nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berupaya Akhiri Perdagangan Manusia, Pemerintah Buat Model Sekolah Perempuan

Annisa Aprilia, Jurnalis · Senin 18 Desember 2017 21:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 18 196 1832339 berupaya-akhiri-perdagangan-manusia-pemerintah-buat-model-sekolah-perempuan-4Is3M2f2Ca.jpg Yohana Yembise (Foto: Okezone)

PERINGATAN acara Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember tinggal menghitung hari. Termasuk peringatan Hari Ibu ke-89 pada 2017 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Acara tersebut di antaranya ialah Simposium Nasional bertema Peran Ibu untuk Perdamaian yang mengundang First Lady Afghanistan, Yang Mulia, Rula Ghani, Bhakti Sosial di Manokwari dengan kegiatan pelatihan guru TK dan PAUD, Tes IVA, dan penyuluhan narkoba bagi siswa dan siswi SMA, Katumbri Expo 2017 bertema Optimalisasi Peranan Perempuan dalam Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Menuju Kesejahteraan.

Selain itu, ada pula peluncuran model sekolah perempuan dan akademi komunitas di Kabupaten Waropen, ziarah ke taman makam pahlawan yang akan segera dilaksanakan pada 20 Desember 2017 mendatang. Bakti Sosial nikah massal yang akan diikuti 100 pasang pengantin di Kota Sorong 21 Desember 2017 nanti, puncak acara Peringatan Hari Ibu di Raja Ampat pada 21-22 Desember 2017 mendatang, dan yang telah direncanakan pula yaitu bakti sosial Sosialisasi Pencegahan Kanker Payudara Sejak Dini, yang juga akan dilaksanakan di Kabupaten Raja Ampat pada Januari 2018 mendatang.

Salah satu kegiatan sekaligus program pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu Model Sekolah Perempuam dan Akademi Komunitas telah diluncurkam pada 13 Desember 2017 lalu di Kabupaten Waropen. Berdasarkan penuturan Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, program ini dibuat untuk mengakhiri perdagangan manusia dan kesenjangan ekonomi yang terjadi pada perempuan.

"Wacana membuat sekolah perempuan tiba-tiba muncul untuk mengakhiri perdagangan manusia, kesenjangan ekonomi buat perempuan. Sekolah ini informal ibu rumah tangga yang ada didesa, yang ingin berinovasi, dan membangun potensi dirinya boleh ikut sekolah, karena memang sengaja buat seperti itu," ucap Yohana Yembise, Menteri PPPA dalam acara Konferensi Pers Perempuan Berdaya untuk Indonesia, di kantor KPPPA, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Lebih lanjut, Yohana juga memaparkan untuk program sekolah perempuan tidak terdapat sistem kredit semester (SKS) dan kurikulum. Namun, nantinya akan dibuat modul-modul pembelajaran, para perempuan akan diajarkan berbagai macam keterampilan agar bisa semakin berinovasi dan mengembangkan kemampuannya yang selama ini terpendam.

"Saat ini baru ada di Kabupaten Waropen, tapi nantinya akan dikembangkan diberbagai daerah, seperti NTT, Maluku, dan akan berkembang terus ke daerah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan lainnya," lanjutnya.

Tidak hanya sekolah perempuan yang informal, tapi ada juga akademi komunitas yang menjadi salah satu program pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dalam akademi komunitas, program pembelajarannya tentu berbeda dengan sekolah perempuan yang sebelumnya telah dipaparkan.

"Akademi komunitas sistemnya menggunakan sistem kredit semester (SKS). Nantinya para perempuan akan menempuh pendidikan dan pelatihan keterampilan selama 1 tahun, yang setara dengan diploma 1," tambah Yohana.

Masih dalam pemaparannya, Yohana juga mengatakan, nantinya para peserta akademi akan diajarkan berbagai bahasa asing, seperti Bahasa Arab, latihan medis (training hospitality), dan sebagainya, sehingga bisa lebih dihargai, dan berkompetisi di dalam maupun luar negeri. Namun, sayangnya Yohana mengatakan program ini belum dimulai, karena butuh waktu untuk disiapkan.

Baca Juga:

"Untuk akademi, pesertanya khusus perempuan yang tamatan SMA, anak muda yg tidak bisa melanjutkan pendidikan. Nanti anggaran berasal dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak," ucap Yohana.

Para perempuan yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi bisa lanjutkan ke akademi tersebut. Nantinya, pendidikan dan pelatihan akan berlangsung selama setahun, dengan pembagian pembelajaran enam bulan teori, dan sisanya enam bulan praktek. Indonesia sendiri terinspirasi dari Filipina yang sudah mulai lebih dulu program seperti ini, dan Indonesia tengah berusaha mengadopsinya.

"Sedang digarap mudah-mudahan berhasil," pungkas Yohana.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini