Menyusuri Jejak Dinosaurus di Lembah Garam Zigong Tiongkok

ant, Jurnalis · Senin 18 Desember 2017 11:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 18 406 1832015 menyusuri-jejak-dinosaurus-di-lembah-garam-zigong-tiongkok-Jz82FGBUP0.jpg Ilustrasi (Reuters)

SEJAK 2.000 tahun silam, Kota Zigong diketahui telah menyimpan kandungan garam yang sangat besar, namun baru mulai dieksploitasi sekitar 400 tahun yang lalu. Berdasarkan dokumen yang masih tersimpan di Zigong Salt History Museum, industri garam di kota yang berjarak sekitar 195 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Provinsi Sichuan di Chengdu itu pertama kali dikembangkan secara tradisional pada tahun 1736 atau pada saat Dinasti Qing berkuasa di daratan Tiongkok.

Sampai saat ini setidaknya ada dua pabrik garam yang masih beroperasi di kota yang luasnya 4.381 kilometer persegi dan dihuni 3,2 juta jiwa penduduk itu. Salah satunya adalah Zigong 9D Salt Industry Group Co Ltd yang mampu menghasilkan garam konsumsi sebanyak empat juta ton per tahun.

Kapasitas produksi garam di kota yang berada di cekungan Sichuan itu relatif stabil karena berupa kandungan mineral di perut bumi yang tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca seperti garam rakyat yang dikembangkan para petani di beberapa wilayah pesisir Nusantara.

Tidak salah jika Zigong mampu mencukupi kebutuhan garam 60 persen penduduk China yang mencapai angka hampir 1,4 miliar jiwa dan sisanya masih diekspor ke Jepang, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Jerman.

Zigong 9D Salt Industry Group Co Ltd itu kini juga sedang menawarkan produknya kepada pemerintah Indonesia. Namun sejauh ini belum ada kecocokan harga karena pemerintah Indonesia juga tidak mau menanggung risiko anjloknya harga garam petani dalam negeri.

Terlepas dari kandungan garam yang cukup besar, ternyata Zigong sejak jutaan tahun yang lalu banyak didiami dinosaurus. Museum Dinosaurus yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota menjadi bukti nyata bahwa Zigong merupakan salah satu endemik binatang purba berukuran raksasa.

Museum itu tidak hanya pajangan rangkaian tulang-belulang, melainkan juga "kuburan" beraneka ragam spesies binatang purba yang hidup pada 100 juta tahun silam. "Saya tidak tahu persis korelasi antara tambang garam dengan fosil dinosaurus," kata Deputi Direktur Museum Dinosaurus Zigong, Zhang Zhengquan, menanggapi pertanyaan Antara mengenai faktor keterkaitan keduanya.

Dia hanya bisa menduga bahwa cuaca yang stabil menjadikan Zigong sebagai tempat yang cocok dihuni dinosaurus. Namun Zhang juga tidak menampik pendapat yang mengatakan bahwa Zigong pada masa lampau merupakan lautan yang tertimbun material vulkanik setelah ditemukan juga kerangka beberapa spesies dinosaurus yang hidup di air.

"Sampai saat ini penelitian masih terus berlangsung. Masih ada 200 spesies lagi yang masih dilakukan penggalian dan penelitian oleh para arkeolog," ujarnya.

Terbesar ketiga Museum yang berdiri di atas lahan seluas 70 ribu meter persegi di Kota Zigong itu merupakan museum dinosaurus terbesar ketiga di dunia setelah Utah (Amerika Serikat) dan Kanada.

Museum yang mulai dibangun pada 1987 itu menyimpan hampir 300 ekor kerangka dinosaurus dan ribuan pecahan fosil satwa periode Jurassic (satwa yang hidup pada periode 2,5 juta hingga 1,35 juta tahun yang lalu).

Sampai saat ini museum yang juga ditetapkan sebagai salah satu cagar geologi dunia oleh UNESCO itu dikunjungi 5.000 wisatawan mancanegara dan 800 ribu wisatawan domestik per tahun.

Pengunjung dewasa museum tersebut dikenai tarif sebesar 40 RMB (Rp80.000), sedangkan anak usia sekolah dasar bebas tiket masuk. Namun lokasinya yang relatif jauh, sekitar tiga jam perjalanan darat dari Bandar Udara Internasional Shuangliu di Chengdu menjadi salah satu kendala bagi wisatawan untuk mengunjungi museum tersebut.

Apalagi Kota Zigong belum bisa dilalui kereta api berkecepatan tinggi. Proyek jaringan kereta api cepat ruas Neijiang-Zigong-Luzhou sepanjang 130,96 kilometer yang dikerjakan mulai 2015 itu baru rampung pada 2020. "Memang sarana transportasi masih menjadi problem kami hingga saat ini sehingga kami belum bisa mendatangkan turis sebanyak mungkin," kata Zhang.

Meskipun kesannya terisolasi karena terbatasnya sarana transportasi umum beteknologi modern macam kereta cepat, penduduk Kota Zigong tidak kalah kreatif dibandingkan dengan warga lainnya di daratan Tiongkok.

Selain dikenal sebagai "Lembah Garam", warga Zigong juga memanfaatkan momentum "Kota Dinosaurus" untuk mengembangkan bakat kreativitasnya.

Kemampuan mereka "menghidupkan" lagi satwa-satwa purba endemis itu membangkitkan imajinasi masa lampau. Teknologi yang mereka kuasai mengantarkan dinosaurus jelmaan itu menembus lintas batas pasar dunia hiburan.

Di Kota Zigong terdapat beberapa insustri animator dinosaurus. Salah satunya adalah Zigong Gengu Longteng Science and Technology (ZGLST) Co Ltd. Bahkan pada tahun lalu, perusahaan itu mengekspor dua unit animator dinosaurus, masing-masing berukuran dua meter dan enam meter ke Indonesia.

"Tahun ini ada satu perusahaan 'entertainment' di Indonesia juga memesan kepada kami," kata Bunny Wong, bagian penjualan ZGLST.

Dia menyebutkan bahwa untuk animator berbahan "foam" dan karet ukuran dua meter yang dapat digerakkan dari jarak jauh dengan menggunakan "remote control" tersebut seharga 1.600 dolar AS per unit. Sementara yang ukuran enam meter, produsen animasi yang berdiri pada 2007 itu mematok harga 5.000 dolar AS per unit.

Selain Indonesia, perusahaan yang berdiri di kawasan "National Hi-Tech Industrial Development" Kota Zigong tersebut mengekspor produknya ke 50 negara lain, di antaranya Kanada, AS, Jerman, Australia, Rusia, Jepang, dan Brazil.

Pada tahun lalu, perusahaan yang mempekerjakan tenaga mekanik berpengalaman dan kawula muda kreatif tersebut nilai ekspornya mencapai lima juta dolar AS. "Pada tahun 2014 ekspor kami hanya satu juta dolar AS, tahun ini empat juta dolar AS dan hampir di setiap benua ada produk kami," kata CEO ZGLST, Qihong Guo.

Perusahaan tersebut hanya mengerjakan animator sesuai pesanan dan bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Bisa jadi dinosaurus yang menyapa para pengunjung mal dan tempat hiburan di Indonesia berasal dari Zigong.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini