nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

UNCOVER INDONESIA: Sejarah Panjang Istana Tampaksiring dan Tirta Empul yang Tak Terpisahkan

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 06 November 2017 20:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 06 406 1809478 uncover-indonesia-sejarah-panjang-istana-tampaksiring-dan-tirta-empul-yang-tak-terpisahkan-mDQN3S24lz.jpg

ISTANA Kepresidenan Tampaksiring berada di desa Tampaksiring, kabupaten Gianyar, Bali. Istana ini cukup terpencil karena jauh dari kesibukan pemerintahan atau lalu lintas sehari-hari.

Berdiri di lahan berbukit kecil berketinggian 700 meter, Istana Tampaksiring menawarkan pemandangan indah bagi para penghuninya. Di sebelah utara tampak Gunung Batur dan agak ke arah timur tampak Gunung Agung.

Sedangkan bila melihat ke bawah, ada kawasan perkampungan khas Bali dan pura Tirta Empul yang sampai sekarang dipakai masyarakat dan menjadi salah satu destinasi favorit wisata.

Istana Tampaksiring pun menjadi satu-satunya istana yang dibangun setelah kemerdekaan yaitu pada periode 1957-1960.

Presiden Sukarno adalah orang yang menjadi inisiator pendirian Istana Tampaksiring. Saat itu hubungan diplomatik Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dengan dunia luar pada 1950-an membuat Indonesia mulai kedatangan banyak tamu agung dari luar negeri dan berminat untuk mengunjungi pulau dewata.

Sukarno pun menginginkan adanya tempat peristirahatan bagi para pemimpin negara dan pemerintahan beserta keluarga mereka ketika berkunjung ke Bali.

Tidak ada satu bangunan megah yang tampak bak istana dengan pilar-pilar besar dan lampu kristal seperti kelima istana kepresidenan lainnya. Kompleks istana Tampaksiring malah dirancang berupa wisma-wisma peristirahatan dan pertemuan yang fungsional dan sederhana.

Bagian luar wisma membawa wajah seperti rumah Bali dengan tiang serta sudut dilengkapi dengan ukiran timbul dari batu karang batu paras. Dinding dalam berupa tembok dengan teterawangan (ukiran timbul) di beberapa tempat, sedangkan atasnya berua kepingan papan tipis-tipis tanpa naungan yang megah.

Jarak wisma yang satu dengan wisma yang lain juga cukup jauh, terpencar di atas lahan seluas 19 hektar karena memang bangunan istana dibuat secara bertahap di atas lahan bekas pesanggrahan Raja Gianyar yang dirobohkan. Memang pada masa Raja Gianyar V dan VI, pesanggrahan itu banyak dimanfaatkan oleh para tamu asing, khususnya pejabat pemerintah Hindia Belanda.

Arsitek yang ditunjuk dalam pembangunan ialah R.M. Soedarsono di bawah pengawasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum seksi Gianyar Tjokorde Gde Raka. Bangunan pertama berdiri pada 1957 yaitu Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira. Pembangunan berikutnya dilaksanakan pada 1958 hingga 1960.

Total ada lima gedung utama, 2 pendopo dan 1 ruang konferensi yang dibangun belakangan pada era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka dan Wisma Negara, tiga gedung utama lainnya adalah Wisma Yudhistira, Wisma Bima dan Balai Wantilan.

Wisma Merdeka adalah wisma seluas 1.200 meter persegi yang berfungsi untuk menerima tamu negara. Di dalamnya ada ruang tidur, ruang tamu dan ruang kerja lengkap dengan patung-patung khas Bali, lukisan tradisional Bali serta perabotan.

Dari sebelah kiri ruang tamu ke arah kaki bukit terlihat kompleks pura Tirta Empul yang anggun dan penuh kedamaian. Riwayat terjadinya Tirta Empul (air suci) ini direkam ke dalam hiasan relief khas Bali di dinding kanan serambi belakang wisma.

Di taman belakang Wisma Merdeka tersembul di antara tanaman satu patung kecil warna putih yang tingginya tak sampai 1 meter berada di depan kolam ikan. Patung yang menggambarkan seorang anak laki-laki yang sedang berusaha mencabut duri yang menancap di telapak kaki kirinya sembari duduk diberi nama patung "Tusuk Duri" buatan seniman Italia tahun 1957.

Berada di sisi bukit di seberang Wisma Merdeka ada Wisma Negara seluas 1.482 meter persegi. Dua bukit yang menopang kedua wisma itu dipisahkan oleh celah bukit yang cukup dalam yaitu sekitar 15 meter. Bagian utama Wisma Negara juga sama dengan bagian utama Wisma Merdeka. Dinding barat ruang tamu Wisma Negara juga dikisahkan riwayat Tirta Empul.

Antara Wisma Merdeka dengan Wisma Negara dihubungkan jembatan penghubung sepanjang 40 meter dan lebar 1,5 meter dengan tinggi 20 meter. Tamu-tamu negara yang datang berkunjung untuk membina persahabatan, selalu diantar melalui jembatan ini. Itulah sebabnya, jembatan berukir artistik itu disebut Jembatan Persahabatan.

Di Wisma Negara ini juga akan nampak pemandangan Tirta Empul, desa Manuk Air dan Manuk Kaya. Di bukit samping Wisma Negara juga tumbuh pohon leci yang rindang. Di bawah pohon ceri itulah Presiden Susilo Bambang Yudoyono sempat menciptakan lagu mengenai Istana Tampaksiring berjudul "Dendan di Malam Purnama".

Di lembah, pengelola istana membuat jalanan aspal bagi penduduk desa dan sekitarnya untuk lalu lalang dari dan ke pura Tirta Empul. Mereka juga boleh melewati jalan pekarangan istana sebelah utara pada waktu upacara Piodalan di Tirta Empul sembari menjunjung sesaji karena pantang bagi warga untuk lewat di bawah jembatan persahabatan dengan membawa persembahan sebab artinya dilangkahi orang.

Istana pun akhirnya bukan menyimbolkan kekuasaan tapi bagaimana hubungan rakyat dengan presiden pilihan mereka.

Selanjutnya ada wisma Yudhistira yang terletak di tengah kompleks Istana Tampaksiring. Luasnya wisma ini mencapai 1.825 meter persegi yang difungsikan untuk menginap rombongan presiden atau rombongan tamu negara yang sedang berkunjung ke Istana Tampaksiring. Terdapat 16 kamar di dalam wisma.

Wisma Bima terletak di sebelah barat laut Wisma Merdeka, luasnya adalah 2.310 meter persegi yang berfungsi sebagai tempat beristirahat para pengawal serta petugas yang melayani presiden dan kelarga.

Bangunan lain yang penting di lingkungan Istana Tampaksiring adalah pendopo/balai Wantilan yang berarsitektur khas Bali untuk kegiatan kesenian.

Awalnya, balai Wantilan beratap ilalang dan tiang-tiangnya berupa batang pohon kelapa dengan ukiran khas Bali namun saat ini tiangnya sudah diganti dari beton yang dilapis dengan kayu. Di bagian depan terdapat panggung pertunjukkan kesenian yang berlatar belakang pintu gapura Candi Bentar.

Di kiri dan kanan depan panggung terdapat patung burung Garuda dan di bagian belakang ruangan berdiri patung kayu yang melukiskan raksasa Kumbakarna (adik Rahwana), raksasa yang sedang dikerubuti banyak kera, semuanya dipahat dari satu pokok kayu. Dinding belakang dihiasi relief yang merupakan cuplikan cerita Ramayana. Selain itu, di dekat panggung terdapat patung seorang penari Bali yang gaunnya terbuat dari uang kepeng.

Namun karena balai Wantilan itu dinilai terlalu kecil, maka dibangun "kakak kembar"-nya yaitu pendopo yang lebih besar, berlokasi tidak jauh dari Balai Wantilan. Namun pendopo ini tidak punya tiang-tiang di tengahnya. Pendopo baru itu juga digunakan untuk acara-acara kesenian, bahkan ada satu set paket barong Bali yang "diisi" kaki-kaki sehingga barong tampak hidup berada di panggung. Barong itu berasal dari Istana Jakarta yang merupakan koleksi Presiden Soeharto.

Di depan Balai Wantilan dibangun ruang konferensi bertepatan untuk kepentingan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, pada 7-8 Oktober 2003 di Bali. Gedung konferensi itu punya fasilitas lengkap untuk konferensi internasional ditambah seperangkat alat band untuk menyalurkan hobi bermain musik.

Masih ada juga museum yang terletak di barat Wisma Bima. Namun museum itu saat ini sedang direnovasi sehingga koleksi museum seperti lukisan para pelukis kenamaan seperti Le Mayeur, Rudolf Bonnet, Dullah, Sudarso, dan Agus Djaja untuk sementara disimpan di kantor kepala istana.

Di Istana Tampaksiring juga ditemui satu karya langka Rudolf Bonnet berupa lukisan pemandangan karena Bonnet biasanya melukis sosok manusia. Ada juga karya pematung Bali yang terkenal, Cokot.

Sudah beragam tamu negara tercatat menginap di Istana Tampaksiring seperti, Raja Thailand Bhumibol Adulyadey dan permaisurinya, Ratu Sirikit, Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito, Presiden Vietnam Ho Chi Minh, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev, Ratu Juliana dan Pangeran Bemhard dari Belanda, Putra Mahkota Akihito dan Putri Michiko dari Jepang, Presiden Birma Ne Win, Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja hingga Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar. Di Istana ini, Presiden Ne Win dari Birma melakukan perundingan dengan Presiden Soeharto pada 1982. Pertemuan informal antara Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan Presiden Taiwan Lee Teng-hui juga terjadi di sana untuk membicarakan berbagai isu strategis hubungan Indonesia-Taiwan.

Jangan lupakan juga hewan peliharaan di Istana Tampaksiring yaitu Rusa totol (Axis Axis) dibawa ke Istana Bogor oleh Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stanford Raffless pada 1814 dan dikembangbiakkan di Bogor. Rusa di Istana Tampaksiring Bali juga didatangkan dari Istana Bogor.

"Saat ini jumlah rusa sudah lebih dari 150 ekor, sebagian juga diberikan ke yang instansi yang meminta. Awalnya kami hanya dapat 25 ekor dari Istana Bogor tahun 1998," kata Kepala Subbagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Tampaksiring I Nyoman Gde Suyasa.

Perpaduan wisma berdesain fungsional, bukit yang hijau, pohon rindang, jembatan penghubung dan rusa yang ceria sangat cocok menjadi unsur pembentuk persahabatan di Istana Tampaksiring.

Tampaksiring dan Tirta Empul

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali yaitu tampak (telapak) dan siring (miring). Konon, menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa.

Raja Mayadenawa pandai dan sakti, tetapi sayangnya ia memiliki sifat angkara muka. Raja ini juga menganggap dirinya dewa dan menyuruh rakyatnya untuk menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra selaku pemimpin para dewa pun marah dan mengirimkan bala tentaranya untuk menghancurkan Mayadenawa.

Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu ialah jejak manusia/jejaknya.

Bagaimanapun, akhirnya usaha Mayadewana gagal, dan ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut.

(Baca Juga: VIRAL! Pria Berkaki Satu Ini Sukses Jadi Apa Saja, Mulai Lampu Hias hingga Flamingo)

Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut dengan cara menancapkan umbul-umbul tiang suci yang dibalut kain ke tanah, ketika umbul-umbul dicabut dari lobangnya keluar air bersih untuk pemusnah racun. Air penawar racun itu kemudian bernama Tirta Empul (air suci).

Saat dipercikan kepada pasukan Batara Indra maka seorang demi seorang pun hidup lagi. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Tampaksiring.

Dari legenda itu maka tak heran Istana Tampaksiring dan pura Tirta Empul seolah tak terpisahkan.

Tirta Empul hanya terletak beberapa puluh meter di lembah sebelah utara istana. Dengan menuruni lebih dari seratus anak tangga kompleks istana, Tirta Empul dicapai langsung dari Wisma Merdeka. Tapi tamu negara tidak perlu jauh-jauh ke Tirta Empul sebab air yang digunakan di istana dipompa ke atas dari sumber mata air itu.

Soedarsono, sang arsitek Istana Tampaksiring, menggunakan pipa-pipa sebagai susuran (railing) di beberapa teras. Sekilas tampak seperti susuran padahal sebetulnya pipa-pipa itu juga berfungsi sebagai saluran air.

Menurut riwayatnya, di salah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring yang menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahan itu sekarang berdiri Wisma Merdeka, bagian Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Karena Istana Tampaksiring dan Tirta Empul merupakan dua tempat yang tak terpisahkan maka masyarakat pun diberikan akses menuju pura Tirta Empul.

"Wujud kecintaan Presiden Sukarno terhadap masyarakat Bali adalah dengan tetap memberikan akses ke masyarakat menuju Pura Tirta Empul. Jalan tersebut berada di bawah Jembatan Persahabatan yang tersambung dengan terowongan menuju banjar atau desa," kata Kepala Subbagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Tampaksiring I Nyoman Gde Suyasa.

Menurut Nyoman, iring-iringan masyarakat pada saat hari raya Galungan (hari Kemenangan Kebenaran) dan Saraswati (Hari Pendidikan) yang datang setiap 210 hari juga dibolehkan melewati istana meski Presiden bermalam di sana.

(Baca Juga: Cabuk Rambak, Kuliner Khas Solo yang Hadir Sebagai Suguhan Pesta Pernikahan Kahiyang-Bobby)

"Larangan ke Tirta Empul sama sekali tidak ada, pasti ada izin asalkan dikoordinasikan dengan pimpinan kami," tambah Nyoman.

Bahkan dulu, para pegawai istana juga mandi di Tirta Empul karena PDAM baru masuk ke Istana Tampaksiring tahun 1970-an, pun para turis belum sebanyak dan sebersemangat saat ini untuk mengunjungi Tirta Empul. Dari pinggir wisma dengan mata telanjang penghuni istana dapat melihat warga yang beraktivitas di pemandian tersebut.

Menurut cerita, pernah pada suatu hari Presiden Sukarno turun ke Tirta Empul dan membagi-bagi sabun mandi kepada semua orang yang sedang mandi di sana. Ia juga sering duduk minum kopi sambil menikmati jajanan yang disuguhkan masyarakat setiap kali ia berkunjung ke rumah-rumah penduduk. Dalam kunjungan informal seperti itu Soekarno selalu membawa sesedikit mungkin pengawal.

Istana Tampaksiring pada masa Sukarno memang merupakan tempat yang terbuka bagi masyarakat. Di dekat pintu masuk, misalnya, ia mengizinkan lapangannya dipakai oleh masyarakat desa Manukaya untuk bermain sepak bola.

Kecintaan Sukarno terhadap masyarakat Bali dan kecintaan masyarakat Bali terhadap Sukarno pun terwujud dari museum Presiden Sukarno yang didirikan swadaya oleh masyarakat yaitu The Soekarno Center dan berjarak sekitar 1 kilometer dari Istana Tampaksiring. Museum itu dibuka gratis untuk umum.

"Iring-iringan upacara keagamaan memang tidak pernah dibatasi sejak dulu, bahkan pernah saat Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono menginap di sini iring-iringan lewat di jalan itu menuju Tirta Empul, Ibu Ani sibuk foto-foto. Dulu lagi bahkan ada masyarakat yang membawa babi lewat sini walau sekarang tidak lagi," cerita Nyoman.

Jalanan menurun menuju Tirta Empul di samping Wisma Merdeka itu juga diselingi pohon leci dan pohon berbunga merah. Menurut cerita yang berkembang, siapa yang berdiri di bawah pohon lalu kejatuhan bunganya maka akan mendapatkan jodoh.

Sayangnya, meski asri dan membawa kedamaian bagi para penghuninya, Presiden Joko Widodo belum pernah mengunjungi Istana Tampaksiring hingga masa pemerintahan tahun ketiga ini.

"Untuk Pak Presiden Jokowi memang belum pernah berkunjung ke sini, tapi untuk Ibu Negara Iriana Jokowi dan putrinya Kahiyang Ayu sudah pernah datang dan bahkan menginap di sini semalam," tambah Nyoman.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini