nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Aceh Berduyun-duyun Masak Lemang Peringati Maulid Nabi

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis 30 November 2017 12:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 30 298 1823058 warga-aceh-berduyun-duyun-masak-lemang-peringati-maulid-nabi-igp7ibdYFB.jpg

KUTACANE - Mayoritas warga di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, memasak lemang mewarisi tradisi Suku Alas ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriah yang jatuh pada Jumat (1/12).

Pantauan di sejumlah desa Aceh Tenggara, terlihat sejumlah penduduk di daerah tersebut, sejak pagi hari mulai melakukan aktifitas menanak lemang sebagai penganan khas asli Indonesia ini.

"Kita bikin seperti ini, sebagai tiang penyangga untuk membakar lemang dengan menggunakan kayu kering," terang Suhardi Selian (44), penduduk di Babussalam.

Ia mengaku, kegiatan membakar penganan khas yang berada di dalam batang bambu tersebut memakan waktu paling cepat sekitar empat jam lamanya.

Seperti diketahui, lemang terbuat dari pulut atau ketan yang di campur dengan santan dan garam kemudian dilapisi daun pisang, serta dibakar menggunakan bambu.

Cara membakar lemang dengan posisi di bagian tengah bambu yang agak dimiringkan pada tiang penyangga. Agar masaknya rata, maka putar-putar bambu yang di bakar dengan kayu api.

"Bila kita beli di pajak (pasar), harga lemang ini Rp15 ribu untuk satu sambung. Cuma, tak enak kita rasa kalau tidak kita bakar sendiri," ucap Fatimah (42).

Radasah (61), anggota Badan Permusyawaratan Kute Perapat Sepakat menjelaskan, tradisi memasak lemang adalah demi menjaga adat Suku Alas yang dilakukan dua kali dalam setahun. "Ini sudah kita lakukan sejak turun-temurun setiap memperingati maulid nabi, dan Idul Adha tiap tahun," tuturnya.

"Orang dahulu di wilayah Aceh Tsambung ini, bila malam hari peringatan maulid, maka lemang jadi santapan sambil dengarkan ceramah. Kalau Idul Adha, maka kita hidangkan kepada tamu yang datang," ujar Radasah.

Berbicara tentang sejarah peringatan Maulid SAW, Jalaluddin al-Suyuthi dalam Al-Hawi li al-Fatawi (I/252) menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengadakannya adalah penguasa Irbil, Raja Muzhaffar Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin (549-630 H), seorang raja yang mulia, luhur dan pemurah. Beliau merayakan Maulid Nabi SAW. Pada bulan Rabi’ul Awwal dengan perayaan yang meriah.

Dalam al-Bidayahwa al-Nihayah(XIII/136) Ibnu Katsir menilai bahwa Raja Muzhaffar termasuk penguasa yang alim dan adil, serta memiliki banyak peninggalan yang baik (atsar hasanah). Di antara peninggalan baik beliau adalah al-Maulid al-Syarif (perayaan maulid yang mulia) setiap bulan Rabi’ul Awwal.

Sejak saat itulah, umat Islam di berbagai belahan dunia menjadikan peringatan Maulid Nabi SAW. Sebagai sebuah tradisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk ungkapan kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW, karena kelahiran beliau merupakan nikmat dan rahmat teragung yang diturunkan Allah SWT. Ke muka bumi dan selayaknyalah kaum muslim merasa gembira dengan cara merayakan atau dengan cara lain yang substansinya menunjukkan rasa syukur atas adanya nikmat tersebut.

(Baca Juga: Mengenal Warisan Budaya Melayu saat Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW)

Nabi sendiri mensyukuri hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari, bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa Senin. Beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.”(HR. Muslim [1977]).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi SAW berpuasa pada hari Senin sebab hari itu adalah hari kelahiran beliau dan diturunkannya wahyu kepada beliau.

(Baca Juga: Keutamaan Maulid Nabi, Rasulullah pun Berpuasa di Hari Kelahirannya)

Ibnu Hajar al-‘Asqallani mengatakan bahwa bersyukur kepada Allah SWT bisa dilakukan dengan bermacam bentuk ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca Alquran, dan tidak dipungkiri bahwa kelahiran beliau adalah nikmat yang paling agung.

Dari itulah dalam mengekspresikan syukur selayaknya dengan memperbanyak membaca Alquran, memberi makan dan menyanjung dengan pujian-pujian atas Rasulullah yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal ukhrawi. (Al-Fatawa al-Kubra, I/196).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini