Menjadi Antivaksin? Pelajari Kembali Fatwa MUI Ini!

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 14 Desember 2017 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 14 481 1830266 menjadi-antivaksin-pelajari-dulu-fatwa-mui-ini-mEjn3GtGuL.jpg Fatwa MUI tentang pemberian vaksin (Foto:Ist)

SAAT  ini banyak orang menyuarakan bahwa dirinya menjadi golongan antivaksin. Banyak alasan yang mereka utarakan, termasuk vaksin terbuat dari bahan yang haram dan tidak layak diberikan.

Padahal sudah dijelaskan dalam peraturan atau fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 yang menyebutkan bahwa imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

Poin selanjutnya dijelaskan, imunisasi dengan vaksin yang haram/ najis tidak boleh digunakan, kecuali:

BACA JUGA:

Ternyata Ini Hidangan Favorit Semua Anggota Keluarga Kerajaan Inggris

a. Digunakan pada kondisi al-darurat atau al-hajat

b. Belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci.

c. Adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa. Berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

Imunisasi juga tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan.

Menanggapi banyak golongan antivaksin, Menteri Kesehatan RI Prof Dr dr Nila F Moeloek SpM(K) mengatakan, pemberian imunisasi ini sifatnya untuk mencegah suatu penyakit yang berbahaya. Termasuk difteri yang kini statusnya dinyatakan sebagai wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Pemberian imunisasi ini sifatnya preventif dan pencegahan yang spesifik. Apalagi untuk anak di bawah 4 tahun antibodinya kurang dan harus dilindungi dengan vaksin supaya tidak tertular penyakit," terang Menkes Nila dalam informasi yang diterima Okezone, Kamis (14/12/2017).

Kalau ada orangtua menjadi antivaksin perkara bahan pembuatan vaksinnya, dianggap salah besar. Umumnya, vaksin dibuat dari kuman yang dilemahkan atau bahan lain yang tentu aman dan tidak berbahaya.

Termasuk vaksin difteri yang kini tengah dipakai sebagai pencegahan penyakit yang tengah mewabah di beberapa wilayah Indonesia. Pemerintah menyiapkan vaksin yang aman untuk melindungi anak-anak.

"Imunisasi ini harus, karena anak enggak bisa teriak. Kami berikan kepada anak-anak terutama di bawah umur 4 tahun yang antibodinya rendah," imbuhnya.

Belakangan ini, tak sedikit masyarakat menolak saat diberikan vaksin. Padahal masyarakat tidak perlu membayar jika ingin diimunisasi.

Seharusnya orangtua melindungi anak-anaknya agar bebas dari penyakit. Apalagi penyakit difteri yang cepat menular.

BACA JUGA:

Jangan Disepelekan, Ini Tanda-Tanda Kekurangan Vitamin E

"Ada banyak orang yang tidak diimunisasi. Ada penolakan, tolong sebagai orangtua hak anak harus dipenuhi. Di luar negeri, kalau sampai anaknya cacat kita bisa nuntut orangtua," terangnya.

Langkah selanjutnya, Menkes Nila akan mengajak masyarakat antivaksin agar mau diimunisasi. Dia akan menggandeng Kementerian Agama untuk menyuarakan bahwa vaksin aman diberikan dan tidak merugikan.

"Kami akan bicarakan dengan Kementerian Agama soal aturan vaksin menjadi satu hal yang harus diberikan. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan hal ini," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini