nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berisiko 30% Terkena Retinopati Prematuritas, Bayi Prematur Wajib Lakukan Skrining Mata

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 17 November 2017 15:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 17 481 1815828 berisiko-30-terkena-retinopati-prematuritas-bayi-prematur-wajib-lakukan-skrining-mata-q1UdXp85qG.jpg Ilustrasi (Practicingparents)

KELAHIRAN prematur hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada bayi. Masalah yang dihadapi oleh bayi prematur antara lain berat badan kurang, butuh alat bantu untuk bernapas, dan pembentukan organ tubuh yang belum sempurna.

Seiring perkembangan teknologi, maka angka harapan hidup bayi prematur kian meningkat. Meski begitu, masih ada kemungkinan bayi prematur mengalami gangguan salah satunya adalah Retinopati Prematuritas (ROP).

ROP adalah gangguan pada mata yang berdampak pada penglihatan hal ini lantaran pertumbuhan pembuluh darah selaput jala (retina) tidak sempurna. Risiko bayi prematur mengalami ROP sebanyak 30%. ROP bisa diatasi dengan terapi laser, suntikan obat, dan operasi bedah retina. ROP terbagi menjadi beberapa stadium dan masing-masing stadium cara penanganannya berbeda.

Pada stadium awal atau kasus ringan, ROP tidak memerlukan tindakan karena dapat diperbaiki secara spontan. Hanya orangtua harus rajin melakukan skrining pada anaknya hingga dinyatakan aman oleh dokter. Sedangkan pada stadium lanjut atau kasus berat, perlu dilakukan tindakan terapi karena bila dibiarkan bisa mengakibatkan retina terlepas sehingga berujung pada kebutaan permanen.

“Skrining dilakukan secara berkala pada usia 35-42 minggu Post Menstrual Age (PMA). Usia 42 minggu dianggap sudah matang. Jika dinyatakan aman oleh dokter mata maka tidak ada masalah,” ujar Prof. dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD seorang dokter spesialis mata saat ditemui dalam acara peluncuran Program Jak-ROP oleh RSUPN Cipto Mangunkusumo bekerja sama dengan Standard Chartered dan Hellen Keller International, Jumat (17/11/2017) di kawasan Jakarta Pusat.

Skrining pada bayi prematur biasanya baru dilakukan jika sudah ada rekomendasi dari dokter spesialis anak. Sebab dokter tersebutlah yang mengetahui kondisi kesehatan bayi prematur.

“Bayi yang lahir prematur itu kondisinya tidak stabil. Bisa mengalami sesak napas, biru, atau kuning. Nanti kalau dokter anak sudah memperbolehkan skrining baru kita lihat. Jika ada masalah, barulah diambil tindakan,” tambah dr Rita.

Namun sayangnya, menurut dr Rita masih banyak orangtua yang menunda melakukan skrining pada bayi. Mereka lebih memilih untuk melakukan skrining setelah bayinya besar. Padahal pendeteksian ROP sebaiknya dilakukan sebelum usia PMA menginjak 42 minggu. Hal inilah yang dapat memperparah kondisi ROP terlebih gangguan ini muncul tanpa gejala.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini