Chef Ragil: Suplai Ikan Segar di Indonesia Masih Sulit Didapatkan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 26 November 2017 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 26 298 1820721 chef-ragil-suplai-ikan-segar-di-indonesia-masih-sulit-didapatkan-enYEJytpeh.jpg Ikan Tuna (Foto: Dimas/Okezone)

MASIH ingat dengan jargon "Tidak makan ikan, tenggelamkan"? Kalimat ini memang melekat pada sosok Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang sempat viral di media sosial. Tanpa disadari jargon tersebut ternyata memiliki pengaruh besar dalam mendorong masyarakat Indonesia untuk mulai mengonsumsi ikan.

Buktinya, sudah banyak netizen yang memamerkan olahan ikan yang mereka santap, langsung ke akun Twitter pribadi Susi. Program gemar makan ikan ini diharapkan dapat menumbuhkan bisnis di sektor perikanan nusantara. Di samping itu, ikan juga dipercaya dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia karena memiliki nutrisi esensial bagi pertumbuhan anak.

Namun dalam perkembangannya, ternyata masih banyak kendala yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia dalam menyukseskan program gemar makan ini. Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh salah satu chef ternama Indonesia, Ragil Imam Wibowo.

"Sebenarnya masyarakat Indonesia itu bukan males makan ikan, tapi kesulitan untuk mendapatkan ikan segar, karena tidak di semua pasar itu ada. Inilah sebenarnya yang menjadi PR buat Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa dari distributornya sampai ke end usernya (konsumen), harus dimudahkan aksesnya," tutur Chef Ragil kepada Okezone, dalam acara Ulang Tahun ke-12 PT. Perikanan Nusantara, di Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017).

Ragil menambahkan, jika menilik lebih jauh, sebetulnya masyarakat Indonesia yang tinggal di kawasan Timur sudah banyak yang mengonsumsi ikan. Ini karena suplai ikan segar di daerah tersebut melimpah.

Bandingkan dengan daerah-daerah yang letaknya di tengah-tengah pulau seperti Bandung. Pasokan ikan segar kota tersebut biasanya hanya berasal dari satu tempat saja.

"Di Bandung itu di mana lagi bisa mendapatkan ikan segar kalau bukan dari kawasan Pangandaran. Jadi jangan heran jika lebih banyak orang yang mengonsumsi daging ayam atau sapi daripada ikan. Karena suplai daging tersebut lah yang paling banyak," tambah Ragil.

Hal senada juga diakui oleh Dendi Anggi Gumilang, selaku Didektur Utama Perinus. Menurutnya, produk perikanan Indonesia sebetulnya memiliki kualitas yang sangat baik dan mampu bersaing dengan produk-produk asing. Salah satunya adalah ikan tuna.

Indonesia yang notabennya adalah negara dengan wilayah laut yang sangat luas, memiliki habitat ikan tuna terbesar di kawasan Asia Tenggara. Mulai dari sisi selatan perairan laut Jawa, hingga di kawasan timur Indonesia.

"Tahun ini kami sedang gencar memperbaiki kualitas dan sertifikasi beberapa produk tangkapan ikan, agar nantinya sapat memenuhi standar internasional dan memperbesar volume ekspor hasil laut Indonesia. Majunya bangsa ini juga harus didukung dengan kemajuan industri perikanan," tegas Dendi.

Selain itu, saat ini pihaknya juga tengah melakukan pembenahan alat-alat produksi dan optimalisasj aset, dibarengi dengan kualitas sumberdaya serta program-program pendukung lainnya seperti pemecahan rekor MURI.

"Hari ini kami berhasil memecahkan rekor MURI untuk kategori ikan tuna terberat di Indonesia, yakni 80,9 kg dengan panjang 160.06 cm dan lingkar badan 122 cm. Salah satu tujuannya adalah untuk mensosialisasika program gemar makan ikan," tukas Dendi.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini