nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Kampung Pembuatan Ulos Hela untuk Seserahan Pernikahan Orang Batak

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 28 Oktober 2017 14:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 28 194 1804162 mengenal-kampung-pembuatan-ulos-hela-untuk-seserahan-pernikahan-orang-batak-adFBux4rh3.jpg Kain tradisional (Foto: Dewi/Okezone)

WILAYAH Balige, Tapanuli Utara, terdapat banyak desa budaya Batak yang masih asli. Bahkan, perempuan yang menghuni desa tersebut membuat ulos hela yang kerap dijadikan hadiah pernikahan bagi mempelai.

Mengingat Danau Toba jadi destinasi 10 Bali Baru yang digagas Kementerian Pariwisata, Anda bisa singgah di Balige untuk mengeksplorasi kawasan wisata danau terbesar ini dari sisi yang lain. Ada beberapa desa asri dan masih melestarikan budaya Batak hingga kini.

Di desa-desa itu, ada daya tarik kain ulos dibuat secara manual dari tangan-tangan telaten para ibu-ibu di desa. Sebagaimana contohnya di Kampung Simanjuntak, Desa Meat, Balige yang disambangi Okezone. Yuk kenali lebih dalam bagaimana pembuatannya.

Pembuat Ulos Bestiur Boru Pakpahan sudah lebih dari 40 tahun tekun membuat ulos setiap hari. Dia diajarkan oleh induk keluarganya terdahulu, sekaligus untuk mempertahankan budaya. Ibu dari 9 anak ini menghabiskan kesehariannya untuk membuat ulos hela.

 

Membuat ulos, kata Tiur, ternyata sudah menjadi tradisi perempuan Batak dari nenek moyangnya. Kain ini bukan sembarangan dibuat, tetapi ada artinya.

Ulos hela biasa diberikan kepada menantu laki-laki saat pesta pernikahan. Tradisi ini tak boleh ketinggalan karena sudah menjadi adat turun-temurun.

"Ulos hela ini dari Desa Meat, saya setiap hari merangkai benang supaya jadi satu ulos utuh. Kalau sudah jadi utuh, prosesnya biasanya satu minggu satu kain seukuran 2,5 meter," ucapnya dengan logat Batak di rumahnya, Desa Meat, Balige, Sabtu (28/10/2017).

Sebelum menjadi ulos yang cantik, butuh proses yang sangat panjang. Karena pada dasarnya, benang ulos sangat lembut sehingga sulit diubah menjadi kain.

Pertama ulos ini berupa bahan mentah dari benang yang lembut. Penduduk desa saling bekerja sama untuk memproduksi satu ulos. Adapun nama benangnya disebut dengan ragihotang. Warna benang yang identik dipakai yakni merah, hitam dan emas.

 

Untuk pertama kalinya, benang ragihotang digulung atau dipintal di kayu khusus. Lalu pengerjaannya pun dengan tangan sampai tampak rapi. Kemudian agar benangnya mudah dirangkai menjadi ulos, benang harus diunggas alias diberi pengeras dan pelicin.

"Kita unggas, kita keraskan dengan nasi dan kemiri untuk pelicin. Ini untuk benang yang sudah digulung," bebernya sembari membuat ulos.

Lalu benang mulai diani dan disulap dalam waktu satu minggu satu kain. Perempuan darah Batak telaten menyusun benang ulos tak kenal waktu.

Dalam satu keluarga, mereka saling bekerja sama membuat ulos. Dalam tradisi sebelumnya ulos murni dipakai oleh anggota keluarga baru saat menikah.

Setelah ulos sempurna, dia menjualnya lagi kepada produsen langganannya yang menurutnya harganya dibeli dengan tidak masuk akal. Kebanyakan kaum ibu membuat ulos dengan benang yang diberi pemodal.

Satu ulos yang dibeli hanya seharga Rp300 ribu untuk upahnya saja. Sementara jika ulos dipasarkan utuh dan rapi bisa dijual hingga seharga Rp600 ribu.

 

Setelah itu, oleh pemodal ulos yang telah sempurna dipasarkan hingga harga jutaan rupiah. Inilah yang membuat masing-masing pengrajin ulos sama mengeluh.

"Sekarang membuat ulos harganya sudah tak masuk akal. Dibeli murah oleh pemodal, tapi jadi menjatuhkan harga di pasaran sini," keluh Tiur.

Namun, karena mereka tetap ingin melestarikan tradisi ulos, mereka dengan ikhlas membuat ulos setiap hari. Mulai dari pukul 07.00-18.00 mereka berkutat membuat ulos yang cantik. Pastinya mereka tidak akan merasa lelah membuat ulos demi melestarikan tradisi nenek moyangnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini