nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Lahir Prematur, Inilah Faktor-Faktor Risiko Bayi Terkena Retinopati Prematuritas

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 17 November 2017 18:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 17 481 1815856 selain-lahir-prematur-inilah-faktor-faktor-risiko-bayi-terkena-retinopati-prematuritas-pjk6UC8eoM.jpg Ilustrasi (Foto: Babycenter)

BAYI yang lahir prematur berisiko 30% mengalami Retinopati Prematuritas (ROP). ROP adalah gangguan pada mata yang berdampak pada penglihatan karena pertumbuhan pembuluh darah selaput jala (retina) tidak sempurna. ROP terbagi menjadi beberapa stadium dan cara penanganan masing-masing berbeda.

Pada stadium awal atau kasus ringan, ROP tidak memerlukan tindakan karena dapat diperbaiki secara spontan. Sementara itu, pada kasus sedang hingga berat dibutuhkan terapi pengobatan seperti laser, suntikan obat, dan operasi bedah retina. Untuk menentukan tingkat keparahan ROP dan tindakan yang harus dilakukan, dokter mata harus melakukan skrining terlebih dahulu.

Skrining biasanya dilakukan pada usia 35-42 minggu Post Menstrual Age (PMA) atau 2-4 minggu setelah bayi dilahirkan. Biasanya rujukan untuk melakukan skrining didapatkan dari dokter anak sebab dirinyalah yang mengetahui kondisi kesehatan bayi. Seperti yang diketahui, bayi prematur kondisi kesehatannya kurang stabil seperti sesak napas, biru, atau kuning.

“Pada bayi prematur, skrining harus dilakukan secara berkala hingga usia 42 minggu. Di usia itu kami anggap mata sudah matang sehingga jika tidak ada masalah maka bayi dapat melihat dengan normal. Skrining secara berkala juga berguna untuk mendeteksi secara dini ROP dan penanganan yang lebih cepat. Penanganan ini penting untuk dilakukan karena bayi atau anak yang mengalami kebutaan harus menanggung beban emosional, sosial, dan ekonomi yang lebih lama dibanding orang dewasa yang mengalami kebutaan,” tutur dokter spesialis mata, Prof. dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD saat ditemui dalam sebuah acara, Jumat (17/11/2017) di kawasan Jakarta Pusat.

Ditambahkan oleh dr Rita, bayi yang disarankan untuk melakukan skrining adalah kelahiran ≤ 34 minggu, berat badan ≤ 1500 gram, melakukan terapi oksigen dosis tinggi dalam jangka waktu panjang (lebih dari satu minggu, infeksi berat atau sepsis, dan mengalami gangguan pernapasan atau jantung. Bayi-bayi tersebut berisiko tinggi untuk terkena gangguan ROP.

Selain itu, alasan skrining harus dilakukan secara berkala hingga usia 42 minggu lantaran perkembangan dari stadium satu menuju stadium selanjutnya dapat terjadi sangat cepat yaitu hituan minggu. “Bahkan ada yang bisa berkembang dalam hitungan hari. Ini biasanya terjadi pada kasus AP-ROP yang harus segera ditangani dalam waktu 3x24 jam. Semakin tinggi stadiumnya, semakin mahal biaya operasinya, dan semakin rendah kesempatan bayi untuk melihat kembali. Di sinilah pentingnya melakukan skrining,” tambah dr Rita.

Apabila di usia 42 minggu ternyata tidak ada masalah atau ROP telah berhasil diatasi, beberapa tahun setelahnya anak harus melakukan skrining penglihatan dengan kacamata. “Biasanya saya menyarankan pada usia sebelum sekolah yaitu 3-4 tahun. Baik bayi yang lahir prematur maupun tidak sebenarnya harus sudah melakukan skrining penglihatan pada saat umur tersebut. Kalau bisa lakukan skrining penglihatan rutin satu tahun sekali. Sebab pemakaian kacamata pada anak bisa terjadi kapan saja. Tapi untuk anak yang pada bayi mengalami ROP memang lebih berisiko menggunakan kacamata sewaktu besar,” pungkas dr Rita.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini