nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lelah Berkeliling Kampung Bekelir, Rehat Sejenak Makan Nasi Ulam Khas Tangerang yang Pedas-Pedas Gurih di Lidah

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 16 November 2017 19:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 16 298 1815369 lelah-berkeliling-kampung-bekelir-rehat-sejenak-makan-nasi-ulam-khas-tangerang-yang-pedas-pedas-gurih-di-lidah-BxD8FUiZtD.jpg Nasi ulam Kampung Bekelir khas Tangerang (Foto: Vessy/Okezone)

MENGELILINGI Kampung Bekelir di kota Tangerang sungguh menyenangkan. Cerahnya warna-warni cat yang mewarnai dinding pemukiman, jalan, dan atap kampung benar-benar ampuh menjadi penawar otak yang sedang suntuk.

Ya, Kampung Bekelir memang sengaja dibuat untuk memberi hiburan baru bagi warga Tangerang sekaligus wisatawan yang berkunjung. Kampung ini terletak di Kelurahan Babakan RW 1 kota Tangerang.

Di Kampung Bekelir pengunjung dapat menikmati lebih dari seribu mural-mural yang dibuat warga bersama seniman lokal. Di mural-mural itu pengunjung bisa berfoto dan sedikit menambah wawasan tentang kota Tangerang lewat informasi yang terdapat di keterangan foto.

Untuk berkeliling Kampung Bekelir butuh waktu satu jam untuk berjalan-jalan. Pengunjung akan disambut sapaan hangat warga dan senyum ramah. Setelah sekitar satu jam berjalan-jalan, rehatlah sejenak untuk menikmati kuliner khas Tangerang buatan warga yang dikelola Unit Kegiatan Masyarakat (UKM) setempat.

Salah satu makanan yang dijajakan warga dan wajib dicoba adalah nasi ulam. Nasi ulam adalah nasi hangat yang dibungkus daun pisang berisi lauk-pauk sederhana.

Di dalam nasi ulam ada bihun goreng, ketimun, jengkol, dan daun kemangi. Nasi ulam biasanya disantap dengan tambahan sambal khusus. Yang spesial dari sambal nasi ulam adalah racikannya. Yaitu terdiri dari cabai, sambal terasi, garam, dan ditambah kuah belimbing sayur. Jadi sambal nasi ulam teksturnya sangat cair.

Nasi ulam yang disantap dengan sambal belimbing akan menimbulkan rasa pedas-pedas gurih di lidah. Aroma jengkolnya tidak terlalu semerbak, tapi rasanya sangat berkesan di lidah.

Untuk harganya, sebungkus nasi ulam dijual Rp.10ribu. Tapi tentu satu bungkus saja tidak cukup, sebab satu porsinya sedikit. Jadi bila belum kenyang bisa tambah lagi.

Sedangkan, bagi pengunjung yang tidak ingin makan nasi, warga juga menyediakan getuk kelapa untuk camilan pengganjal perut. Getuk dimakan dengan kelapa parut, harganya cukup Rp.5 ribu. Pas di kantong.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini