel punca digunakan pada pasien yang sudah menjalani pengobatan konvensional tapi tidak ada hasilnya atau tidak optimal. Kondisi seperti itu membuat pasien tidak memiliki pilihan pengobatan lain untuk menyembuhkan penyakitnya. Selain itu, sel punca juga seringkali dijadikan pilihan untuk mengobati pasien yang menderita luka bakar dan usianya sudah tua karena kondisi sel di dalam tubuhnya sudah tidak sempurna.

Namun sayangnya, hingga saat ini pengobatan menggunakan sel punca belum dijadikan standar pelayanan. Alasannya adalah karena harganya relatif mahal (belum bisa dicover BPJS), kriteria penyakit yang tidak seragam, dan jumlah sel punca yang disuntikkan belum bisa dipastikan. Maka dari itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan sel punca dalam pengobatan agar tetap aman dan bermanfaat.

Menurut para ahli, jika diterapkan dengan optimal, penggunaan sel punca pada tubuh manusia bisa memberikan harapan baru bagi penyakit regeneratif seperti kanker, autoimun, kerusakan syaraf tulang belakang, sakit persendian, diabetes, cerebral palsy, alzheimer, penyakit jantung, penyakit kelainan genetik, dan lain-lain.

Keyakinan ini kemudian menjadi dasar untuk menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Kedua Sel Punca dan Rekayasa Jaringan di bulan November nanti yang melibatkan 40 pakar sel punca dari berbagai dunia.

BACA JUGA:

"Kami yakin pertemuan ini akan menjadi sumber informasi terkini mengenai perkembangan sel punca dan rekayasa jaringan. Hal itu tentunya bisa memperkuat penelitian dan percepatan untuk menerapkan inovasi penggunaan sel punca di Indonesia dan dunia,” ujar ketua panitia acara, Dr. dr Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM saat ditemui dalam jumpa pers rencana penyelenggaraan pertemuan ilmiah Rabu (11/10/2017) di RSCM, Jakarta Pusat.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini