nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

FOOD STORY: Menikmati Saprahan, Melestarikan Kebersamaan & Adab Orang Melayu

Dina Prihatini, Jurnalis · Kamis 12 Oktober 2017 11:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 12 298 1793884 food-story-menikmati-saprahan-melestarikan-kebersamaan-adab-orang-melayu-7VI4ZJvCjQ.jpg Tradisi makan bersama saprahan (Foto:Dina/Okezone)

SAPRAHAN bagi seluruh masyarakat Melayu terutama yang ada di Kota Pontianak, merupakan budaya yang terus menerus dilestarikan.

Filosofi pada kegiatan saprahan salah satunya memiliki nilai kebaikan, kebersamaan dan adab di mana acara makan bersama pun memiliki seorang pemimpin.

Biasanya seorang kepala saprah tidak boleh berhenti sebelum anggota saprahan berhenti. Karena menunjukkan bahwa pemimpin itu harus mengayomi.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, dalam saprahan ini mengandung filosofi yang sangat bagus untuk tatanan kehidupan di era globalisasi, di mana budaya-budaya luar yang tidak cocok dengan kondisi di negara ini bisa menjadi filter melalui budaya lokal seperti saprahan.

BACA JUGA: Heboh! Muncul Kue Bentuk Wajah Penuh Jerawat, Mau Coba Makan?

"Kenapa saprahan kita tonjolkan, karena dalam saprahan itu terkandung wujud nyata dari sikap yang harus diwujudkan oleh orang-orang melayu dalam menghormati tamu, tatanan rapi dalam penyajian makanan dan rasa. Cara penyajiannya itu wujud penghormatan kepada tamu yang ada," ungkapnya saat membuka Festival Saprahan se-Kota Pontianak di Gedung Pontianak Convention Center, Rabu 11 Oktober 2017.

Melalui saprahan itu pula, lanjut Sutarmidji, juga sebagai implementasi dari marwah atau kehormatan orang Melayu terhadap makanan-makanan yang harus diperlakukan sebagaimana mestinya. Selain itu, dalam saprahan terkandung makna bagaimana seseorang bisa disiplin, saling menghargai, duduk bersila tanpa ada perbedaan antara satu dengan yang lain.

"Kecuali kepala saprahan atau orang-orang tua yang disegani dan dihormati, tokoh masyarakat maupun para pejabat yang menjadi tamu dalam saprahan itu," terangnya.

BACA JUGA: Hiiii, Wanita Ini Temukan Belatung dalam Hambuger!

Sutarmidji menyebut, hingga tahun kelima nanti, pihaknya masih terus mengupayakan untuk mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat, Pontianak khususnya, Kalbar dan Indonesia umumnya. Saat ini, kata dia, saprahan menjadi salah satu dari tiga warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dua warisan budaya tak benda lainnya adalah Arakan Pengantin dan batik corak insang.

"Tanggal 15 Oktober ini akan ada Festival Arakan Pengantin dan mudah-mudahan itu bisa dinikmati masyarakat Pontianak," terangnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini