Mengenal Gejala Shopaholic dan Cara Mudah Mengatasinya

Vessy Frizona, Jurnalis · Sabtu 16 Desember 2017 19:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 16 194 1831316 mengenal-gejala-shopaholic-dan-cara-mudah-mengatasinya-bTvS6GbBs8.jpg

ISTILAH shopaholic sering kita dengar untuk menyebut orang yang 'gila' belanja. Mereka kerap menghabiskan seluruh pendapatannya hanya untuk memuaskan hasrat berbelanja, tak peduli barang itu dibutuhkan atau tidak.

Perilaku seperti itu jelas sangat tidak wajar. Sebab idealnya orang berbelanja hanya untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Meski sesekali boleh juga memuaskan keinginan, tetapi yang jelas tidak sampai menghabiskan harta kekayaan. Jika kegilaan belanja sampai menghabiskan tabungan, apa yang sebenarnya terjadi dengan perilaku shopaholic?

Psikolog Klinis Dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, Psikolog., menjelaskan tetang apa yang terjadi dengan perilaku shopaholic. Ia mengatakan, shopaholic adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak lagi mampu mengontrol dirinya untuk menahan keinginan berbelanja, meski sebenarnya barang-barang yang dibeli tidak dibutuhkan.

"Pertanyaannya, kenapa orang jadi senang berbelanja? Ya, hal itu disebabkan karena mereka merasa dengan belanja, ada rasa senang yang didapat dan itu mengaktifkan pleasure system di otak mereka," terang Arrudina kepada Okezone.

Namun, sambungnya, tak lantas orang tersebut menjadi shopaholic akut. Shopaholic dikatakan parah, jika seseorang sudah tak lagi mampu mengontrol keinginan untuk belanja sampai penghasilannya sendiri pun habis atau bahkan sampai berhutang sana-sini.

"Kondisi semakin parah ketika hidup si shopaholic jadi terganggu. Misalnya, bila dalam sehari mereka enggak belanja tuh rasanya ada yang kurang, meski yang dibelanjakan barang-barang tidak penting dan tidak dibutuhkan," sambungnya.

(Baca Juga: Gila Belanja Britney Spears Habiskan Dana Jutaan Dolar)

Lebih lanjut, psikolog lulusan Universitas Padjajaran ini mengungkap, bagi seorang shopaholic, belanja itu sudah jadi kebutuhan utama mereka sehari-hari. parahnya bisa sampai ada perubahan pada sistem di otak.

"Si pleasure system tadi, jadi tidak aktif kalau tidak dipuaskan dengan belanja. Konsepnya sama seperti adiksi," terang wanita yang akrap disapa Dina ini.

Jika sudah menjadi shopaholic akut seperti yang dipaparkan Dina, Lantas, bagaimana cara menghentikannya?

"Caranya, cut semua sumber dana belanja selama ini. Bila perlu minta bantuan dari orang terdekat untuk menyimpan uang yang dipunya, jadi akses untuk mendapatkan uang menjadi sulit dan kesempatan berbelanja jadi semakin kecil karena uangnya tidak ada," ujarnya.

Bagi pemegang kartu kredit, stop penggunaannya dengan memblokir sampai keuangan sehat lagi setelah mampu mengontrol keinginan belanja yang berlebihan

"Nah kalau selama berusaha menghentikan ini muncul gejala-gejala cemas berlebih, tidak bisa tidur karen tidak berbelanja, pekerjaan atau kegiatan sehari-hari jadi terganggu karena perilaku dikendalikan oleh pikiran untuk belanja, cobalah minta bantuan profesional dengan datang ke psikolog supaya tidak terus-menerus 'dihantui' keinginan berbelanja," tukasnya.

(Baca Juga: 7 Hal Ini Sering Membuat Wanita Menyesal Setelah Belanja)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini