Studi Membuktikan, Wanita Berisiko 2 Kali Lebih Besar Terkena Asma Dibanding Pria

Ajeng Dwiri Banyu, Jurnalis · Rabu 29 November 2017 21:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 29 481 1822725 studi-membuktikan-wanita-berisiko-2-kali-lebih-besar-terkena-asma-dibanding-pria-aTkTFtBKZW.jpg

ASMA adalah penyakit yang disebabkan oleh peradangan pada saluran pernapasan. Asma akan membuat penderitanya mengalami sesak nafas atau kesulitan bernafas karena adanya peradangan tersebut. Namun, menurut penelitan ditemukan fakta bahwa wanita lebih rentan terkena asma dibanding pria.

Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan wanita tidak memiliki hormon testosteron yang biasa dimiliki oleh kaum pria. Hormon ini dapat mencegah paru-paru menghirup debu atau alergen yang berbahaya. Testosteron akan bekerja pada sel kekebalan yang bertindak sebagai lini pertama pembela tubuh dalam melawan virus yang menyerang.

“Awalnya kami berpikir bahwa hormon ovarium akan meningkatkan peradangan, namun nyatanya hormon testosteron yang lebih baik dalam melawan asma. Saya terkejut melihat bahwa testosteron lebih penting dalam mengurangi peradangan.” ujar Dawn Newcomb dari Universitas Vanberbilt di Tennessee, AS seperti dilansir dari Indianexpress.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak laki-laki pada masa pubertas memiliki tingkat asma sekitar 1,5 kali lebih tinggi daripada anak perempuan. Namun, setelah melewati masa pubertas wanita memiliki risiko dua kali lebih besar daripada pria. Pola ini berlanjut sampai wanita mengalami menopause.

Untuk penelitian tersebut, dalam jurnal Cell Report tim berfokus pada sel-sel paru yang disebut sel limfoid bawaan grup 2 atau sel ILC2. Sel ini mengandung sitokin, yaitu protein yang menyebabkan produksi radang dan lender di paru-paru sehingga menyebabkan sulit bernafas.

Para peneliti mengumpulkan darah dari orang-orang dengan dan tanpa asma dan ditemukan bahwa mereka yang menderita asma memiliki lebih banyak sel ILC2 daripada yang tidak. Dan wanita asthmatik memiliki sel ILC2 lebih banyak dibanding pria.

Peneliti juga menambahkan bahwa hormon testosteron pada laki-laki dapat mencegah sel guna mengurangi produksi sitokin.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini