nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Wisata Sejarah di Jakarta, dari yang Mistis hingga Peninggalan Antik

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 14 Desember 2017 14:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 14 406 1830281 3-wisata-sejarah-di-jakarta-dari-yang-mistis-hingga-peninggalan-antik-RO6ducpcZb.jpg Museum Sejarah Jakarta (Foto: Utami/Okezone)

JAKARTA memiliki ratusan tempat wisata yang siap dikunjungi untuk menyegarkan pikiran. Tak terkecuali wisata sejarahnya.

Mulai dari wisata penuh mistis hingga wisata untuk mengenal zaman pra sejarah bisa Anda kunjungi. Berikut Okezone rangkum beberapa tempat wisata sejarah yang bisa Anda kunjungi di Jakarta:

Museum Taman Prasasti

(Foto: Utami/Okezone)

Museum Taman Prasasti berbeda dengan museum pada umumnya. Museum ini cukup mampu membuat bulu kuduk siapapun berdiri alias merinding. Memiliki tampilan layaknya taman, tapi bukan juga seperti taman indah yang penuh tanaman hias atau bunga-bunga. Taman sekaligus museum tersebut bahkan memberikan kesan mistis ketika kali pertama mata Anda melihatnya.

Ya, Museum Taman Prasasti. Museum yang telah ada pada sekira 288 tahun silam ini berada di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta, yang dulunya bernama Jacatra Weg. Bagi kamu yang belum pernah ke museum sekaligus taman tersebut agaknya mesti menyiapkan mental terlebih dahulu.

Alasannya cukup sederhana, Museum Taman Prasasti memiliki pemandangan layaknya pemakaman. Dan museum tersebut juga merupakan tempat yang memiliki cukup banyak kisah kematian dari tokoh-tokoh penting berasal dari periode sejarah berbeda.

Museum Taman Prasasti resmi dijadikan sebagai museum pada 1977 oleh Ali Sadikin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, uniknya museum yang sempat bernama Kebon Jahe Kober ini, sebelumnya adalah pemakaman umum, yang dibangun pada 1795 sekira 222 tahun silam untuk gantikan pemakaman dari gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang dikenal dengan Museum Wayang.

(Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Soto Betawi Paling Enak di Jakarta)

Museum yang lebih cocok disebut taman pemakaman ini memang sengaja dibentuk layaknya kuburan, karena dikhususkan untuk menyimpan macam-macam batu nisan dan prasasti yang punya nilai sejarah cukup tinggi. Salah satu nisan yang ada di taman ialah tokoh Soe Hok Gie.

Ketika memasuki area taman, kesan mistis dan seram akan segera menyergap Anda. Namun, bagi Anda yang cukup memiliki keberanian, lokasi taman bisa dijadikan spot foto yang apik. Ada banyak patung-patung malaikat yang akan membuat latar belakang foto Anda tampak lebih bagus.

Dibalik kemistisan dan horornya Museum Taman Prasasti ada sebuah cerita yang tidak kalah seram. Kabarnya ada tengkorak manusia yang mengeluarkan air mata. Dan, pada malam menjelang seorang penjaga pernah mendengar suara tangisan yang setelah ditelusuri suara itu berasal dari prasasti Pieter Erbeveld.

Pieter Erbeveld adalah seorang pria yang berdarah campuran Jerman dan Thailand yang membenci bangsa Belanda. Walau tengkorak yang ada di Museum Taman Prasasti tiruan, tapi menurut para penjaga dan beberapa pengunjung, tengkoraknya masih sering menunjukkan keanehan seperti mengeluarkan air mata.

Museum Nasional

(Foto: Utami/Okezone)

Museum Nasional merupakan satu dari museum yang ada di Jakarta, Indonesia. Museum Nasional yang juga sering disebut Munas ini pembangunannya bermula dari berdirinya himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada 24 April 265 tahun lalu.

Setelah genap menginjak usia lebih dari dua setengah abad, Munas telah banyak dibangun dan mengalami perubahan pada gedungnya. Salah satunya ialah adanya gedung B, tempat pengunjung dapat melihat rangkaian cerita yang didasarkan pada kerangka unsur-unsur kebudayaan yang meliputi tujuh buah pokok kebudayaan, oleh Prof. Koentjaraningkrat, ketujuh pokok tersebut, yaitu sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem matapencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan.

Setiap benda yang merupakan hasil dari kebudayaan karya manusia pasti memiliki fungsi dan termasuk dalam salah satu unsur-unsur yang telah disebutkan sebelumnya. Mengutip dari buku panduan Museum Nasional Gedung B, ada beberapa benda yang disimpan oleh Museum Nasional, pernah digunakan zaman dulu dan masih eksis pula di zaman sekarang:

Lumpang

Lumpang adalah salah satu alat yang memiliki banyak fungsi. Alat berupa batu ini dulunya sering digunakan untuk meracik obat-obatan herbal yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, menumbuk bumbu untuk masakan, dan meracik jamu. Daerah yang masyarakatnya menggunakan lumpang pada zaman dulu ialah Punung, Pacitan, Jawa Timur. Lumpang yang mereka gunakan terbuat dari batu andesit, terdiri dari sepasang batu, yaitu lumpang atau wadah yang berbentuk bulay dan alu atau penumbuk.

Kini, lumpang masih digunakan oleh ibu-ibu di pemukiman masyarakat yang masih cukup tradisional seperti pedesaan atau kampung-kampung. Sementara, ibu rumah tangga di perkotaan biasa menggunakan blender untuk menghaluskan bumbu masakannya.

(Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Bakmi Ayam Paling Maknyus di Jakarta)

Kentongan

Sebagai alat komunikasi yang zaman dulu digunakan oleh masyarakat Indonesia, kentongan juga masih eksis hingga kini. Namun, kentongan pada zaman sekarang diletakkan hanya di pos-pos ronda. Pada zaman dulu, kentongan biasanya dipukul sebagai pemberi isyarat atau untuk memanggil warga dan bisa juga jadi penanda adanya bahaya. Salah satu kentongan yang ada di Museum Nasional, terbuat dari tanah merah yang berasal dari daerah Madura, Jawa Timur.

Gelas berkaki

Walaupun termasuk benda bersejarah, gelas berkaki yang ada di Munas terbuat dari kristal. Benda yang digunakan untuk menikmati minuman ini merupakan peninggalan dari bangsa Belanda, tepatnya berasal dari abad ke 17 Masehi. Zaman dulu, gelas berkaki digunakan sebagai wadah untuk minum anggur dan minuman beralkohol lainnya. Gelas berkaki yang disimpan dalam Museum Nasional terhias kapal ayar Belanda dan tertulis kalimat Het Oost Ondische Compagnie Welvaren, yang artinya Kesejahteraan Perseroan Hindia Timur.

Piring

Piring pun jadi salah satu benda zaman dulu yang jelas masih digunakan pada zaman sekarang. Salah satu piring bersejarah yang ada di Museum Nasional ialah piring yang terbuat dari porselen. Pada zamannya, piring ini termasuk dalam perlengkapan makan yang mewah peninggalan Malaka. Mengutip dari buku panduan Museum Nasional, bagian tengah piring terdapat gambar seekor macan dan gajah yang sedang memegang tulisan CJW sedangkan di bawah kaki kedua binatang ini tertulis Mallaca.

Piring ini diberikan oleh penduduk Malaka pada pemimpin Angkatan Laut Belanda bernama Constanijn Johan Wolterbeek, sebab ia telah berhasil merebut kembali Malaka dari Inggris pada 1818.

Museum Sejarah Jakarta

(Foto: Utami/Okezone)

Meseum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah menyingkap cerita, mulai dari zaman prasejarah hingga berdirinya Kota Jayakarta. Museum Fatahillah menjadi salah satu destinasi wisata edukatif warga Jakarta.

Museum Fatahillah, dinamakan demikian karena terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 2, Jakarta. Museum Fatahillah, sebelum diresmikan sebagai museum pada 30 Maret 1974, dahulunya merupakan Gedung Balaikota (Stadhuis). Dengan gaya barok klasik, museum ini menyuguhkan arsitektur khas yang menambah suasana penjelajahan semakin lekat. Museum Fatahillah terdiri dari tiga lantai yang dilengkapi petunjuk mata angin di bagian puncaknya. Menyimpan 25.000 benda koleksi, menjadikan Museum Fatahillah salah satu pilihan untuk berwisata edukatif.

Tampak di bagian taman, beberapa meriam yang menambah kesan tangguhnya bangunan ini. Hanya mengeluarkan uang Rp2.000, Anda dapat menulusuri jejak sejarah Kota Jakarta, antara pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Dari pintu masuk, ruangan sebelah kiri adalah bagian yang menampilkan perkembangan Kota Jakarta dari masa ke masa. Lantainya terbuat dari kayu dengan langit-langit tinggi menjadi desain khas di masa kejayaannya.

Beranjak ke ruangan berikutnya, Anda akan diperlihatkan benda-benda peninggalan zaman prasejarah. Ada pula lukisan yang menggambarkan kehidupan di era tersebut. Puas melihat warisan era lama, beralihlah ke ruangan yang memamerkan situs pusaka dari masa Kerajaan Tarumanegara. Di ruangan ini terdapat prasasti serta miniatur Raja Kerajaan Tarumanegara. Sayang, tali pancang yang melindungi prasasti tersebut terjuntai sehingga mudah disentuh tangan-tangan pengunjung.

Dari ruangan tengah, terdapat tangga yang mengantar Anda ke taman bagian belakang. Anda akan dibuat terpukau oleh Patung Hermes yang bernilai artistik tinggi. Dari sana, Anda akan menemui Meriam Sijagur yang berada di antara kantor museum. Kembali ke bagian dalam museum, Anda memasuki ruangan yang bercerita sejarah pembangunan Museum Fatahillah. Papan informasi dibuat mengisi ruangan yang dilengkapi lampu sorot sehingga Anda dapat membacanya dengan jelas. Di ruangan berikutnya, Anda akan dibuat terkesima dengan miniatur mimbar Masjid Kampung Baru serta potret kebudayaan Betawi yang menjadi penutup penelusuran di lantai dasar.

Merangkak ke lantai dua, Anda ”diantar” tangga kayu berukuran besar yang kokoh. Di lantai ini, Anda akan melihat banyak furnitur khas era abad ke-17. Ruangan megah ini semakin anggun dengan lukisan yang menggambarkan pemerintahan kolonial Belanda. Berpindah ke ruangan sebelah kanan, Anda akan disambut cermin berukuran besar, juga ada meja makan besar bak cerita kerajaan. Lalu di ruangan lainnya, Anda akan menemukan banyak lemari besar dengan ukiran yang indah.

Koleksi yang tak boleh ketinggalan dilihat adalah lukisan Daendels dan penyekat ruangan yang berukir dewa-dewi dalam mitologi Yunani. Sementara, di sudut ruangan lainnya ada sebuah kamar lengkap dengan ranjang besar, ranjang bayi, dan lemari pakaian kala itu. Beranjak ke ruangan peralihan, Anda dapat berjalan ke depan dan melihat sekeliling Museum Fatahillah lewat jendela.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini