Lahir dari Rahim Sama Bayi Kembar dari China Tidak Mirip, Setelah di-DNA Ternyata...

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 06 November 2017 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 06 481 1809278 lahir-dari-rahim-sama-bayi-kembar-dari-china-tidak-mirip-setelah-di-dna-ternyata-s3S19s6f4q.jpg Bayi kembar tidak mirip (Foto:Health)

SETIAP perempuan memiliki kesempatan yang sama ketika mereka hamil yaitu mengandung satu janin atau dua janin. Mengandung dua janin biasa dikenal dengan istilah kehamilan kembar. Jumlah perempuan yang mengalaminya bisa dikatakan lebih sedikit. Biasanya kehamilan kembar terjadi karena faktor keturunan atau melalui bayi tabung.

Namun hal berbeda dialami oleh Jessica Allen. Pada Desember 2016, perempuan berusia 31 tahun ini melahirkan dua orang bayi laki-laki kembar saat menjadi ibu pengganti untuk pasangan di China. Uniknya, kedua anak yang dilahirkan tampak jauh berbeda. Hal itu terungkap saat Jessica meminta gambar kedua anak tersebut setelah diterima orangtuanya.

BACA JUGA:

Kandungan Gula Nasi Dingin Lebih Rendah, Bagus untuk Penderita Diabetes

Ya, perempuan asal Perris, California itu memang langsung mengirimkan kedua bayi tersebut kepada orangtuanya usai melahirkan. Ketika ia menerima gambar kedua bayi yang dikandungnya, Jessica melihat perbedaan warna kulit pada kedua bayi tersebut.

Merasa ada yang janggal, ia pun meminta untuk dilakukan tes DNA. Hasilnya mengejutkan, ternyata salah satu dari bayi tersebut adalah anak kandungnya bersama sang suami. Tapi bayi lainnya tetap merupakan anak dari pasangan yang ia tolong. Dengan kata lain, Jessica hamil kembali usai terjadi pembuahan saat ia sedang mengandung.

Dalam dunia medis, fenomena ini dikenal dengan istilah superfetasi yang artinya kehamilan ganda. Biasanya kejadian ini terjadi pada hewan mamalia dan jarang sekali terjadi pada manusia. "Ini sangat jarang terjadi dan tidak banyak laporan mengenai hal ini. Bahkan saya tidak bisa memberikan data statistiknya. Pada perempuan hamil biasanya terjadi perubahan hormon yang mencegah tubuh untuk berovulasi. Tapi jika ovulasi tetap terjadi dan sel telur itu menjadi subur lalu terbuahi, maka dia bisa mengalami kehamilan ganda," ujar Christine Greves, MD, seorang ob-gyn seperti yang dikutip dari Health, Senin (6/11/2017).

BACA JUGA:

WASPADA! Wanita dengan Masalah Kesuburan 70% Lebih Berisiko Meninggal karena Diabetes

Menurut ob-gyn lainnya, Sherry Ross, MD, alasan perempuan tetap berovulasi saat sedang hamil tidak dipelajari dengan baik. "Sulit untuk menemukan literatur tentang topik ini. Hal ini sering dikaitkan dengan hal mistis karena bertentangan dengan apa yang diketahui secara medis tentang kehamilan. Tapi sebenarnya, tidak semua fenomena medis memiliki penjelasan yang masuk akal termasuk tentang superfetasi karena kontroversial dan sulit dibuktikan," tuturnya.

Umumnya superfetasi tidak dapat dideteksi. Meskipun dalam sebuah laporan kasus superfetasi diungkapkan bahwa gestasi pada janin kedua terjadi setelah 28 hari janin pertama berkembang, hal ini tidak bisa dijadikan acuan. Selain itu, pemeriksaan melalui ultrasound yang semula hanya menunjukkan satu janin dan di pemeriksaan selanjutnya menunjukkan ada dua janin tidak dapat pual dijadikan penanda. Sebab mungkin saja dokter lalai atau melewatkan janin kedua pada pemeriksaan pertama.

Dalam kasus Jessica, untuk membuktikan jika kedua bayi memiliki ayah yang berbeda harus dilakukan tes genetik untuk memberikan hasil yang pasti. Tapi semua mungkin tidak bisa berjalan mulus karena bisa saja ada pihak yang tidak menerima hasil tidak biasa tersebut. Beruntung Jessica bisa mendapatkan kembali anak kandungnya setelah melalui pertempuran emosional selama dua bulan.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini