nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Antibiotik Bukan Obat Dewa, Tak Boleh Dipakai Seenaknya

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 14 November 2017 16:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 14 481 1813901 ingat-jangan-sembarangan-pakai-antibiotik-sudah-700-ribu-jiwa-melayang-tiap-tahun-q287f0KZx1.jpg

RESISTENSI bakteri terhadap antibiotik jadi masalah dibalik konsumsi antibiotik, yang tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, resistensi bakteri yang muncul di tubuh manusia bisa menimbulkan banyak masalah, salah satunya kematian.

Sebagian besar masyarakat menganggap antibiotik jadi obat 'dewa' yang dapat menyembuhkan banyak penyakit dan tanpa efek samping. Padahal, tanpa disadari, ada banyak nyawa melayang yang disebabkan oleh konsumsi antibiotik yang tidak sesuai dengan anjuran dokter.

Fatalnya dampak negatif tersebut bahkan menyebabkan 700 ribu jiwa melayang per tahun menurut data dari World Health Organization (WHO). Lebih dari itu, WHO juga memperkirakan angka tersebut akan terus bertambah pada 2050 mencapai 10 juta jiwa per tahun, mengalahkan jumlah kematian akibat kanker.

"Resistensi antimikroba sudah menjadi masalah global tidak terkecuali di Indonesia. Penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak sesuai indikasi, kurangnya pemahaman dan mudahnya akses untuk mendapatkan antibiotik, menjadi penyebab tingginya kasus resistensi di Indonesia," ucap Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt, diacara temu media Kesadaran Antibiotik Sedunia, dalam memperingati Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Selasa (14/11/2017).

(Baca Juga: Waspada! 60% Ayam Broiler Mengandung Residu Antibiotik)

Oleh karena seriusnya masalah yang diakibatkan dari kesalahpahaman dan kekeliruan terhadap penggunaan antibiotik, seluruh elemen masyarakat harus bekerjasama dan bersinergi dalam mengatasi masalah ini.

"Apoteker merupakan profesi yang strategis, yang dapat membantu pemerintah dalam mengendalikan resistensi antibiotika. Hal ini karena apoteker terlibat dalam produksi, distribusi, dan pelayanan antibiotika kepada masyarakat," ucapnya.

Apoteker-apoteker tersebut termasuk dalam apoteker yang ada di apotik. Mereka merupakan tenaga profesional yang memiliki pengetahuan tentang resistensi antimikroba yang cukup mumpuni dan hanya memerlukan pembaruan pengetahuan dan komitmen lebih untuk dapat berperan dalam menekan tingginya angka resistensi di Indonesia.

Untuk itu, agar apoteker semakin meningkat kinerjanya, pemerintah melalui Kemenkes, mendeklarasikan program Apoteker Tidak Melayani Antibiotik Tanpa Resep pada 14 November 2017 mendatang. Selain deklarasi, ada pula workshop yang digelar agar apoteker-apoteker Indonesia semakin bertambah wawasannya dan tidak lagi memberikan antibiotik tanpa resep pada pelanggan.

(Baca Juga: Resistensi Antibiotik Ancam Masyarakat Dunia)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini