nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tandai Sekaten, Pusaka Keraton Solo Dipindahkan ke Masjid Agung

Bramantyo, Jurnalis · Jum'at 24 November 2017 14:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 24 406 1819843 tandai-sekaten-pusaka-keraton-solo-dipindahkan-ke-masjid-agung-Sqs6k4clGP.jpg (Foto: Antara)

SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta kembali menggelar tradisi Sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar setiap tahun pada bulan Maulud dalam penanggalan Jawa.

Salah satu Putra Pakubuwono XII Gusti Dipokusumo selaku Pengageng Parentah Kraton mengatakan, Sekaten tahun ini di mulai pada 24 November 2017, ditandai dengan keluarnya gamelan pusaka kiai Guntursari dan kiai Gunturmadu dari Keraton ke Masjid Agung.

‚ÄĚSelama sepekan gamelan Sekaten ditabuh di waktu tertentu di masjid agung. Puncaknya Jumat di tutup dengan acara grebeg mulud gunungan Sekaten," jelas Gusti Dipo.

Tradisi Sekaten diawali pada zaman kerajaan Islam Demak dengan rajanya yang dikenal sebagai Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Dulunya digunakan sebagai syiar agama Islam oleh Wali Songo.

Gusti Dipo juga sampaikan dua gamelan yakni Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu, gamelan pusaka milik Karaton Surakarta yang ditabuh dan diarak dari Sitihinggil menuju Masjid Agung selanjutnya diletakkan di bangsal mangiwa (sisi kiri) dan manengen (sisi kanan) Masjid Agung Surakarta.

Dua gamelan diletakkan di sisi sebelah selatan yakni gamelan pusaka Kyai Guntur Sari. Gamelan pusaka ini dibunyikan pertama kali dengan laras gending Rambu.

Sedangkan Kyai Guntur Madu yang berada di sisi utara mengawali gending Rangkung.

(Baca Juga: Ngaku Pemberani, Yuk Coba Wahana di Sekaten)

Menurut sejarahnya kedua pusaka tersebut merupakan warisan turun temurun semasa Mataram masih berdiri. Karena adanya Perjanjian Giyanti maka Mataram pecah menjadi dua. Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Akibatnya pusaka keraton Mataram juga dibagi dua termasuk gamelan pusaka peninggalan Demak. Yang tertua yakni kyai Guntur Sari untuk Keraton Solo sedangkan yang muda kiai Guntur Madu untuk Yogyakarta.

(Baca Juga: Sekaten, Ini Sejarahnya)

Merasa tidak lengkap karena hanya ada satu, selanjutnya masing-masing keraton kemudian membuat duplikasi yang sama dari masing -masing Keraton. Pakubuwono IV dari Surakarta membuat tiruan dari Kanjeng Kyai Guntur Madu, Sultan Hamengkubuwono membuat tiruan dari Guntur Sari.

Konon pada masa lampau gamelan pusaka milik keraton saat ditabuh (dimainkan) suaranya terdengar hingga puluhan kilometer. Karena itulah saat melakukan syiar agama wali songo memanggil warga dengan suara gamelan, sehingga warga beramai-ramai datang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini