nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesta Adat Bangka Nganggung Dulang Raksasa Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Arsan Mailanto, Jurnalis · Senin 04 Desember 2017 05:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 04 406 1824613 pesta-adat-bangka-nganggung-dulang-raksasa-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw-N9iMTrCdeU.jpg Pesta Adat Nganggung Dulang di Bangka Belitung (Foto:Arsan/Okezone)

RITUAL  adat nganggung "nganggong" bersama masih menjadi simbol kebersamaan masyarakat Bangka Belitung yang sangat kental hingga saat ini. Bertempat di Desa Kemuja, Bangka adat digelar di lapangan terbuka dengan arakan dulang besar berdiameter 7,8 meter, yang sekaligus memecahkan rekor muri dalam sebuah dulang terbesar.

Gelaran ritual pesta adat masyarakat Bangka ini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H. Pasalnya warga sini selalu menyambut Maulid Nabi dengan suka cita, seperti tradisi nganggung yang biasanya dilakukan di masjid, namun kali ini digelar di lapangan terbuka.

BACA JUGA:

Mengenal Tari Katreji, Hasil Akulturasi Budaya Portugis di Tanah Maluku Utara

Tokoh Masyarakat, H. Syamsudin mengatakan, ritual adat ini diawali dengan ceramah agama dan doa bersama untuk keselamatan umat. Lalu pembacaan barzanji, membacakan shalawat bagi junjungan besar umat islam Nabi Muhammad SAW.

"Sedangkan untuk dulang berisi makanan, pada umumnya digunakan warga untuk nganggung. Dulang tersebut sudah tersusun rapi di tenda-tenda yang isinya seperti ketupat, lepat, lauk pauk, buah-buahan, dll," ujarnya ditemui awak media di Kemuja, Bangka.

Lanjut Syamsudin, sementara dulang-dulang berisi makanan umumnya digunakan warga untuk nganggung sudah tersusun rapi di tenda-tenda yang disediakan masyarakat. Ribuan warga duduk bersila saling berhadapan dengan dulang di tengahnya.

"Puncak pesta adat dilakukan dengan arakan dulang besar yang berisikan makanan berupa 16 jenis kue khas Bangka, sebagai simbol gotong royong yang di arak mengelilingi lapangan tempat digelarnya pesta adat ritual ini sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Pencipta atas rezeki yang telah diturunkan," tuturnya.

"Usai arakan dulang warga pun menyantap bersama makanan yang di bawa dalam di dalam dulang tersebut. Usai arakan warga menyantap bersama makanan yang di bawa ke dalam dulang tersebut," sambung Syamsudin.

Dia menjelaskan, nganggung yang berarti mengangat atau memindahkan makanan yang dimasak dirumah untuk dibawa ke masjid dan dimakan secara beramai-ramai merupakan tradisi turun temerun masyarakat dari nenek moyang dulu di Bangka Belitung atau biasa disebut negeri Serumpun Sebalai.

"Dan memang tradisi nganggung biasanya kita dilakukan bersama warga dalam rangka memperingati hari besar umat islam seperti tahun baru islam seperti Isra Miraj, Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, Idul Adha, dan banyak lainnya," tukasnya.

Kata Syamsudin, selain hari besar nganggung yang biasa dilakukan masyarakat Bangka Belitung. Jika ada warga yang terkena musibah seperti meninggal dunia, warga sekitar juga menggunakan dulang ketempat yang terkena musibah dengan tujuan membantu yang terkena musibah.

 

BACA JUGA:

Fakta-Fakta Unik Tugu Yogya, Diantaranya Menyusut 10 Meter

"Jadi nganggung merupakan salah satu kekayaan tradisi bangsa Indonesia yang patut kita jaga dan lestarikan jangan sampai tergerus dengan zaman yang serba modern sebagai warisan budaya untuk generasi berikutnya," imbuh Syamsudin.

Tak hanya itu, dulang besar berdiameter 7,8 meter dan tinggi 150 cm ini juga memecahkan rekor muri dulang terbesar yang sebelumnya dicatat oleh Kabupaten Mamaju, Sulawesi dengan ukuran 2,5 meter.

"Rekor muri ini tercatat sebagai pemecahan rekor baru, tudung saji terbesar alias dulang dibuat dengan diameter 7,8 meter dan tinggi 150 cm oleh karena itu muri mengucapkan sebagai pemecahan rekor tudung saji terbesar," kata Manager Muri Indonesia, Tryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini