nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Beredar Konten Porno di Whatsapp, Ini Saran Psikolog untuk Para Orangtua

Annisa Aprilia, Jurnalis · Senin 06 November 2017 18:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 06 196 1809324 marak-beredar-konten-porno-di-whatsapp-ini-saran-psikolog-untuk-para-orangtua-TeqJHH84kX.jpg

DI zaman yang sudah canggih dan modern seperti sekarang ini, segalanya menjadi instan dan mendapatkan informasi pun bisa begitu mudah. Akan tetapi, di tengah-tengah zaman yang sungguh tidak dapat lagi ditolak kemodernannya tersebut, sebagai orangtua Anda harus lebih waspada lagi dengan kegiatan anak-anak.

Segala informasi bisa dengan sangat cepat dan mudah diakses oleh anak-anak, tidak terkecuali informasi atau konten yang belum sepatutnya mereka dapatkan. Salah satu yang tengah marak diperbincangkan oleh netizen, yaitu aplikasi perpesanan whatsapp yang menyimpan konten gif pornografi.

Gambar bergerak dengan adegan dewasa tersebut dapat dengan mudah dilihat oleh anak-anak atau remaja hanya dengan mengetik kata kunci saja. Untuk itu, pemerintah dan orang tua pun harus bekerjasama agar dampak negatif yang ditimbulkan dari konten pornografi tersebut tidak dialami oleh anak-anak Indonesia.

Dengan tanggapan cepat  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), melalui Dirjen Aplikasi dan Informasi telah memblokir sebanyak enam Domain Name System (DNS), dan pemblokiran untuk Tenor, sebagai situs penyedia konten GIF porno yang ada di Whatsapp.

BACA JUGA:

Cabuk Rambak, Kuliner Khas Solo yang Hadir Sebagai Suguhan Pesta Pernikahan Kahiyang-Bobby

VIRAL! Pria Berkaki Satu Ini Sukses Jadi Apa Saja, Mulai Lampu Hias hingga Flamingo

Akan tetapi, konten asusila berformat GIF tersebut masih bisa diakses. Untuk itu, agar anak-anak dan remaja di Indonesia tetap terlindungi dari dampak negatif, orang tua harus melakukan beberapa pencegahan terhadap anak-anak mereka.

“Cara terbaik adalah mencegah sebelum anak-anak mengetahui konten porno tersebut. Orang tua perlu membatasi setiap konten yang ada, kalau sampai anak bertanya alasannya, perlu dijelaskan dengan baik ke anak supaya anak juga mengerti dampak negatif dari konten yang belum sepatutnya mereka terima,” tutur Erna Marina Kusuma, M.Psi. C. Ft, Psikolog Anak dan Remaja, ketika diwawancarai melalui pesan singkat, Senin (27/11/2017).

BACA JUGA:

Cabuk Rambak, Kuliner Khas Solo yang Hadir Sebagai Suguhan Pesta Pernikahan Kahiyang-Bobby

VIRAL! Pria Berkaki Satu Ini Sukses Jadi Apa Saja, Mulai Lampu Hias hingga Flamingo

Tidak hanya Erna, Psikolog Dra. A. Kasandra Putranto, juga turut memberikan pendapatnya mengenai dampak dari konten pornografi yang diakses oleh anak-anak atau remaja. Menurut psikolog  yang sudah akrab namanya dikalangkan masyarakat Indonesia tersebut, mengatakan hal terpenting untuk mencegah anak mengakses konten porno ialah menumbuhkan resiliensi atau ketangguhan atau daya tahan mental, karena teknologi mengandung risiko yang tidak kecil.

“Yang paling penting selain membatasi gadget adalah menumbuhkan resiliensi atau ketangguhan daya tahan mental anak, karena perkembangan teknologi memang mengandung risiko yang tidak kecil,” ucapnya.

Konten pornografi ini memang cukup serius dampaknya bagi anak-anak dan remaja. Terlebih anak-anak yang masih berada dalam masa mudah tertarik sesuatu melalui visual, tentu gambar-gambar lucu dan karakter dari tontonan akan sangat mudah menarik perhatian mereka.

“Konten GIF sangat mudah diingat oleh anak dan ditiru, apalagi jika disajikan dalam bentuk kartun dan lucu. Orang tua seringkali kecolongan jika meraka hanya melihat gambar kartunnya namun tidak melihat secara keseluruhan,” tambah Erna.

Erna juga mengatakan, jika anak-anak dan remaja melihat konten porno secara terus menerus, baik dalam bentuk kartun atau bukan, tentu akan memengaruhi perkembangan otak mereka. Bagian seksualitas menjadi tinggi dan hal ini dapat membuat anak menjadi lebih mudah agresif, sensitif dan lebih cepat memasuki masa pubertas daripada yang seharusnya.

Lebih jauh, Kasandra Putranto pun memiliki pernyataan yang hampir serupa dengan Erna. Ia mengatakan anak-anak yang kecanduan konten porno akan berdampak pada tingkat kecemasan anak yang tinggi, kadar dopamine rendah dan serotonin yang tidak stabil.

“Masalah adiksi terkait dengan kualitas perilaku yang terkait dengan beberapa fungsi neurotransmitter (cairan dalam otak) dalam otak. Penelitian membuktikan adiksi kerap terkait dengan depresi yang ditandai dengan kecemasan tinggi, kadar dopamine rendah dan serotonin yang tidak stabil,” ucapnya.

Selain itu, Kasandra juga menutup penjelasannya dengan menyarankan para orang tua untuk membiasakan kebiasaan baik pada anaknya, agar dapat meminimalkan berbagai risiko negatif. Sementara, Erna menganjurkan kepada para orang tua supaya mengetahui konten-konten apa saja yang ada di dalam whatsapp anak-anaknya.   

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini