nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekuatan Aroma & Rasa Asamnya, Kopi Mandailing Arabica Pagur Tembus Pasar Nasional

Liansah Rangkuti, Jurnalis · Sabtu 04 November 2017 21:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 04 298 1808551 kekuatan-aroma-rasa-asamnya-kopi-mandailing-arabica-pagur-tembus-pasar-nasional-7vQRWjvh55.jpg Kopi arabica pagur dari Mandailing Natal (Foto:Liansah/Okezone)


KOPI Arabica Pagur, kopi yang berasal dari Desa Pagur, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), kini tembus ke pasar kota-kota besar di Indonesia.

Awalnya Agus Budiawan (32), warga Desa Pagur Lulusan Universitas Riau Jurusan Elektronik ini tak menyangka menjadi terobsesi menjadi penjual kopi khas Mandailing. Di mana desanya yang terpencil di sudut Kota Panyabungan paling susah mendapatkan sinyal handphone.

Dia mengaku bahwa bisnis kecilnya pernah terkendala untuk pemasarannya, "Sempat terkendala saya mau memasarkannya saja melalui media sosial, harus turun dari desa saya yang di daerah pegunungan ini untuk menemukan sinyal," kata Budiawan kepada Okezone baru-baru ini

BANYAK JUGA:

LUAR BIASA, Layani Istri John Legend Pelayan Restoran Ini Diganjar Tip Belasan Juta

Namun semangatnya tidak pernah pudar.  Mencapai satu tahun ia hanya bisa memasarkan kopinya di sekitaran Panyabungan, bahkan ia mengikutsertakan hasil karyanya di TTG tingkat Provinsi Sumut yang kebetulan digelar di Kabupaten Madina Taman Raja Batu. Sesudahnya mulailah kopi arabica pagur buatannya mulai dikenal hingga beredar di pasar tradisional di Indonesia.

"Yang biasa saya kirim kepada konsumen kopi pagur ini, ada yang ke Yogyakarta, Jakarta, Bali, Batam dan Kota Medan, bahkan daerah Kalimantan sudah pernah ada yang pesan," paparnya

Sebenarnya kopi Arabica Pagur yang menarik perhatian orang banyak, mulai dari perbedaan rasa dan aromanya. Arabica Pagur memiliki citarasa cenderung asam dan memiliki aroma bunga serta buah, sehingga para pecinta kopi tidak tahan ingin menikmatinya.

Menurut Budiawan, dari penanaman Kopi Arabica Pagur,  daerah penanaman harus memiliki ketinggian minimal 900 meter dan maksimal 1.400 meter dari permukaan atas laut, untuk menghasilkan kopi Arabica Sumatra Mandailing yang berkualitas.

"Dari tempat penanamannya saja harus memiliki ukuran tertentu sehingga bisa dikatakan Kopi Arabica yang berasal dari Sumatera Mandailing," tukasnya

 

Pengolahan kopi bermacam rupa kata Budiawan, kebetulan Arabica pagur yang ia buat bernama Samy Wols. Setelah dipanen minimal 8 jam kopi harus dipalper atau dikupas kulit luarnya.

Sesudah itu biji kopi harus direndam selama 12 setelah itu baru dicuci kembali, kemudian dikeringkan selama 2 atau 3 hari berturut-turut di bawah terik matahari, tujuannya untuk menghilangkan lendir kopi dan betul-betul memiliki kopi yang khas.

BACA JUGA:

Perkenalkan Duta Kopi Indonesia 2017, Mahasiswa dari Wilayah Tapal Kuda

Kemudian kopi yang sudah dikeringkan dimasak lagi menggunakan api seperti memasak kopi lainnya.  Tinggal cara menyeduh kopi buatannya yang hasilnya seperti kopi peras itu yang berbeda dari kopi-kopi lainnya yang ada di Mandailing.

"Kita menyeduh kopi arabica pagur punya takaran dan teknik spesial, sebelumnya kita menggunakan saringan yang paling halus untuk satu gelas saya membuat ukuran kopinya seberat 12 gram untuk ukuran 150 ml kadar air dan suhunya 90 s/d 95 suhu panas," jelasnya

Untuk kopi buatannya ia memasarkannya untuk sistem pengiriman seperti ke luar daerah ia menjajakan seharga Rp70.000 untuk ukuran 200 gram dan ukuran 100 gram dengan harga Rp35.000. Sedangkan yang untuk seduhan ia memberikan harga hanya Rp7.000 pergelasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini