nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Anak! Kekerasan Seksual, Narkotika, Eksploitasi hingga Radikalisme Masih Mengintai

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 20 November 2017 17:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 20 196 1817278 hari-anak-kekerasan-seksual-narkotika-eksploitasi-hingga-radikalisme-masih-mengintai-0G8SdYqsr7.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Jasra Putra mengatakan pengaduan soal anak ke KPAI tergolong tinggi hingga peringatan Hari Anak Universal pada 20 November.

"Dalam data pengaduan yang masuk ke KPAI, tujuh tahun terakhir sebanyak 26.954 kasus anak berdasarkan sembilan klaster," kata Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra di Jakarta, Senin (20/11/2017).

Dia mengatakan dari sembilan klaster itu tiga tertinggi di antaranya kasus anak berhadapan hukum (ABK) baik pelaku maupun korban 9.266 kasus.

Selanjutnya, kasus di keluarga dan pengasuhan alternatif baik korban perceraian orang tua, perebutan hak asuh dan kasus penelantaran ada 5.006 laporan. Kemudian, kata dia, kasus pornografi dan kejahatan saiber baik sebagai korban maupun pelaku 2.358 kasus.

Di kesempatan Hari Anak Universal, Jasra juga mengingatkan bahwa banyak pengungsi di Indonesia yang di dalamnya termasuk anak-anak. Terdapat sekira 14 ribu pengungsi di Indonesia menurut UNHCR 2017 dan 25 persennya adalah anak anak atau sekira 3.500 anak, termasuk di dalamnya adalah anak-anak pengungsi dari etnis Rohingya.

Terkait kasus anak yang menyangkut pornografi dan kejahatan saiber, dia mengatakan perlunya kerja sama antarnegara dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Terlebih dalam beberapa kasus menyangkut teknologi informasi di Indonesia nyatanya sering melibatkan penyedia layanan di luar Indonesia.

"Masih ingat bagi kita konten pornografi dalam aplikasi WhatsApp? Atau Kendi Child Kid di Twitter yang menjual foto dan vidio anak dengan pelaku dewasa dari 49 negara dan persoalan lain, yang butuh kerja bersama dalam penangananya.Termasuk penanganan anak pengungsi dan trafiking yang harus melibatkan dari negara asal dan tujuan," kata dia.

Menanggapi persoalan anak di atas, Jasra mengajak segenap pihak agar turut serta dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak sebagai tugas bersama mulai dari keluarga, pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat. "Mari kita optimalkan peran tersebut secara nyata dengan mendukung semua upaya tumbuh kembang anak," kata dia.

Penting juga, kata dia, agar keluarga Indonesia membangun komunikasi dan interaksi yang berkualitas untuk anak dengan cara mencuri perhatian mereka agar otang tua hadir sebagai pelaku utama yang bisa ditiru sebagai pendidik utama dalam keluarga.

(Baca Juga: Penggagas Duel Gladiator yang Tewaskan Siswa SMA di Bogor, Dihukum 2 Tahun Penjara)

Di tengah gelombang arus informasi yang membanjiri dan mempengaruhi kehidupan anak, kata dia, jangan sampai orang tua dan lingkungan kehilangan kesempatan dalam memberikan kasih sayang dan pengasuhan terbaik untuk mereka. "Karena usia anak tidak mungkin terulang kembali untuk orang tua," kata dia.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto mengatakan perlindungan anak harus jadi gerakan bersama untuk melindungi sebanyak 85 juta anak Indonesia yang menghadapi beragam tantangan bagi tumbuh kembang mereka.

"Materialisme, hedonisme, dan gaya hidup serba instan menjadi menu keseharian. Di pihak lain, tren eksploitasi, kekerasan, perundungan, bahkan kejahatan terorisme terus menyasar anak dan remaja. Ini merupakan tantangan serius pada era kini," kata Susanto.

Anak-anak, kata dia, merupakan kelompok sasaran strategis yang terus diincar kelompok radikal. Di pihak lain, ekspansi distribusi pornografi makin serius yang menjadikan anak sebagai target.

"Inilah yang sering kali menjadi pintu anak sebagai pelaku penyimpangan seksual, selain faktor disfungsi pengasuhan, minimnya kontrol sosial serta adanya kecenderungan bergesernya standar nilai-nilai etik di masyarakat," katanya.

Selain itu, kejahatan berbasis siber telah menjadi pilihan modus baru bagi pelaku kejahatan. Kejahatan itu dalam 2 tahun terakhir makin serius, bandar narkoba tidak lagi menggunakan pola-pola manual dalam perdagangan narkotika, tetapi strateginya bergeser menggunakan pendekatan teknologi.

Pergerakan itu makin menyulitkan orang sekitar anak, dalam memantau sindikat ini, untuk kelompok orang tua tertentu modus ini tentu menjadikan orang tua makin kewalahan memastikan anak agar tak terpapar narkotika, apalagi sering kali modusnya sangat rapi.

"Eksploitasi anak untuk kepentingan ekonomi juga masih menjadi persoalan. Eksploitasi anak di sektor pekerjaan berbahaya, bahkan berpotensi mengancam jiwa anak masih terjadi," katanya.

(Baca Juga: Tewas Dianiaya Ibu, Greinal Menanggung Siksaan Selama 4 Bulan)

Pelibatan anak di diskotik, pabrik petasan, produksi rokok, area galian tambang merupakan area titik rentan anak dieksploitasi. "Mengingat maraknya kasus kejahatan terhadap anak, hari anak universal harus dijadikan momentum untuk menggelorakan perbaikan dan pemajuan penyelenggaraan perlindungan anak agar jaminan tumbuh kembang anak terwujud dengan baik," katanya.

Ia mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah dengan pelaku kejahatan anak. Kelompok masyarakat tidak boleh lalai, apalagi lengah dari pelaku kejahatan. "Pencegahan harus menjadi gerakan kolektif bersama. Perlindungan anak harus menjadi gerakan yang tersemai dari jiwa seluruh lini masyarakat," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini