Anak Mudah Marah dan Lelah? Waspadai Gejala Anemia!

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 23 November 2017 12:48 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 23 481 1819093 anak-mudah-marah-dan-lelah-waspadai-gejala-anemia-9fWgBcY0r0.jpg Ilustrasi (Foto: Momjunction)

SETIAP orang harus mengonsumsi nutrisi dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan tubuh. Tubuh yang kekurangan nutrisi akan menyebabkan masalah kesehatan, salah satunya adalah anemia. Anemia adalah suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang dan dapat disebabkan karena kekurangan zat besi.

Kondisi ini dapat terjadi di segala usia, termasuk anak-anak. Anemia pada anak dapat memberi tekanan pada tubuh karena sel-sel di otot dan organ memerlukan oksigen yang terkandung dalam sel darah merah. Lantas, bagaimana ciri-ciri atau gejala anemia pada anak?

Melansir Healthy Children, Kamis (23/11/2017), anak mungkin terkena anemia jika tubuhnya tidak menghasilkan cukup sel darah merah karena kekurangan zat besi atau nutrisi lainnya. Gejalanya antara lain kulit berwarna pucat, abu-abu, atau ashy. Selain itu, biasanya lapisan kelopak mata dan nail bed warnanya kurang merah jambu. Anak juga menjadi mudah marah dan kelelahan. Pada kasus anemia berat, anak bisa mengalami sesak napas, irama jantung yang cepat, serta tangan dan kaki yang bengkak.

Selain karena kekurangan zat besi, anemia bisa juga disebabkan oleh kerusakan sel darah merah. Hal ini terjadi karena faktor genetik. Pada anak yang mengalami kondisi ini, gejalanya adalah bagian tubuh seperti kulit dan mata menjadi kuning.

Apabila anak Anda terlihat mengalami gejala di atas, cobalah berkonsultasi ke dokter guna memastikan kondisi yang sebenarnya. Sebab anemia dapat membuat anak kurang berenergi, tidak fokus, dan kemampuan belajar menurun. Pada kasus anemia berat bila dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan tubuh secara permanen.

Sementara itu, untuk mencegah anemia pada anak, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama jangan memberikan susu sapi pada bayi sebelum usianya 12 bulan. Berikanlah ASI di 6 bulan pertama dan selanjutnya makanan mengandung zat besi di masa MPASI. Pemberian susu sapi sebelum waktunya dapat membuat anak kehilangan darah dan menurunkan jumlah zat besi yang terserap di usus.

Bagi anak yang sudah berusia lebih dari 12 bulan dan mengonsumsi susu, usahakan hanya memberinya 2 cangkir susu sehari. Kebanyakan minum susu dapat membuat anak cepat merasa kenyang sehingga tidak mau mengonsumsi makanan bernutrisi lainnya.

Terakhir, berikan anak makan dengan pola seimbang sehingga jumlah zat besi yang terkandung dalam makanan dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat ditemukan pada biji-bijian, sereal, daging merah, kuning telur, kentang, tomat, kacang, tetes tebu, dan kismis.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini