nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Untuk Menghormati Orang yang Sudah Meninggal, Keluarga di India Lakukan Makan Bersama

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 03 November 2017 10:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 03 406 1807673 untuk-menghormati-orang-yang-sudah-meninggal-keluarga-di-india-lakukan-makan-bersama-pMlVtowUS7.jpg Makan Bersama (Foto: NDTV)

MEMBACA judulnya mungkin membuat Anda mengarah pada tradisi "Tahlilan". Secara eksplisit memang bisa dikatakan seperti itu. Hanya saja kepercayaan dan budaya yang ada berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Di negara yang didominasi ajaran Hindu, tentunya kepercayaan tradisi ini punya latar belakang yang berbeda. Jika di Indonesia Tahlilan dilakukan selama 7 hari berturut-turut setelah meninggalnya anggota keluarga, di India bagaimana ya?

Berdasar beberapa referensi yang didapat Okezone, tradisi serupa di India dinamakan Pitru Paksha. Tujuannya pun sama untuk menghormati dan mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal.

Mengenai lama pelaksanaan tradisi tersebut, untuk di India, ritual ini dilangsungkan selama 16 hari. Jadi orang yang hidup melakukan ritual Sharaddha di dalam pikiran mereka untuk membantu para roh menyeberang ke alam keabadian.

Berdasar mitologi Hindu, dijelaskan bahwa 3 generasi setelah leluhur meninggal, roh berada di antara langit dan bumi yang disebut Pitru Loka. Di India Utara dan Nepal, ritual ini mengikuti kalender purnimanta atau kalender matahari.

Dalam Pitru Loka diperintah oleh Yama atau dewa kematian yang membawa jiwa manusia yang sekarat dari Bumi. Ketika seseorang dari generasi berikutnya meninggal, generasi pertama bergeser ke surga dan bersatu dengan Tuhan. Jadi, hanya tiga generasi di Pitru Loka yang diberi ritual Sharaddha.

Lebih lanjut lagi, tradisi persembahan Sharadh (sumbangan) selama Pitru Paksha dikaitkan dengan kisah mitologi Karna. Karna adalah orang yang telah menyumbangkan emas dan hal-hal berharga lainnya sepanjang hidupnya untuk membantu yang membutuhkan dan tertindas.

Saat dia meninggal, jiwanya pergi ke surga, di mana dia diberi emas dan perhiasan untuk dimakan. Saat dia pergi ke Dewa Indra untuk mengetahui alasan kematiannya dan mengatakan kepadanya bahwa meskipun menyumbangkan banyak hal, terutama emas selama hidupnya, dia tidak pernah menyumbangkan makanan kepada nenek moyangnya.

Karna beralasan dia tidak menghormati leluhurnya tersebut. Karena itu, bisa dikatakan dia tidak pernah menyumbangkan apapun. Jadi Dewa Indra membiarkan Karna kembali ke bumi untuk melakukan Sharaddha dan mencari penebusan.

Dipercaya bahwa selama periode 16 hari ini nenek moyang seseorang turun ke bumi untuk memberkati keluarga mereka. Melakukan ritual ini juga dipercaya membantu leluhur seseorang menyeberang ke alam keabadian mereka.

Ritual Sharaddha biasanya dilakukan anak laki-laki tertua dari sebuah keluarga. Setelah mandi, dia diminta memakai cincin yang terbuat dari rumput kush yang menyimbolkan kebajikan dan digunakan untuk memanggil leluhur.

Bicara mengenai makanan yang disajikan, para ritual ini ternyata makanan tidak boleh sembarang. Jadi, benar-benar dibuat khusus untuk acara tersebut.

Kepercayaan lain banyak terdengar, jadi ketika ada burung gagak yang dianggap utusan Yama memakan makanan itu, maka itulah tanda keberuntungan. Selanjutnya, para imam Brahmana ditawari makanan yang telah dikonsumsi oleh keluarga mereka.

Namun, ada beberapa hal yang harus dihindari selama Pitru Paksha. Pertama hindarilah membeli dan mengenakan baju baru, mencuci rambut, memotong rambut, dan mencukur kumis selama ritual ini, terutama pada hari terakhir, yang disebut Mahalaya Amavasya.

Adapun makanan non vegetarian termasuk bawang merah dan bawang putih pun dilarang dalam ritual ini. Hanya seseorang yang melakukan ritual dengan kesungguhan dan tidak ada kejahatan di dalam hatinya, dipercaya usahanya akan berhasil.

Jadi, penting untuk menghapus pikiran-pikiran negatif dan memberi hormat kepada nenek moyang seseorang dengan sangat tulus dan hormat. Hal yang juga penting adalah menahan diri dari kegiatan bersenang-senang agar ritual tersebut dapat berhasil.

Sementara itu, sedikit informasi bahwa upacara ini sudah dilakukan di September lalu. Berikut jadwal yang berhasil diketahui:

Pitrupaksha calendar 2017

5 September (Selasa) – Purnima Shraddha

6 September (Rabu) – Pratipada Shraddha

7 September (Kamis) – Dwitiya Shraddha

8 September (Jumat) – Tritiya Shraddha

9 September (Sabtu) – Chaturthi Shraddha

10 September (Minggu) – Maha Bharani, Panchami Shraddha

11 September (Senin) – Shashthi Shraddha

12 September (Selasa) – Saptami Shraddha

13 September (Rabu) – Ashtami Shraddha

14 September (Kamis) – Navami Shraddha

15 September (Jumat) – Dashami Shraddha

16 September (Sabtu) – Ekadashi Shraddha

17 September (Minggu) – Dwadashi Shraddha, Trayodashi Shraddha

18 September (Senin) – Magha Shraddha, Chaturdashi Shraddha

19 September (Selasa) – Sarva Pitru Amavasya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini