nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sinuhun PB XIII Masak Nasi Gunakan Dandang Sedudo Joko Tarub

Bramantyo, Jurnalis · Senin 04 Desember 2017 00:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 04 298 1824557 sinuhun-pb-xiii-masak-nasi-gunakan-dandang-sedudo-joko-tarub-n3jMjXB7vH.jpg Ilustrasi. Tradisi Sekaten di Solo (Foto: Dok Okezone)

SOLO - Perayaan sekaten atau grebeg mulud yang digelar setiap tahun pada bulan Mulud dalam penanggalan Jawa pada tahun ini sangat istimewa karena bertepatan dengan Grebeg Dal dalam kalender Jawa Sultan Agung Hanyokrokusuma. Nantinya kraton menggelar tradisi adat "adang dandang sedudo" yang hanya di lakukan setiap delapan tahun sekali.

Dandang yang digunakan merupakan salah satu peninggalan dari Joko Tarub yang kala itu digunakan Dewi Nawang Wulan untuk memasak nasi. Dan malam ini dandang itu akan dikeluargakan dan Sinuhun Pakoebowono XIII akan Adang (memasak nasi) dengan menggunakan dandang tersebut.

"Ini tradisi menanak nasi dengan menggunakan periuk sedudo," terang GPH Dipokusumo, Pengageng Parentah Kraton Kasunanan Surakarta.

Dalam kisah Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan menanak nasi hanya dengan masukkan sebulir padi sudah masuk menjadi nasi yang banyak, sehingga lumbung padinya tidak pernah habis.

Setiap memasak nasi Dewi Nawangwulan selalu berpesan kepada Jaka Tarub untuk tidak membuka kekep (penutup) dandang yang sedang digunakan memasak nasi.

Karena penasaran dengan pesan dari istrinya, Joko Tarub langsung masuk ke dalam dapur saat istrinya sedang keluar rumah. Saat dibuka ternyata di dalam nasi hanya berisi buliran padi. Setelah melihat isinya Joko Tarub menutup kembali dandang nasi tersebut.

Saat pulang ke rumah, Nawang Wulan terkejut saat membuka tutup dandang masih tetap berisi sebulir padi, dan tahulah dia bahwa suaminya Joko Tarub sudah melanggar janji dengan membuka dandang tersebut.

Akhirnya Nawang Wulan meminta dibuatkan peralatan dapur yang berupa lesung, alu untuk menumbuk beras. Setelah kejadian itu Dewi Nawang Wulan sebelum memasak beras untuk menjadi nasi harus menumbuk padi terlebih dahulu hingga menjadi beras baru kemudian dimasak, begitu seterusnya hingga suatu ketika stok padi yang ada di lumbung mulai habis.

Saat itulah Nawang Wulan melihat busana bidadari yang ada di dalam tumpukan padi. Nawang Wulan berfikir mungkin saat ini waktunya dia harus kembali ke asalnya.

"Hingga akhirnya Dewi Nawang Wulan pamit pada Joko Tarub dan sebelum pergi berpesan kepada suaminya si Jaka Tarub, bila putrinya (Nawangsih) menangis minta disusui agar diletakkan di depan rumah di atas anjang-anjang," jelas Dipokusumo.

Kelak anak keturunan Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan akan menjadi cikal bakal raja tanah Jawa, yakni Ki Ageng Pemanahan (cucu Joko Tarub) membangun kerajaan Mataram Islam pertama kali di tanah Jawa.

(Baca Juga: Sekaten, Ini Sejarahnya)

Saat ini dandang Sedudo di simpan di Keraton Solo dan hanya keluar setiap delapan tahun sekali. Saat boyong keraton ( pindah dari Keraton Kartosuro ke desa Sala) dandang Sedodo sempat dibegal (dijarah) perampok, namun berhasil diselamatkan oleh Nyai Gondoroso.

"Hingga saat ini dandang sedudo, yang merawat merupakan anak keturunan dari nyai Gondoroso," lanjut Dipokusumo.

(Baca Juga: Kuliner Wajib di Sekaten Itu Bernama Sega Gurih)

Sebelum digunakan, dandang akan dijamasi (dicuci) terlebih dahulu melalui serangkaian acara sesuai tradisinya. Baru setelahnya digunakan memasak nasi oleh Sinuhun (raja) dan setelah matang nasinya akan di bagi bagikan kepada seluruh kerabat yang saat itu hadir dalam acara grebeg dal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini