Image

Iman, Janji Suci, dan Kejayaan Era 30-an dalam Koleksi Teranyar Bramanta Wijaya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 21 Desember 2017, 05:35 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 20 194 1833658 iman-janji-suci-dan-kejayaan-era-30-an-dalam-koleksi-teranyar-bramanta-wijaya-2j0FWRbzwj.jpg Koleksi terbaru desainer Bramanta Wijaya (Foto: M. Sukardi/Okezone)

SETIAP designer memiliki ciri khas goresan tangannya sendiri dalam setiap koleksi. Ciri khas yang seolah DNA itulah menjadi sesuatu yang diharapkan ada dari setiap designer. Kalau tidak ada, malah harus dipertanyakan.

Sebagai salah satu designer yang fokus pada busana pengantin, Bramanta Wijaya coba memberikan sesuatu yang berbeda dan tentunya baru di dunia couture Indonesia. Salah satu statement yang dimiliki Bramanta adalah aksen embroidery. Ciri khas ini lah yang selalu muncul di setiap koleksinya. Tak terkecuali koleksi teranyarnya untuk Spring/Summer 2018 yang diberi tema Faithfully.

“Saya ingin setiap koleksi saya bisa diterima, tapi saya juga tetap bisa melahirkan karya yang memang 'saya',” terangnya pada awak media saat konferensi pers Fashion Show-nya di Hotel Grand Mahakam Jakarta, Rabu 20 Desember 2017.

(Baca Juga: Aneh! Duo Desainer Ini Tampilkan Koleksi Busana Berhiaskan Miss V di New York Fashion Week 2018)

Dengan mengusung tema faithfully juga Bramanta yakin bahwa apa yang dia ciptakan semuanya berdasar pada keimanannya yang kuat pada Tuhan.

Bicara mengenai koleksinya, Bramanta kali ini melahirkan 18 looks gaun pengantin yang simple tapi tetap classy dan elegant. Sentuhan warna putih mendominasi seluruh koleksinya kali ini. Beberapa detail seperti fringe, halter neck, ostrich fur memberi napas klasik yang menarik. Dengan aksen itu juga, Bramanta menyelipkan unsur modern di koleksinya yang sebetulnya dipengaruhi dari busana era 30-an.

(Baca Juga: Tren Baru! Fashion Show Digelar Tanpa Catwalk, Muncul Konsep Instalasi)

Ya, kesemua koleksi Bramanta kali ini mengambil konsep busana era 30-an di mana di era itu, Bramanta lebih spesifik mengambil ide busana dari masa kejayaan Hollywood yang glamor.

“Saya pikir, era 30-an itu malah masa di mana busana perempuan lebih menunjukkan bagaimana perempuan itu sebetulnya. Sebab, cuttingan pada busana di era itu lebih fokus pada cuttingan yang membentuk tubuh tapi tetap tidak vulgar,” terangnya.

Bramanta juga menjelaskan bahwa di era 30-an itu, keindahan setiap busana yang tercipta terkenal dengan garis rancang nan feminin atau romantis. Sebab, jika membandingkan dengan busana era 20-an, banyak dari koleksi yang tercipta lebih memiliki cuttingan longgar yang mungkin tidak bisa mengekspos tubuh wanita yang indah itu sendiri.

Spesifik membahas koleksinya, untuk kali ini sepertinya Bramanta lebih mau bermain dengan beberapa aksen tambahan. Seperti kain bordir yang dipadukan dengan lace khas Bramanta di mana kolaborasi ide ini menciptakan custom lace yang bagi Bramanta adalah bentuk kebebasan.

Pembaharuan yang dilakukan Bramanta juga terlihat pada koleksinya yang mencoba menggabungkan material ringan dengan tuxorious lace, di mana ini memberi kesan modern di koleksi 30-an-nya ini.

Belum berhenti di situ, di beberapa koleksinya juga ditambahkan detail lainnya seperti low back, capes, cloak, dan gaun panjang menjuntai yang tentunya menjadi pelengkap koleksi Bramanta secara keseluruhan.

Sementara itu, Clara Devi sebagai muse menjelaskan bahwa koleksi yang diciptakan Bramanta selalu bisa mengerti apa yang diinginkan dan dia dambakan.

“Saya memercayakan Bramanta sebagai perancang baju pernikahan saya dan saya senang akan apa yang telah diperbuatnya. Dia benar-benar bisa mengerti apa yang aku inginkan. Rasa classy yang dimiliki Bramanta juga ternyata satu hati dengan apa yang aku inginkan,” ucap Clara.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini