nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gawat! 700 Ribu Orang Meninggal Setiap Tahun Akibat Bakteri Kebal Antibiotik

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 14 November 2017 14:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 14 481 1813770 gawat-700-ribu-orang-meninggal-setiap-tahun-akibat-bakteri-kebal-antibiotik-FiZz8Ypjtg.jpg Ilustrasi (Foto: Nocamels)

ANTIBIOTIK menjadi salah satu obat yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Sudut pandang yang menganggap antibiotik dapat menyembuhkan berbagai penyakit, membuat masyarakat begitu percaya seakan antibiotik tidak memiliki efek samping.

Padahal, tanpa disadari, antibiotik dapat menjadi boomerang bagi kesehatan tubuh manusia yang sering mengonsumsinya tanpa mengikuti anjuran atau resep dari dokter. Antibiotik memang obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Akan tetapi, ada masalah dari pengonsumsian antibiotik oleh masyarakat selama ini.

Masyarakat saat ini masih belum memahami dan keliru akan penggunaan antibiotik. Antibiotik yang seharusnya hanya digunakan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri, justru digunakan untuk mengobati segala penyakit, bahkan yang disebabkan oleh virus sekalipun.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat selain bisa menjadi tindakan yang boros secara ekonomi juga bisa berbahaya secara klinis, yaitu resistensi bakteri terhadap antibiotik. Resistensi tersebut terjadi ketika bakteri mengalami kekebalan dalam merespons antibiotik yang awalnya sensitif dalam pengobatan.

Bakteri yang telah resisten akibat dari pengonsumsian antibiotik yang tidak tepat bisa menginfeksi manusia dan hewan. Hal ini bisa membuat biaya pengobatan jadi lebih tinggi, pasien lebih lama tinggal di rumah skait dan angka kematian bisa meningkat.

Tidak hanya itu saja, bahkan akibat dari resistensi bakteri terhadap antibiotik, menyebabkan sebanyak 700 ribu orang meninggal pertahunnya sampai 2013. Serupa dengan data yang Okezone dapat dari keterangan pers tersebut, pernyataan yang dikatakan oleh Maura Linda Sitanggang, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

"Kematian akibat resistensi bakteri di dunia menurut data World Health Organization (WHO), mengatakan sebanyak 700 ribu orang meninggal dunia pertahunnya sampai 2013, sedangkan diperkirakan angka tersebut akan terus bertambah hingga 10 juta jiwa pertahunnya pada 2050 mendatang," ucapnya.

Seiring dengan ungkapan tersebut, data WHO lainnya memperkirakan cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi akibat mikroorganisme resisten, pada 2050 diperkirakan kematian akibat resistensi antimikroba akan lebih besar dibandingkan dengan kematian yang diakibatkan oleh kanker. Selain itu, estimasi penduduk yang resisten akan mencapai 10 juta jiwa pertahun tersebut, bisa menyebabkan hilangnya total GDP sekira 100 triliun dolar.

Jelas, jika bila hal ini tidak segera diantisipasi dan dicarikan solusinya, akan mengakibatkan dampak yang negatif pada kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan dan pembangunan global, termasuk juga akan membebani keuangan negara. Untuk itu, agar pengonsumsian dan kasus resistensi bakteri terhadap antibiotik ini dapat diminimalkan dengan tepat, masyarakat dan pihak-pihak terkait seperti apoteker dapat bekerjasama.

"Sebaiknya masyarakat tidak mendatangi apotik yang tidak ada apotekernya dan tidak membeli obat keras termasuk antibiotik tanpa resep dokter. Sementara itu, apoteker juga tidak melayani pembeli yang membeli antibiotik tanpa resep dokter," ucap Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt, Ketua Umum Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia, dalam penjelasannya diacara temu media Kesadaran Antibiotik Sedunia, yang digelar untuk memperingati Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia, di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (14/11/2017).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini