nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Indonesia Bantu Pasarkan Produk Kopi Arabika Papua

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 22 Desember 2017 20:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 22 298 1834792 pemerintah-indonesia-bantu-pasarkan-produk-kopi-arabika-papua-yjTHhiUAb0.jpg Ilustrasi (Foto: Bitacoffee)

APA yang terlintas dibenak Anda ketika mendengar kata Papua? Sebagian orang mungkin akan menjawab Raja Ampat dan sebagiannya lagi menjawab burung Cendrawasih. Kedua hal tersebut memang menjadi daya tarik Papua di mata wisatawan.

Namun, tidak hanya sekadar keindahan alam dan kenakeragaman fauna saja yang dimiliki pulau berjuluk “Mutiara Hitam” itu. Papua ternyata juga menjadi salah satu produsen kopi berkualitas yang kini menjadi incaran sejumlah negara.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) berencana untuk mendorong kopi Papua agar bisa go international. Saat ini PPI tengah melakukan uji coba untuk memasarkan produk tersebut di dalam negeri. Mereka menargetkan produk kopi berjenis arabika bisa dipasarkan di Pulau Jawa.

“Jadi PPI di hilir sekarang sedang berjalan dan proses uji coba maupun pemasarannya sedang berjalan di Jakarta. Kita akan buka gera-gerai di seluruh Jawa. Kebetulan PPI punya gedun-gedung heritage di Jakarta, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya,” ujar Direktur Utama PPI Agus Andiyani, sebagaimana dikutip Okezone dari Tabloid West Papua, Jumat (22/12/2017).

Lebih lanjut Agus menjelaskan, selain pasar lokal, PPI juga mengincar pasar ekspor untuk produk kopi Papua. Ia mengatakan, sejumlah negara seperti China dan Rusia telah meminta PPI secara khusus untuk mengeskpor produk kopi asli Indonesia. Kesempatan ini tentunya bisa dimanfaatkan Indonesia untuk memasarkan produk kopi Papua ke dua negara tersebut.

“Kita sedang mencoba pasar ekspor ke China, Rusia, dan beberapa negara lain. Bisa kemungkinan sampai ke sana.Targetnya produk kopi asal Papua ini bisa dijual ke pasar ekspor pada 2018. Hal ini juga sambil menunggu produk kopi tersebut diproduksi dan siap untuk dipasarkan,” imbuhnya.

Berbicara soal varieas kopi Papua, para pencinta kopi nusantara mungkin sudah familiar dengan Kopi Wamena. Varietas kopi ini memang cukup dikenal karena memiliki karakter rasa yang sangat khas.

Selain Kopi Wamena, beberapa waktu lalu muncul lagi primadona kopi dari Tanah Papua yakni, Kopi Dogiyai. Kopi ini berasal dari daerah Moanemani, tepatnya di Desa Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Menurut Irvan Helmi Co-Founder sebuah gerai kopi, asal usul Kopi Dogiyai sudah tercatat sejak 1975.

"Kalau tahun 1975 sudah tercatat, berarti bibit kopi ini diduga merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda. Popularitasnya memang kalah dengan varietas kopi lainnya, mungkin karena pada saat itu Pemerintah Indonesia atau masyarakat lokal belum fokus untuk mengembangkan kopi tersebut," tutur Irvan saat dihubungi Okezone via telepon, beberapa waktu lalu.

Jika ditelisik lebih jauh, tanah Papua memang sangat ideal ditanami kopi jenis arabika karena dikelilingi oleh lereng-lereng gunung yang ketinggiannya mencapai 1.900 - 2.000 meter dari atas permukaan laut.

"Dulunya di kawasan Dogiyai itu sempat berdiri semacam estate yang cukup luas. Namun setelah Indonesia merdeka, kawasan ini tidak terurus dan malah jadi hutan yang dipenuhi pohon-pohon pelindung. Hal ini justru menjadi semacam blessing in disguise, karena hutan ini menjadi lebih self sustain," jelas Irvan.

Lima tahun kemudian, hutan itu mulai diberdayakan kembali oleh penduduk lokal untuk dijadikan lahan kopi dogiyai. Pengelolanya adalah perkumpulan uskup dan masyarakat yang ada di daerah tersebut.

"Awalnya kopi dogiyai dikenal dengan merek P5, sebuah merek milik keuskupan disana. Nah, kami mau memberikan opsi lain kepada para petani agar tidak hanya menjual kopi ke keuskupan saja. Oleh karena itu, sejak tahun 2016, kami mulai memasok biji kopi dogiyai untuk dijual di gerai-gerai kami di Jakarta," ungkap Irvan.

Dari segi rasa, kopi dogiyai memiliki body yang sangat mild atau tekstur airnya sekental kopi-kopi pada umumnya. Ini merupakan salah satu ciri khas kopi-kopi yang ditanam di lereng-lereng gunung.

"Tingkat acidity dan bodynya medium-lah tidak terlalu asam dan kental. Selain itu juga rasa cacao yang cukup kuat," tukas Irvan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini