Konsumsi Fast Food Dapat Turunkan Kualitas Hidup Anak-Anak

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 12 Desember 2017 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 12 481 1829264 konsumsi-fast-food-dapat-turunkan-kualitas-hidup-anak-anak-paaaFszf3O.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

KONSUMSI masyarakat terhadap fast food atau makanan cepat saji masih terbilang cukup tinggi. Tidak sempat menyiapkan makanan atau lebih praktis seringkali dijadikan alasan. Padahal mengonsumsi makanan cepat saji dapat berdampak buruk pada kesehatan tubuh.

Sayangnya, konsumsi jenis makanan tersebut juga sering terjadi pada anak-anak. Selain karena rasanya dianggap lebih enak dibanding makanan bernutrisi seperti sayuran, banyak orangtua yang lebih memberi anak mereka makan fast food daripada tidak sama sekali. Inilah salah satu alasan mengapa angka obesitas pada anak terus bertambah.

Dalam sebuah forum kesehatan yang diikuti oleh 300 orang pakar kesehatan dan dokter di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), diungkapkan konsumsi makanan cepat saji dapat menurunkan kualitas hidup seorang anak. Belum lagi jika anak-anak tersebut jarang berolahraga. Di masa depan, biaya yang diperlukan untuk merawat kondisi tubuh terkait obesitas akan semakin besar di samping masalah finansial.

Menurut peserta dalam forum kesehatan tersebut, gaya hidup yang nyaman, kurangnya aktivitas fisik dan olahraga, serta kemudahan akses untuk makanan cepat saji membuat harapan hidup semakin singkat. Seperti yang diketahui, obesitas memperbesar risiko terjadinya penyakit diabetes, kardiovaskular, dan penyakit lainnya. 

Bila kebiasaan itu terus berlanjut, nantinya kehidupan generasi mendatang akan semakin sulit. Sebab diperkirakan di 2040 biaya kesehatan untuk penyakit terkait obesitas mencapai hampir $50 miliar atau setara dengan Rp714,2 triliun.

Para peserta forum kesehatan menyarankan untuk menyediakan zona eksklusif di sekitar sekolah di mana adanya pencegahan untuk membuka gerai makanan cepat guna mengatasi penyebaran epidemi obesitas. Sebelumnya cara ini telah diterapkan di Inggris sehingga dapat mendorong upaya orangtua dalam mengendalikan jenis makanan yang dikonsumsi oleh anak-anaknya. Selain saran tersebut, diperlukan pula pendekatan multi-cabang agar anak-anak siap menghadapi masalah kesehatan di masa depan.

Baca Juga:

Tak hanya orangtua, guru pun diimbau untuk mengendalikan obesitas karena penyebabnya bukan hanya dari makanan cepat saji. Guru harus mengusahakan para siswanya berpartisipasi dalam kegiatan olahraga.

Satu hal yang terpenting, perusahaan makanan cepat saji harus memiliki tanggung jawab agar tidak menargetkan kaum muda dan kalangan yang rentan terkena obesitas untuk mengonsumsi produknya melalui iklan. Demikian seperti yang dilansir dari Thenational, Selasa (12/12/2017).

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini