nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alasan Orangtua Zaman Dahulu Wajibkan Anaknya Tutup 'Kuping' ketika Kereta Lewat, Ini Kata Pakar!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 23 November 2017 19:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 23 481 1819340 alasan-orangtua-zaman-dahulu-wajibkan-anaknya-tutup-kuping-ketika-kereta-lewat-ini-kata-pakar-QYFvTmSqFl.jpg Tutup Telinga (Foto: Dailymail)

SAAT kereta lewat di depan Anda, apakah terdengar suara yang sangat bising? Bahkan cenderung membuat kuping Anda sakit kalau dibiarkan terdengar.

Makanya, banyak orangtua Anda zaman dulu mungkin sampai sekarang yang menyuruh Anda tutup kuping ketika ada kereta lewat. Kalau memang begitu, pernahkah Anda menanyakan alasannya?

Daily Mail, Kamis (23/11/2017), dalam artikel terbarunya menjelaskan bahwa kebisingan yang terlampau kencang bisa menyebabkan Anda tuli akut. Apalagi jika kebisingan yang didengar terjadi berulang kali. Ya, salah satunya mereka yang setiap hari harus mendengar suara kereta lewat.

Lebih lanjut lagi, masalah tuli juga terkait dengan durasi mendengarkan yang panjang. Jadi, pekerjaan yang melibatkan suara tinggi, atau aktivitas yang selalu berkaitan dengan suara bernada tinggi sangat berisiko terserang masalah pendengaran.

Terkait dengan mendengar bunyi kereta api secara jelas, studi menjelaskan bahwa orang bahkan harus mempertimbangkan untuk menggunakan perlindungan pendengaran saat menggunakan bus dan juga kereta api.

Dan upaya untuk mengendalikan kebisingan harus berfokus pada bahan dan peralatan yang menyediakan ruang yang lebih tenang. Pernyataan dari sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Otolaryngology - Head & Neck Surgery, juga menjelaskan bahwa suara kereta dari dalam kereta juga ternyata mampu memengaruhi risiko masalah ini.

Studi Dr. Vincent Lin, dari University of Toronto di Kanada, ini menjelaskan bahwa penelitian mengenai masalah itu adalah yang pertama dilakukan. Terlebih untuk melihat dan menghitung jumlah kebisingan yang terpapar selama perjalanan commuters sehari-hari, khususnya pada mereka yang berada di stasiun kereta.

"Kami sekarang mulai mengerti bahwa paparan kebisingan kronis yang berlebihan menyebabkan patologi sistemik yang signifikan, seperti depresi, kecemasan, peningkatan risiko penyakit kronis, dan peningkatan risiko kecelakaan," ungkap dr Lin.

Dia menambahkan, paparan suara yang pendek dan intens telah terbukti sama membahayakannya dengan paparan cahaya yang lebih lama dan kurang intens.

Kemudian, sambung Dr. Lin, pihaknya terkejut dengan pengalaman komersil pemaparan kebisingan rata-rata secara keseluruhan setiap hari, terutama intensitas kebisingan tingkat tinggi tidak hanya di kereta api tapi juga di bus.

Menurut Dr. Lin, perencana perlu lebih memperhatikan paparan kebisingan di masa depan perencanaan ruang publik dan rute transit publik. Ini demi menjaga kesehatan pengguna transportasi umum.

"Pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan cara mengurangi paparan kebisingan sebagai tindakan pencegahan untuk risiko kesehatan di masa depan," tegasnya.

Sementara itu, tim Dr Lin pernah mengukur pemaparan kebisingan pada mobil pribadi, sepeda, atau transportasi berjalan, para peneliti menemukan bahwa kebisingan yang diciptakan kendaraan tersebut masih dalam taraf aman. Rata-rata berada dalam tingkat yang disarankan.

Bicara mengenai ambang batas, berikut rekomendasi US Environmental Protection Agency (EPA), terpapar dengan 114 A-weighted decibels (dBA) lebih dari empat detik, terpapar 117dBA lebih lama dari dua detik dan terpapar 120 dBA lebih dari 20 detik dapat dipasang pada orang yang berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat suara.

A-weighted decibels mengekspresikan kenyaringan relatif suara yang dialami oleh telinga manusia dengan mempertimbangkan bahwa sensitivitas terhadap kebisingan berbeda tergantung pada frekuensi kebisingan.

Tingkat kebisingan tinggi di dBa melintasi transportasi umum dan pribadi melampaui ambang batas yang direkomendasikan EPA.

Untuk mengukur paparan kebisingan, para peneliti menggunakan dosimeter kebisingan, yang mereka bawa di kerah baju mereka sekitar dua inci dari telinga mereka

Para peneliti mengumpulkan 210 pengukuran secara total, membandingkan kebisingan di kereta bawah tanah, bus, dan trem, saat mengendarai mobil, bersepeda, dan berjalan kaki. Mereka mengukur kebisingan di dalam kendaraan dan kebisingan di luar atau naik untuk semua moda transportasi pribadi dan umum.

Para periset menemukan bahwa 19,9 persen suara paling keras (peak noise) yang diukur di kereta bawah tanah lebih besar dari 114 dBA, sementara 20 persen suara paling keras di dalam trem lebih besar dari 120 dBA.

Sekitar 85 persen pengukuran kebisingan puncak dari platform bus lebih besar dari 114 dBA, sementara 54 persen lebih besar dari 120 dBA. Semua eksposur kebisingan puncak saat mengendarai sepeda melebihi 117 dBA, dengan 85 persen lebih besar dari 120 dBA.

Ketika para periset mengekstrapolasi ambang kebisingan yang direkomendasikan EPA untuk penumpang kereta rata-rata yang menggunakan kendaraan umum, tingkat pemaparan kebisingan yang disarankan telah terlampaui di sembilan persen kereta bawah tanah, 12 persen bus, dan 14 persen dari pengukuran bersepeda.

Mereka mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki faktor lain yang dapat menyebabkan paparan kebisingan seperti penggunaan pemutar musik dan waktu transit yang lama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini