nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diperkosa 20 Orang, Siswi SMP Trauma Berat, Pelakunya Harus Dihukum Berat

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 26 Oktober 2017 13:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 26 196 1802773 diperkosa-20-orang-siswi-smp-trauma-berat-pelakunya-harus-dihukum-berat-FymY9DiW5X.jpg Ilustrasi. Dok Okezone

SEORANG siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang baru berusia 13 tahun di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi korban pemerkosaan oleh 20 orang. Sejauh ini, kepolisian telah mengamankan 14 pelaku yang terdiri dari tujuh orang dewasa dan tujuh orang anak serta masih mengejar 6 pelaku lainnya.

Berdasarkan keterangan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Kabupaten Luwu, korban mengalami pemerkosaan pada Juni 2017 dalam waktu yang tidak bersamaan. Pada 11 Oktober 2017 lalu, korban dan keluarganya baru melapor ke Kepolisian Resor Luwu.

Berdasarkan pemeriksaan psikologis, korban mengalami trauma berat. Sementara kondisi fisik, korban alami luka berat dan terganggu atau kehilangan fungsi reproduksi. Dari temuan tersebut, maka kondisi psikologis harus disembuhkan terlebih dahulu.

"Dinas PPPA Kabupaten Luwu telah mengupayakan pendampingan psikologis untuk korban yang mengalami trauma setelah kejadian pemerkosaan," ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise seraya mengecam perbuatan keji yang dilakukan oleh 20 orang pelaku.

Menteri Yohana menjelaskan jika pelaku terbukti bersalah, maka harus dihukum berat. Mereka bisa dijerat dengan Pasal 76 D UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

(Baca Juga: Begini Penampakan Masjid Tanpa Kubah di Teheran yang Jadi Kontroversi)

Sanksinya sesuai dengan Pasal 81 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan sanksi pidana penjara 5 tahun sampai 15 tahun atau denda paling banyak Rp5 miliar.

“Kami mengapresiasi usaha pihak kepolisian yang telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dan terus berupaya mengejar dan menyelidiki pelaku pemerkosaan,” sambungnya.

(Baca Juga: Seks Jadi Kurang Nikmat, Ini Penyebab Muncul Rasa Sakit Setelah Bercinta)

Terhadap para pelaku yang masih di bawah umur, sesuai dengan Pasal 79 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, maka pelaku hanya diberikan sanksi 1/2 dari pidana pokok.

Kasus ini tidak dapat dilakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana karena sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menyatakan bahwa diversi dapat dilaksanakan jika diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.

Untuk meminimalisasi jumlah kekerasan seksual, terutama pada perempuan dan anak, sebelumnya Pemerintah melalui Kemen PPPA telah sepakat membahas Rancangan Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dan telah melalui tahap pembahasan pertama dengan DPR.

Kemen PPPA juga akan terus bekerjasama dengan Dinas PPPA Kab. Luwu dan Satuan Tugas Penanganan Masalah Perempuan dan Anak (Satgas PPA) di daerah untuk memantau dan menangani kasus ini.

(Baca Juga: Wanita Kurus Lebih Mudah Menopause Dini Dibanding Wanita Gemuk)

"Pelaku dapat dipidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun serta diberikan pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku dan tindakan berupa kebiri kimia serta pemasangan alat pendeteksi elektornik,"ungkapnya.

Menteri Yohana mengimbau agar masyarakat berani melapor kepada pihak kepolisian atau Satgas PPA apabila terjadi kekerasan seksual.

“Sudah terlalu banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Saya mengimbau agar masyarakat, khususnya para orang tua meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga anak-anak dan berani untuk segera melapor kepada pihak kepolisian atau Satgas PPA jika ada kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak kita sendiri, maupun anak-anak yang ada di sekitar kita agar kasus dapat segera diselesaikan. Selain itu, kelompok peduli anak berbasis masyarakat perlu dibentuk sebagai deteksi dini untuk mengetahui dan meminimalisasi kemungkinan tindakan kejahatan yang dapat dialami oleh anak-anak,” tegas wanita yang akrab disapa Mama Yo ini.

(Baca Juga: Gaya Liburan Mewah si Ratu Hermes, Jamie Chua Ini Bikin Ngiler!)
(Baca Juga: Gaya Liburan Mewah si Ratu Hermes, Jamie Chua Ini Bikin Ngiler!)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini