nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus KLB Difteri Terparah Terjadi di Jawa Timur

Agregasi Antara, Jurnalis · Rabu 06 Desember 2017 01:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 06 481 1825791 kasus-klb-difteri-terparah-terjadi-di-jawa-timur-eFaFK1hPNq.jpg Bakteri Difteri

JAKARTA - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh menyatakan kasus kejadian luar biasa difteri yang terparah terjadi di wilayah Jawa Timur.

"Dari 95 kabupaten-kota melaporkan kasus difteri, yang terparah Jawa Timur, kedua Jabodetabek, dan Tangerang Banten," ujar Subuh dalam keterangannya kepada wartawan di Palembang, Selasa (5/12/2017).

Dia mengungkapkan hingga November 2017 sebanyak 95 kabupaten-kota dari 22 provinsi melaporkan kejadian kasus difteri. Subuh menjelaskan kriteria kejadian luar biasa ialah di mana satu kasus difteri ditemukan di suatu wilayah maka dikatakan KLB difteri.

Subuh menjelaskan jumlah KLB tersebut masih diteliti lebih lanjut oleh pemerintah. "Tapi ini masuk kasus 'suspect', karena penegakan difteri dari gejala klinis bukan hasil laboratorium," kata Subuh.

Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu wilayah yang melaporkan temuan kasus difteri. Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin menyampaikan temuan kasus difteri di Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Kemuning Ilir hanya terduga secara klinis. Namun setelah diteliti lewat laboratorium, kata Alex, hasilnya negatif difteri.

Subuh menyampaikan pesan dari Menteri Kesehatan yang menginginkan Provinsi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang, menjadi perhatian khusus untuk diselesaikan masalah penyakit menular secara cepat. Pertimbangannya, kata Subuh, Kota Palembang akan menjadi gelaran olahraga tingkat internasional yakni Asian Games 2018.

(Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Penyakit Mematikan Difteri)

Subuh menyatakan pemerintah melakukan upaya pencegahan penularan difteri dengan imunisasi. Masyarakat diimbau untuk melengkapi imunisasi difteri pada anak sebagai upaya preventif.

Munculnya KLB difteri dapat terkait dengan adanya "immunity gap", yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri karena kelompok tersebut tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan kasus penyakit difteri yang terjadi di 20 provinsi di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi.

Lantaran itu Oscar menganjurkan masyarakat untuk memeriksa status imunisasi putra-putrinya untuk mengetahui apakah status imunisasinya sudah lengkap sesuai jadwal. "Jika belum lengkap, agar dilengkapi," katanya.

Oscar juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang batuk dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jika anggota keluarganya ada yang mengalami demam disertai nyeri menelan. Dia menekankan masyarakat perlu waspada terutama jika didapatkan selaput putih keabuan di tenggorokan.

"Masyarakat perlu mendukung dan bersikap kooperatif jika di tempat tinggalnya diadakan ORI (Outbreak Response Immunization) oleh Dinas Kesehatan kabupaten-kota setempat," kata Oscar.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten-kota dari 20 provinsi melaporkan kasus difteri. Sementara pada kurun waktu Oktober-November 2017 ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya Kejadian Luar Biasa Difteri di wilayah kabupaten-kota, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

(Baca Juga: Tanda Seseorang Terjangkit Difteri)

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh kuman "Corynebacterium diptheriae".

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, sekira 38 derajat celcius, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. Terkadang difteri disertai sesak napas dan suara mengorok.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini