nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bunda Stres Pasca Melahirkan? Ini Penyebab dan Gejalanya!

Vessy Frizona, Jurnalis · Rabu 06 Desember 2017 20:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 06 196 1826357 bunda-stres-pasca-melahirkan-ini-penyebab-dan-gejalanya-oZPV3yhMsj.jpg Ibu Stres (Foto: Women)

HAMPIR semua wanita berisiko mengalami stres saat hamil dan setelah melahirkan pada tahun-tahun pertama. Banyak faktor yang membuat stres itu terjadi.

Psikolog Anak Vera Itabiliana, menyebut, sesudah melahirkan ibu biasanya mengalami banyak hal yang memicu stres. Karena menjadi ibu baru membawa perubahan besar pada kondisi pribadi perempuan.

"Misalnya ketika hamil, penampilan fisik berubah, susah tidur, banyak kejadian-kejadian baru yang terjadi dan ibu hamil tidak siap menghadapinya. Lalu, ketika melahirkan ibu merasa kehilangan kebebasan dan kecemasan terkait kondisi anak, pola tidur berubah, ada harapan yang tidak sesuai dengan realita, atau memgalami baby blues," ungkap Vera saat ditemui diacara bertajuk Memberi Dukungan Lebih bagi Para Ibu Lewat Komunitas #OramiBirthClub, di Kawasan Jakarta Selatan, Rabu (6/12/2017).

Menurut data World Health Organization angka gangguan jiwa yang dialami ibu pasca-melahirkan sangat tinggi. Depresi atau postpartum depression ini adalah masalah umum yang memengaruhi sekitar 13 persen wanita di seluruh dunia. Di negara berkembang, angka ini pun lebih tinggi lagi, yaitu sekitar 19,8 persen. Ibu yang mengidap gangguan jiwa pasca-melahirkan tidak mampu menjalankan kewajibannya sehingga dapat berimbas pada pertumbuhan bayi. Terdapat beberapa elemen yang memicu meningkatnya kondisi ini, salah satunya adalah dukungan sosial yang rendah.

Berbeda dengan pria, wanita menyikapi stress dengan respon 'trend and bestfriend' sehingga perempuan menjadi lebih perhatian terhadap kebutuhan bayinya serta senang berkumpul dan melakukan kontak sosial untuk mendapat dukungan.

Untuk itu, dukungan keluarga sangat penting bagi ibu yang baru melahirkan sebab hal itu dapat menenkan tingkat stres yang dialami. Selain itu, dukungan sosial lain juga tak kalah pentingnya, salah satu yang bisa dilakukan ibu adalah dengan memiliki komunitas sosial yang supportive sehingga dapat memberi perlindungan dari rasa cemas.

"Di sinilah peran komunitas diperlukan karena berkomunitas dan melakukan kontak sosial memicu timbulnya hormon oxytosin yang meminimalisasi efek hormon stess atau kortisol. Hal ini menunjukkan bahwa bersosialisasi dan berkumunitas, terlebih di kalangan wanita, baik untuk kesehatan. Dukungan keluarga dan komunitas yang kuat niscaya dapat mengurangi risiko gangguan mental pasca-melahirkan," jelas Vera.

Selain itu, Ferry Tenka selaku CEO Orami mengatakan, komunitas dapat menjadi rumah kedua bagi para ibu. "Ketika pertama kali menjadi ibu mereka biasanya bingung, memiliki banyak pertanyaan, dan kadang malu bertanya. Dengan bergabung di komunitas mereka dapat berbagi dan saling mendukung untuk mejawab masalah yang dihadapi bersama para ibu lain," tukasnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini