Image

Putus Cinta Jadi Sedih, Apa Isi Otak Orang yang Sedang Patah Hati?

Vessy Frizona, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 21:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 13 196 1795115 putus-cinta-jadi-sedih-apa-isi-otak-orang-yang-sedang-patah-hati-z4YVa28TCu.jpg Ilustrasi (Foto: Thesun)

SAAT sedang jatuh cinta, otak seseorang dipenuhi dengan hormon yang menciptakan perasaan bahagia dan puas. Itulah mengapa rasanya sangat bahagia ketika jatuh cinta dan mengapa sangat menyakitkan begitu putus cinta.

Cinta menghasilkan nuansa alami hormon yang baik di otak manusia seperti dopamin dan oksitosin. Jadi saat Anda mengalami patah hati, itu akan mempengaruhi lebih dari sekedar perasaan hati.

Melansir dari Familyshare, Jumat (13/10/2017), maka inilah yang sebenarnya terjadi pada otak manusia ketika mengalami patah hati akibat perpisahan.

Tingkat stres meningkat

Ketika pria spesial pergi meninggalkan, zat kimia alami yang biasa membuat Anda merasa sangat bahagia mengalami penurunan tajam, mengisi otak dengan hormon stres seperti kortisol dan epinefrin. Hormon stres tersebut dirancang untuk memompa merja otak dalam situasi darurat yang singkat, tapi terlalu banyak dari mereka dalam jangka panjang membuat sakit kepala, sakit perut dan bahkan sistem kekebalan tubuh terganggu. Hubungan otak dan tubuh benar terjadi, sehingga perpisahan juga melukai otak, sama seperti menghancurkan hati.

Otak terasa kabur dan hati terasa patah

Mungkin sebagian orang telah memperhatikan bahwa sejak Anda berdua berpisah, Anda merasakan sakit perut, ketidakjelasan apa yang terjadi di kepala dan hati. Rasanya seolah-olah hati dan otak telah rusak. Maka perlu diketahui bahwa ada yang namanya patah hati sindroma. Selama sindrom hati pecah-patah, bagian otot jantung melemah sementara, sehingga dapat memicu tekanan emosional.

Pola kerja otak berubah

Bagaimana seseorang bereaksi terhadap perpisahan juga didikte oleh bagaimana otak mereka bereaksi terhadap stres, menurut Laura Miller, M.D., direktur kesehatan mental wanita di Brigham and Women's Hospital di Boston. Dengan kata lain, jika Anda rentan terhadap perut yang sangat sensitif, reaksi Anda terhadap perpisahan mungkin akan kehilangan nafsu makan, diare atau kram perut.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi perpisahan?

Inilah kabar baiknya: Rasa sakit tidak akan bertahan selamanya. Sebuah artikel penelitian penelitian Saint Louis University menunjukkan bahwa orang-orang terpesona untuk jatuh cinta dan beralih ke hubungan romantis baru. Inilah cara Anda dapat membantu diri Anda mengambil langkah selanjutnya untuk mengatasi perpisahan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini