nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sepi Wisatawan, Candi Berusia 400 Tahun di Jepang Dibuka Sebagai Kafe

Devi Setya Lestari, Jurnalis · Senin 20 November 2017 19:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 20 406 1817384 sepi-wisatawan-candi-berusia-400-tahun-di-jepang-dibuka-sebagai-kafe-qfnHtFr1uq.jpg

SEBUAH candi biasanya dimanfaatkan sebagai cagar budaya yang menyimpan sejarah panjang. Namun di Jepang, candi yang konon kabarnya sudah lebih dari 400 tahun kini dibuka secara umum sebagai kafe. Menu makanan yang tersaji jelas bukanlah menu makanan biasa, seporsi menu sarapannya bahkan sampai 16 jenis makanan.



Berlokasi di Tokyo Tsukiji Hongan Temple, candi ini membuka kafe yang menyajikan menu makanan dan minuman kecil seperti kue dan teh hangat. Dilansir dari Rocketnews, Senin (20/11/2017) candi ini terletak di dekat pasar ikan Tsukuji yang terkenal di Tokyo dan sudah ada di lokasi ini sejak abad ke-17.



Sebelumnya situs bersejarah ini memang dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata namun pengunjungnya sangat terbatas. Pihak candi kemudian memutuskan untuk membuka bisnis kuliner di lokasi ini dengan maksud untuk menarik lebih banyak pengunjung.



Karena tujuan ini, pihak candi sudah melakukan renovasi pada beberapa bagian candi diantaranya menambah fasilitas serta menambah beberapa lokasi yang bisa dimanfaatkan oleh para pengunjung. Area candi ini kini dilengkapi pusat informasi, toko souvenir hingga tempat bersantai, termasuk kafe yang akan dibuka dalam waktu dekat ini.



Khusus untuk suguhan menu di kafe ini, rencananya akan menghadirkan cita rasa kuliner modern tanpa meninggalkan sisi tradisionalnya. Café yang diberi nama Tsumugi di belakang nama candi ini dioperasikan oleh rantai kuliner yang sudah terkenal eksistensinya di Jepang.



Salah satu menu andalannya adalah 18 Himoku No Asagohan yakni hidangan semangkuk bubur nasi dan semangkuk sup miso yang dibanderol dengan harga 1944 Yen atau setara Rp 234.500. Jika dipikirkan, pasti harga tersebut sangat tinggi tapi padahal jika memesan menu ini, pengunjung bisa menambah sepuasnya.



Dalam set menu ini teradapat 18 piring menu pelengkap yang menyimbolkan sumpah Budha yang terjadi pada tanggal 18. Dari 18 piring ini terdidi rari lauk pauk pelengkap yang berbeda. Menu ini disajikan senagai menu sarapan, namun jika ukurannya terlalu besar, Anda bisa membelinya dalam satuan porsi yang tentunya bisa disesuaikan dengan selera.



Menu sarapan lain yang tak kalah menariknya adalah Kyoto-san yakni granola rasa matcha yang disajikan dengan guyuran susu segar yang cukup berlimpah. Rasanya sudah disesuaikan dengan selera kekinian.

Selain menu sarapan, kafe ini juga menawarkan menu lainnya seperti kakigori, crème brulle dengan agar-agar tradisional Jepang, parfait hingga set menu Jepang-English Tea yang berisi campuran jahe dan jeruk kumquat. 

(ade)