nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Miris! Perokok Aktif Perempuan Jumlahnya Meningkat, Paling Banyak Ditemukan di Pedesaan

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 22 November 2017 11:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 22 481 1818378 miris-perokok-aktif-perempuan-jumlahnya-meningkat-paling-banyak-ditemukan-di-pedesaan-UJle1IdiNR.jpg Ilustrasi (Foto: Netdoctor)

ROKOK tidak hanya identik dengan laki-laki. Kaum perempuan pun cenderung punya kebiasaan merokok yang cukup tinggi.

Antara tahun 1995-2013, perokok pada perempuan meningkat 7 kali lipat. Sebagian perempuan juga banyak menjadi perokok pasif karena pengaruh lingkungan.

Terungkap, perokok perempuan paling banyak ditemukan di daerah-daerah. Bahkan, daripada belanja beras atau makanan bergizi lainnya, mereka lebih rela membeli minimal sebungkus rokok dalam sehari.

Rata-rata perempuan usia produktif paling merokok. Sekira 7 dari 10 orang perokok pendidikannya tidak lulus SD.

"Jumlah perokok meningkat, prevalensi meningkat 7 kali lipat dari 1,7% menjadi 6,7%," ujar Peneliti dari Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr Nunik Kusumawardani SKm, MSc, saat bedah buku Health and Economic Cost of Tobacco in Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (23/11/2017).

Karena merokok, perempuan menjadi salah satu orang yang rentan dengan penyakit akibat rokok. Sebaiknya, kebiasaan ini harus dicegah supaya tidak merugikan nyawa.

Rokok mengandung 7357 bahan kimia dan 400 jenis racun yang terbukti menyebabkan penyakit tidak menular. Rokok juga membuat seseorang menjadi adiksi, kerusakan organ tubuh, hingga sebabkan gangguan mental pada seseorang.

Akibat merokok, perempuan juga terancam penyakit mematikan dalam jangka panjang. Dampak ini tidak hanya dialami oleh perempuan perokok aktif, tetapi juga pada kelompok perokok pasif.

"Pada perempuan akibat merokok paling sering alami kanker serviks dan tumor payudara," tambah Dr Nunik.

Ditanggapi Menteri Kesehatan RI Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM(K), akibat merokok beban biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah semakin lama bertambah banyak. Sangat terlihat di era JKN, pemerintah mengeluarkan banyak uang untuk mengobati pasien dengan penyakit kardiovaskular.

"Kalau sudah kena penyakit kardiovaskular dampaknya berat. Negara bisa rugi akibat kebiasaan buruk ini yang masih banyak dilakukan masyarakat. Begitu juga, bicara tembakau dan rokok tak ada berhentinya," ujar Menkes Nila.

Belum lagi, akibat merokok seseorang bisa mengalami tuberkulosis. Penyakit ini juga banyak dialami penduduk Indonesia, bahkan menjadi nomor dua di dunia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini